ITM Pecahkan Rekor Laba Meski Reserve Nyaris Habis

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITM) tahun 2011 mencatat pendapatan bersih terbesar sepanjang 5 tahun terakhir yaitu US$ 546 juta. Dibandingkan periode yang sama di tahun 2010, terjadi peningkatan hingga 168 persen. Meski pendapatan naik, ITM hanya menargetkan peningkatan produksi 8 persen dari 25 juta ton menjadi 27 juta ton tahun ini.

Naiknya pendapatan bersih ITM didorong oleh kenaikan penjualan bersih 45 persen. Tahun 2010 penjualan bersih ITM hanya US$ 1,645 juta. Di tahun 2011, ITM membukukan penjualan bersihnya hingga US$ 2,382 juta. Peningkatan tersebut disebabkan peningkatan volume penjualan dan harga jual rata-rata batubara yang lebih tinggi. Volume penjualan ITM 2011 adalah 24,7 juta ton, naik 11 persen dari 22,1 juta ton. Harga jual rata-rata batubara pun naik hingga 30 persen dari US$ 74,9 per ton menjadi US$ 97,1 per ton.

Kenaikan penjualan bersih ITM ternyata juga mengangkat EBIT 95 persen dari US$ 363 juta pada tahun fiskal 2010 menjadi US$ 707 juta di tahun buku 2011. Angka ini menutupi kenaikan beban operasi sebesar 19 persen dari US$ 155 juta menjadi US$ 185 juta.

Meskipun ITM sukses memecahkan rekor labanya, namun tidak semua tambang memperoleh prestasi yang sama. Hal ini dapat dilihat dari kenaikan target produksi ITM yang hanya 8 persen. Tambang di Jorong, misalnya, ditargetkan mampu memproduksi 1 juta ton di tahun 2012. Padahal tahun 2011 Jorong mampu memproduksi 1,4 juta ton batubara

"Perseroan biasanya menaikkan 10 persen. Tahun ini hanya 2 juta karena reserve Jorong akan habis," papar Direktur ITM, Edward Manurung dalam Investor Day 2012 di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Tak hanya Jorong, target produksi PKS Kitadin-Embalut pun mengalami penurunan. Pongsak Thongampai, Direktur ITM menimpali, "Embalut juga turun. 2011 produksinya 1,3 juta ton, tahun ini kita menargetkan 700 ribu ton." Target produksi Embalut turun karena sulitnya kondisi lokasi tambang dan kompensasi lahan di area tambang.

Tambang Trubaindo adalah satu-satunya PKS ITM yang ditargetkan tetap memproduksi 7,1 juta ton. Produksinya tahun 2011 memang dibawah target. Hal tersebut dikarenakan kapasitas coal stockyard Trubaindo yang sudah penuh akibat runtuhnya jembatan Kutai Kartanegara.

Tahun ini, rencana belanja modal (capex) ITM sebesar US$ 209 juta termasuk untuk kantor pusat Jakarta. Rencananya, US$ 108 juta capex akan digunakan untuk pengembangan pelabuhan Crushing plant dan Washing plant di Indominco. Sebanyak US$ 80 juta dari capex juga akan digunakan untuk infrastruktur Trubaindo Crushing plant. Sisa capex rencananya digunakan untuk Bharinto US$ 9 juta, Kitadin US$ 6 juta, dan Jorong US$ 2 juta. Hingga kuartal pertama, capex ITM yang telah terealisasi sebesar US$ 15 juta.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)