Alokasikan 20,7% dari Profit, BCA Bagi Dividen Rp 120 per Saham

PT Bank Central Asia Tbk membayarkan dividen untuk tahun buku 2013 sebesar Rp 120 per saham, kepada para pemegang sahamnya. Jumlah ini sama dengan Rp 2,9 triliun atau 20,7% dari keseluruhan profit BCA di 2013. Hal ini sudah disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), yang diselenggarakan pada 7 April 2014, yang salah satunya telah menetapkan penggunaan laba perseroan untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 2013.

“Dividen tunai 2013 akan diperhitungkan dengan dividen interim tahun buku 2013 sebesar Rp 45 per saham atau Rp 1,1 triliun, yang telah dibayarkan perseroan pada 17 Desember 2013, sehingga sisa dividen tahun tersebut tinggal Rp 75 per saham atau Rp 1,8 triliun. Nanti akan ada pengumuman tambahan soal kapan dibayarkannya,” kata Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA.

BCA Jahja

Jahja menjelaskan, kalau pembagian dividen tahun buku 2012 sebesar 23,9%, dengan absolutnya 43,5 dan 71. Sedangkan tahun buku 2013, absolutnya 45 dan 75, tapi persentasenya hanya 20,7%. “Jadi absolut naik, tapi persentase turun. Yang mana ini sudah dijanjikan kepada investor,” imbuhnya.

Dengan 20,7% dari profit yang dibagikan kepada para pemegang saham, maka tersisa 79,3% dari profit BCA yang akan perseroan gunakan untuk menambah permodalan pada tahun ini. “Ini cukuplah untuk menambah modal ke depannya, kan ini persiapan untuk Basel 3. Karena pada Basel 3 kebutuhan modal perbankan akan lebih tinggi lagi. Jadi harus ada counter cyclical, konservasi, dan untuk sistemik. Karena saya yakin bahwa kita adalah salah satu bank sistemik juga kan,” ungkapnya.

Selain soal dividen, RUPST juga memutuskan menerima pengunduran diri salah satu Direktur BCA, Renaldo Hector Barros, yang akan berlaku efektif pada 1 Juni 2014. Kemudian diputuskan bahwa Rudy Susanto yang akan naik menjadi direktur menggantikan Renaldo.

“Alasan pengunduran diri karena beliau (Renaldo) sudah berusia 74 tahun, jadi mungkin sudah cukup lama (kerja di BCA). Karena beliau sudah bersama BCA sejak tahun 1992 sebagai advisor, lalu komisaris, dan jadi direktur. Lalu, resminya Rudy sebagai Direktur pengganti masih menunggu hasil fit & proper oleh OJK, dan akan ditunggu (pengesahannya) paling lambat 1 Juni 2014,” tuturnya.

Selain Rudy, ada Erwan Yuris Ang yang juga ditetapkan sebagai Direktur Independen Perseroan sesuai dengan Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia tanggal 20 Januari 2014 No. Kep-00001/BEI/01-2014. RUPST juga menyetujui Laporan Tahunan Perseroan, mengesahkan Laporan Keuangan, serta memberikan pelunasan dan pembebasan tanggung jawab (acquit et decharge) kepada anggota Direksi dan Dewan Komisaris atas tindakan pengurusan dan pengawasan yang dilaksanakan sepanjang tahun buku 2013.

Di luar pembicaraan soal hasil RUPST, Jahja juga menerangkan bahwa BCA akan mengerem penyaluran kredit konsumsi kepada nasabahnya di tahun ini. Hal tersebut supaya pertumbuhan kreditnya tahun ini tidak melebihi 20%. Yang mana kalau sampai itu terjadi bisa menyebabkan bubble di perekonomian, khususnya di sektor properti. Seperti yang diketahui bahwa BCA adalah salah satu bank yang paling banyak memberikan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) selain BTN.

“Pada kuartal pertama memang permintaan kredit agak melemah, jadi mungkin kita perkirakan akan flat pada saat ini. Mungkin nanti sekitar kuartal tiga atau empat akan naik kembali. Kalau memang seperti target, mungkin sekitar 15% saja pertumbuhan kredit di akhir tahun 2014. Kredit yang kelihatan melambat mungkin kredit konsumen ya, misal KPR. Ini memang sengaja kita lambatkan, misalnya dulu aplikasi 100%, sekarang tinggal 40% saja, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Kalau kredit properti memang harus diredam, karena kalau tidak, harga properti akan tidak karuan. Kenaikan yang tahun lalu sudah abnormal, jadi sekarang harus ditahan. Saya rasa di negara lain, seperti Singapura, juga seperti itu,” paparnya. (EVA)

Leave a Reply

1 thought on “Alokasikan 20,7% dari Profit, BCA Bagi Dividen Rp 120 per Saham”

Saya rasa kondisi indonesia masih jauh dr bubble properti.karena masih diberlakukannya dp dlm transaksi di indonesia.pengereman laju kredit kpr hanya akan mempersulit masyarakat menengah bawah membeli rumah.
by harga ac, 20 Jul 2014, 16:35

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)