Errinto Pardede, Membiakkan Aset Saham dan Ikan Koi

Errinto Pardede, investor saham, dikenal hobi memelihara ikan, seperti ikan Koi. Ratusan ekor ikan dipelihara di akuarium khusus. Jumlah akuariumnya lebih dari hitungan jari. “Saya memelihara ikan-ikan ini dari kecil hingga besar,” ujar Errinto yang mengajak SWA Online berkeliling di rumahnya yang luas dan asri di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan.

Ikan koi berwarna-warni bersliweran di kolam yang berada di halaman depan rumahnya. Errinto mengajak ke bagian belakang rumah dan tampak beberapa akuarium berdinding kaca berjejer rapi. Berbagai jenis ikan di akuarium ini dipelihara oleh pria yang akrab disapa Rinto ini. Ikan Arwana, misalnya, dirawat sejak ukurannya kecil hingga berukuran besar, yakni sepanjang 1,7 meter. Lalu, ia memelihara ikan Toman dan Red Tail Catfish yang berukuran lebih dari 60 cm.

Errinto Pardede. (Foto : Prio Santoso/Majalah SWA).

Rumah orang tua Rinto, demikian pria ini biasa disapa, tergolong luas dan dioptimalkan untuk memelihara hewan peliharaan. Akuarium yang bejejer rapi dan kolam ikan yang bersih ini senantiasa dirawat Rinto atau asisten pembantu rumah tangga di rumahnnya itu. “Saya juga memelihara kelinci,” ucap Rinto yang baru-baru ini menjabat Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan di PT Permodalan Nasional Madani (Persero) ini.

Bagi Pria kelahiran Jakarta, 16 Juli 1973 ini, merawat hewan peliharaan itu menular ke strategi berinvestasi saham. “Hobi memelihara hewan ini memerlukan perawatan rutin dan detil memeriksa kondisi hewan-hewan. Nah, hobi mengembangbiakkan hewan terbawa ketika saya ingin meningkatkan nilai aset di saham,” tutur mantan Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Delta Dunia Makmur Tbk periode 2013-17.

Dia bercerita, asetnya pernah menyusut ketika pasar saham turun sangat dalam pada 2008. Ketika itu, asetnya melorot drastis di saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) “Rugi sekitar puluan juta rupiah lah,” imbuhnya. Dia memulihkan kerugian dan merawat nilai asetnya dengan membeli saham unggulan, misalnya saham BUMN infrastruktur, perbankan, ritel, pertambangan dan tekstil dikoleksi dalam portofolionya. Sebagian besar saham itu adalah saham blue chip.

Rinto juga tak segan-segan membeli saham prospektif di pasar perdana, misalnya ketika membeli saham BUMN properti melaksanakan IPO (initial public offering) di tahun 2015. Ia melepas saham itu ketika harganya naik 30%. Lantas keuntungan ini dibelanjakan saham unggulan lainnya. Bagi Rinto, menjaga aset di saham itu ibarat hobinya memelihara ikan. “Harus dirawat hingga besar,” ia menganalogikan. Tatktik ini meningkatkan nilai asetnya di saham sekitar 10 kali lipat. Guna memudahkan pengelolaan portofolionya ini, Rinto membatasi jumlah saham sebanyak lima saham. Ke depannya, Rinto ingin menggandakan nilai asetnya dengan menambah modal atau meningkatkan raihan capital gain di saham. (*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)