Harga Batu Bara Pulih, Segmen Alat Berat Astra Meroket 104%

Laba bersih PT Astra International Tbk dari segmen alat berat dan pertambangan mengalami peningkatan pada kuartal-I 2017 sebesar 104% (YoY) menjadi Rp 902 miliar dari Rp 442 miliar pada periode yang sama tahun 2016.

Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk

PT United Tractors Tbk, yang 59,5% sahamnya dimiliki Grup Astra melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 105% menjadi Rp 1,5 triliun, disebabkan oleh peningkatan volume bisnis pada mesin konstruksi, kontraktor penambangan dan kegiatan pertambangan, yang seluruhnya mendapatkan keuntungan dari peningkatan harga batu bara.

“Pada kuartal pertama 2017 harga komoditas seperti kelapa sawit dan batu bara membaik sehingga animo pembelian alat berat meningkat. Pemulihan harga batu bara yang signifikan menguntungkan volume penjualan alat berat dan pertambangan,” kata Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk di Jakarta, (20/4).

Pada segmen usaha mesin konstruksi, volume penjualan alat berat Komatsu mengalami peningkatan sebesar 70% menjadi 847 unit, dimana pendapatan dari suku cadang dan jasa perbaikan juga meningkat. PT Pamapersada Nusantara (PAMA), anak perusahaan UT di bidang kontraktor penambangan batu bara, mengalami peningkatan produksi batu bara sebesar 2% menjadi 25 juta ton, sementara peningkatan kontrak pengupasan lapisan tanah (overburden removal) meningkat sebesar 3% menjadi 171 juta bank meter kubik. Anak perusahaan UT dalam bidang pertambangan melaporkan peningkatan penjualan batu bara sebesar 9% menjadi 1,9 juta ton.

PT Acset Indonusa Tbk, perusahaan kontraktor umum yang 50,1% sahamnya dimiliki UT, melaporkan peningkatan laba bersih sebesar 63% menjadi Rp 31 miliar dan mencatat penambahan kontrak baru senilai Rp 6,9 triliun sepanjang kuartal pertama tahun 2017, dibandingkan Rp 2,4 triliun yang berhasil diterima pada kuartal pertama tahun 2016.

Pada bulan Maret 2017, Bhumi Jati Power, yang 25% sahamnya dimiliki oleh UT dan akan mengembangkan serta mengoperasikan pembangkit listrik tenaga uap berkapasitas 2×1.000 MW di Jawa tengah, telah menyelesaikan perjanjian pendanaan proyek dengan para kreditur. Proyek BOT (build, operate and transfer) ini diperkirakan menelan biaya sekitar US$ 4,2 miliar dan direncanakan akan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2021. Bhumi Jati Power merupakan perusahaan patungan bersama antara anak usaha UT, Sumitomo Corporation dan Kansai Electric Power Co Inc.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Analis : Laba Bersih ASII Melampaui Konsensus

Laba bersih PT Astra International Tbk (ASII) pada kuartal I/2017 senilai Rp 5,08 triliun. Angka itu melejit 63% dibandingkan periode...

Close