Bank Mandiri Berhasil Tumbuh di Tengah Situasi Tak Kondusif

Jajaran direksi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Jajaran direksi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk tetap mencatatkan kinerja keuangan yang positif di tengah kondisi perekonomian global maupun nasional yang tidak kondusif. Pada paparan yang dilakukan perseroan kepada media, di Jakarta, Senin (29/7/2013) sore, disebutkan bahwa bank BUMN ini berhasil memperoleh laba bersih sebanyak Rp 8,3 triliun pada triwulan II 2013. Ada kenaikan sebesar 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Di tengah kondisi perekonomian global dan nasional yang cukup perlu kita berhati-hati saat ini, kinerja keuangan Bank Mandiri triwulan II 2013 masih cukup baik, dan menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan,” terang Budi G Sadikin, Direktur Utama Bank Mandiri.

Budi pun menjelaskan bagaimana kinerja keuangan Bank Mandiri secara ringkas. Mengenai aset, dia menerangkan, aset grup Bank Mandiri meningkat Rp 100,4 triliun. Dari tadinya hanya Rp 571,8 triliun pada Juni 2012, kini mencapai Rp 672,2 triliun per Juni lalu. “Tumbuh 17,6 persen dibandingkan dengan aset kami di triwulan II 2012,” imbuh dia.

Berikut penuturan Budi terkait catatan kinerja keuangan Bank Mandiri per triwulan II 2013.

Seperti apa kondisi penyaluran kredit?

Kredit grup sendiri secara total meningkat Rp 78,3 triliun, atau tumbuh 22,3 persen, menjadi Rp 428,7 triliun.

Catatan terkait laba?

Laba bersih grup Bank Mandiri mencapai Rp 8,3 triliun, atau tumbuh 16 persen dibandingkan triwulan II tahun 2012. Pendapatan ini terutama didukung oleh peningkatan operating income menjadi Rp 23 triliun, tumbuh sebesar 17,8 persen dibandingkan tahun lalu. Operating income yang meningkat ini terutama dikontribusikan dari pendapatan bunga bersih dan premi bersih sebesar Rp 16,5 triliun, dan fee based income sebesar Rp 6,5 triliun.

Selain dari peningkatan operating income atau pendapatan tadi, salah satu hal juga yang berkontribusi positif terhadap pencapaian laba Bank Mandiri sebesar Rp 8,3 triliun, adalah kemampuan perseroan mengendalikan biaya operasional, baik di grup perusahaan Mandiri maupun di anak perusahaan.

Apakah terdapat kenaikan dana murah?

Sejalan dengan salah satu strategi Bank Mandiri untuk terus meningkatkan dana murah, terutama pada kondisi perekonomian sekarang, di mana likuiditas rupiah amat diperlukan, maka sampai dengan triwulan II 2013 dana murah yang berhasil dihimpun perseroan tumbuh sebesar 22,7 persen, atau meningkat hampir Rp 60 triliun, menjadi Rp 319,6 triliun. Sementara itu komposisi dana murah meningkat 135 basis poin menjadi 63,62 persen. Ada peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Seperti apa kondisi indikator keuangan utama lainnya?

Beberapa indikator keuangan utama lainnya menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik dibandingkan tahun lalu. Dana pihak ketiga tumbuh sebesar Rp 84,2 triliun, tumbuh sekitar 20,1 persen, sehingga menjadi Rp 502,4 triliun. Ekuitas Bank Mandiri juga meningkat sebesar Rp 12,4 triliun, tumbuh 18,4 persen menjadi Rp 79,5 triliun.

Peningkatan ekuitas yang cukup signifikan tersebut berasal dari akumulasi laba tahun 2012 dan laba tahun berjalan. Karena peningkatan ekuitasnya cukup tinggi return on equity grup Bank Mandiri turun 79 basis poin menjadi 21,09 persen. NPL gross grup Bank Mandiri membaik sebesar 18 basis poin menjadi 1,89 persen.

CAR mencapai 15,55 persen, atau turun 60 basis poin dibandingkan periode sama tahun lalu karena pertumbuhan kredit yang cukup tinggi. Net interest margin (NIM) meningkat sebesar 10 basis poin menjadi 5,34 persen. Sedangkan, NPL netto tetap dijaga di bawah 1 persen, yaitu 0,47 persen pada Juni 2013. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)