Dwi Aneka Jaya Kemasindo Patok Laba Rp 130 Miliar Tahun Depan

PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo (DAJK), perusahaan yang fokus di bisnis kemasan, mematok angka sebesar Rp 120-130 miliar sebagai target laba di tahun depan. Sedangkan untuk pendapatan, perusahaan berusaha meraih Rp 750-785 miliar. Target ini sesuai dengan kapasitas mesin saat ini.

Witjaksono, Direktur Keuangan DAJK, menjelaskan, target penjualan dan laba bersih di tahun 2014 tersebut belum termasuk rencana aksi korporasi melakukan IPO, yang rencananya digelar pekan kedua bulan Desember mendatang. "Jadi, target tersebut sesuai dengan kapasitas terpasang dari mesin kami saat ini. Belum termasuk IPO," ungkap Witjaksono  di Tangerang.

Adapun hingga Juni 2013, DAJK meraih pendapatan sebesar Rp 185 miliar, dengan laba Rp 43 miliar. Witjaksono mengungkapkan, hingga akhir tahun ini, perseroan berharap dapat meraih laba hingga Rp 80 miliar, sebagai hasil dari penjualan yang ditargetkan senilai Rp 495 miliar.

Menurut Andreas Chaiyadi Karwandi, Presiden Direktur DAJK, peningkatan target pendapatan dan laba karena perseroan berencana untuk meningkatkan kapasitas produksi divisi offset printing dari 36.000 ton per tahun menjadi 76.000 ton per tahun, setara dengan penambahan kapasitas sebesar 111 persen. "Tambahan ini berasal dari pembelian empat mesin baru 6-8 warna dan penggantian mesin lama," sebut Andreas.

Sementara itu, untuk divisi corrugated carton, kapasitas saat ini sebesar 48.000 ton per tahun, meningkat dari 24.000 ton per tahun pada tahun sebelumnya seiring dengan penggantian mesin baru yang sudah mulai berproduksi pada Oktober 2013. "Jadi, kami selalu berupaya upgrade mesin lama jadi baru sehingga kapasitas bisa naik dua kali lipat. Ini sudah kami lakukan dalam tiga tahun terakhir," kata dia. Ekspansi kapasitas ini merupakan langkah perseroan untuk mengantisipasi pertumbuhan sektor barang konsumsi yang merupakan penggerak utama pertumbuhan industri kemasan.

dwi aneka kemasan

Untuk mendukung ekspansi dan rencana bisnis ke depan, khususnya untuk tahun buku 2013-2014, DAJK telah menganggarkan belanja modal sebesar Rp 450 miliar. "Sumber dananya separuh internal, separuh dari hasil IPO nanti. Kami sudah belanjakan Rp100 miliar," tutur Witjaksono.

Dia menambahkan, DAJK juga memiliki kewajiban kepada bank senilai Rp 300 miliar per Juni 2013. Utang tersebut diambil sejak dua tahun lalu, kepada lima bank lokal, yakni Muamalat, BRI Syariah, CIMB Niaga, OCBC NISP, dan Danamon. "Jadi rasio utang kita 1:1. Pasca IPO, kami harapkan sudah bisa dikurangi," imbuhnya.

Perusahaan menaruh harapan besar dari IPO yang bakal dilaksanakan bulan depan. Lantaran peremajaan mesin hingga pembelian mesin baru, juga dari sisi pengembangan desain TI membutuhkan investasi yang besar, karena bersifat jangka panjang. "Harga mesin memang berbeda-beda. Seperti untuk corrugated carton itu buatan Taiwan, harganya sekitar Rp 25 miliar. Sedangkan di offset printing rata-rata buatan Jerman, harganya ada yang sampai Rp 40 miliar. Kalau software desain itu kami beli seharga Rp 2 miliar. Jadi, kalau ada software terbaru, kami langsung beli," papar Witjaksono.

Sepeti diketahui, DAJK memiliki dua divisi, corrugated carton dan offset printing, yang keduanya memasok produk-produk kemasan ke berbagai industri. Sektor penggerak utama perseroan adalah permintaan kemasan dari sektor makanan dan minuman, telekomunikasi, dan kosmetik.

"Sektor makanan dan minuman ada di urutan pertama. Kalau di corrugated carton dia bisa melayani permintaan hingga 70 persen, dan offset printing 40 persen," katanya.

Sejauh ini DAJK telah mempunyai sekitar 200 konsumen. Beberapa merek ternama merupakan perusahaan-perusahaan besar di Indonesia baik dalam industri makanan minuman, telekomunikasi, serta farmasi telah menjadi pelanggan setia DAJK. Di mana sebagian besar pelanggan perseroan telah memiliki hubungan bisnis sepanjang lebih dari sepuluh tahun. Beberapa diantaranya adalah kemasan Tango dan Tora Bika.

Andreas pun menambahkan, DAJK tengah menjajaki ekspansi lokasi pabrik ke wilayah Subang dan Purwakarta. "Realisasinya mungkin di
2015. Itu karena banyak perusahaan besar sudah mulai bangun pabrik di Purwakarta, kemudian di Subang ada pelabuhan baru. Jadi, ini membuat kami lebih efisien," katanya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)