Fee Based Income Tumbuh, Laba Bersih Danamon Rp2,5 Triliun

Danamon berhasil membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp 2,5 triliun untuk sembilan bulan pertama tahun 2016. Terjadi pertumbuhan sebesar 33% dibandingkan Rp 1,8 triliun pada periode yang sama tahun 2015. Laba bersih didorong oleh pertumbuhan fee based income serta biaya operasional dan biaya kredit yang lebih rendah. Fee-based income Danamon naik 9% pada sembilan bulan pertama tahun 2016 dibandingkan setahun sebelumnya menjadi Rp 3,1 triliun.

Rita Mirasari, Direktur Kepatuhan Danamon; Sng Seow Wah, Direktur Utama Danamon; Vera Eve Lim, Direktur dan CFO Danamon, dan Michellina Triwardhany, Direktur Consumer dan SME Banking Danamon pada saat paparan kinerja Danamon sembilan bulan pertama 2016 Rita Mirasari, Direktur Kepatuhan Danamon; Sng Seow Wah, Direktur Utama Danamon; Vera Eve Lim, Direktur dan CFO Danamon, dan Michellina Triwardhany, Direktur Consumer dan SME Banking Danamon pada saat paparan kinerja Danamon sembilan bulan pertama 2016

Pertumbuhan fee income ini didukung oleh kontribusi fee income Adira Insurance yang tumbuh 2% menjadi Rp 656 miliar, cash management yang tumbuh 14% menjadi Rp 244 miliar, serta bancassurance yang tumbuh 19% menjadi Rp 203 miliar.

“Danamon berhasil dalam meningkatkan produktivitas dalam iklim perekonomian lemah yang membatasi permintaan kredit. Kami juga mengelola biaya operasional dan biaya kredit (cost of credit) lebih baik ketimbang tahun lalu,” kata Chief Financial Officer dan Direktur Danamon, Vera Eve Lim.

Sedangkan laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) tumbuh 13% menjadi Rp 6,8 triliun pada sembilan bulan pertama tahun 2016 dibandingkan setahun sebelumnya. Rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio) di sembilan bulan pertama tahun 2016 tercatat sebesar 49,1% dibandingkan 53,7% di periode yang sama tahun 2015. Hal ini didorong oleh peningkatan efisiensi yang berkelanjutan. Biaya operasional turun 6% dibandingkan satu tahun sebelumnya menjadi Rp 6,5 triliun.

Bank memperkirakan kualitas aset akan membaik tahun depan. Biaya kredit telah turun 4% dari Rp 3,5 triliun pada sembilan bulan pertama tahun 2015 menjadi Rp 3,4 triliun pada periode yang sama tahun ini.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)