Jelang Lebaran, Penjualan Trisula Capai Rp400 Miliar

PT Trisula International Tbk (TRIS), operator merek baju lokal dan produsen pakaian jadi merek terkenal, berhasil merealisasikan penjualan di kisaran 50%  atau sekitar Rp 400 miliar dari total terget penjualan 2014 yang sebesar Rp800 miliar.

"Kami belum bisa disclose hasil triwulan II/2014, tetapi kalau secara persentase kurang lebih sudah 50% dari target penjualan Trisula hingga semester I/2014," ungkap Direktur Ritel Trisula, Rudolf Simarmata.

Dalam kesempatan yang sama, Trisula mengumumkan rencana perseroan untuk mengakuisisi 85% saham Mido Uniform Pte Ltd milik Trisula Corporation Pte Ltd yang berdomisili di Singapura. Nilai akusisi ditaksir sekira Rp23 miliar.

(ki-ka) Lisa Tjahjadi, Presdir Trisula dan Rudolf, (ki-ka) Lisa Tjahjadi, Presdir Trisula dan Rudolf Simarmata, Direktur Ritel Trisula

Mido Uniform Pte Ltd adalah perusahaan marketing yang memasarkan produk-produk pakaian seragam dan aksesoris untuk pasar Singapura dan regional. "Dengan akuisisi ini, kami tidak hanya menambah portofolio, tetapi juga mendorong ekspansi bisnis ke regional. Misalnya masuk ke pasar Makau dan sekitarnya,"Rudolf menambahkan.

Itulah sebabnya Rudolf menegaskan, hingga akhir tahun 2014 nanti Mido Uniform bisa menyumbang penjualan TRIS di kisaran 6%, atau Rp48 miliar dari total target penjualan 2014 yang sebesar Rp800 miliar. Sementara kontribusi ke kenaikan laba diperkirakan sebesar 10%, atau menjadi Rp35 milliar.

"Kalau untuk 3 tahun ke depan, proyeksi kami atas kinerja Mido Uniform memang diharapkan terus membaik.  Mungkin sama seperti orientasi persentase 20% growth rate untuk semua lini bisnis," ungkap Rudolf.

Selain akuisisi Mido Uniform, TRIS juga mendapatkan hak sebagai exclusive distributor sebuah merek ternama yaitu “Hallmark” untuk produk “bed and bath” di Indonesia.

Rudolf menjelasakn, Hallmark diakuisisi dari bisnis yang sudah berjalan di Indonesia. "Hallmark sudah ada di market yakni di dua lokasi Metro Deprtement Store. Pengembangannya nanti mau dibawa ke independent shop, dan department store," kata dia.

Pengembangan Hallmark tahun ini, lanjut Rudolf, akan ada di 5 lokasi, selain dua lokasi yang sudah ada. "Dengan proses fixed asset yang sudah ada, kemudian ditambah lagi di 5 lokasi, mungkin kami habiskan sekitar Rp5-6 miliar, termasuk initial invest untuk take over Hallmark," jelas Rudolf.

Rudolf menambahkan, sejauh ini Hallmark sudah hadir di pasar Malysia, Singapura, Vietman dan Taiwan. "Jadi kami jajaki market Indonesia. Tidak tutup kemungkin masuk pasar regional," ungkapnya.

Ke depan, TRIS juga akan mengakuisisi merek baru, namun Rudolf belum bersedia membeberkan bocoran merek dimaksud.

Momen Pilpres & Lebaran

Rudolf juga mengungkapkan bahwa ada fenomena yang menarik terkait penjualan TRIS sepanjang pesta demokrasi tahun ini. Ada perubahan signifikan dari tahun-tahun politik sebelumnya yang berdampak positif ke penjualan rietail TRIS, menjadi berkurang di tahun ini.

"Ada yang beda. Biasanya di tahun politik lebih banyak order dari instansi, korporasi. Sekarang berkurang. Mungkin takut dengan monitoring penegak hukum yang ketat," pungkas Rudolf.

Namun dia menegaskan, indikator tersebut tidak begitu berpengaruh ke total penjualan. Karena yang terjadi, kata dia, hanya pergeseran customer profile dari pemesanan uniform.

Begitu juga dengan penjualan selama Lebaran. Produk man wear terlihat tinggi penjualannya di satu minggu sebelum Lebaran. Sebelumnya, grafik minggu pertama bulan puasa didominasi penjualan pakaian anak-anak, dan di minggu kedua didominasi kebutuhan kelompok ladies.

"Tidak ada terget khusus. Penjualan Idul Fitri-Natal sudah diperhitungkan dalam target penjualan Rp800 miliar," jelas Rudolf.

Sementara terkait fluktuasi nilai tukar, ada posisi berimbang terhadap penjualan TRIS, mengingat perseroan mempunyai dua sektor yakni manufkturing dan retail. Manufacturing income-nya dalam bentuk US$, tetapi ritel yang ada produk impor yang penjualanya dalam kurs Rupiah tentu tidak untung.

"Jadi kombinasi. Tetapi tentu ada dampak kenaikan harga jual di ritel. Harga naik untuk jaga margin. Tetapi 70% purchasing lokal produk, sehingga tidak terlalu memberatkan," Rudolf menjelaskan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)