BTN Mampu Tampilkan Kinerja di Atas Rata-Rata

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mencatatkan kinerja cukup memuaskan selama kuartal I-2015. Aset perseroan tumbuh 9% dibanding realisasi triwulan I-2014 menjadi Rp 149,2 triliun. Pada periode yang sama, penyaluran kredit tumbuh dari Rp 102,8 triliun menjadi Rp 120,1 triliun. Sementara, penghimpunan dana pihak ketiga tumbuh 7% menjadi Rp 109,5 triliun. “Kredit yang diberikan BTN tumbuh di atas rata-rata perbankan yang berada di kisaran 12%,” kata Direktur Utama BTN Maryono di Jakarta, Senin (27/4).

Menurut dia, laju penghimpunan dana masyarakat memang tidak terlampau kencang karena perseroan lebih mengutamakan penghimpunan dana menengah-panjang untuk menyesuaikan bisnis perseroan yang lebih banyak menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR). Perseroan baru saja menerbitkan Negotiable Certificate of Deposit (NCD) yang merupakan dana menengah/panjang sebesar Rp 1,5 triliun dengan bunga 8,75%. “Kami mulai mengurangi porsi dana jangka pendek dan mahal. Porsi deposito terus dikurangi dari total DPK. Pertumbuhan dana giro meningkat paling tinggi yakni 28%,” katanya.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Maryono (Foto: IST) Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Maryono (Foto: IST)

Harapannya, lanjut Maryono, perseroan dapat mencapai target laba sebesar 40% dari realisasi tahun lalu menjadi Rp 1,6 triliun. Hingga kuartal I-2015, perseroan telah meraih laba bersih sebesar Rp 402 miliar, naik 18% dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp 341 miliar. Pertumbuhan laba selama tiga bulan pertama tahun ini juga ditopang menurunnya biaya dana (cost of fund). Tekanan likuiditas juga tak seketat di periode yang sama tahun lalu.

“Raihan laba sekarang sudah mencapai 90% dari target laba kami. Apalagi nantinya ekspansi kredit juga akan meningkat terutama dengan program 1 juta rumah dan recovery dari kredit yang bermasalah,” ujarnya.

Kenaikan laba emiten berkode saham BBTN ini ditopang pertumbuhan kredit yang mencapai 17% dibanding kuartal I-2014 menjadi Rp 120 triliun. Pada periode yang sama, perseroan meraup pendapatan bunga bersih sebesar Rp 1,5 triliun, tumbuh 8% dari Rp 1,4 triliun. Penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) masih mendominasi komposisi pinjaman di perseroan atau sebesar 88,99% dengan nilai Rp 106,9 triliun. Sisanya, sebanyak 11% atau senilai Rp 13,22 triliun pinjaman disalurkan untuk pembiayaan kredit nonperumahan.

“Raihan kinerja ini merupakan sejarah baru untuk perusahaan. Ini perlu digarisbawahi oleh tim pemasaran. Meski begitu, kami tidak buru-buru mengubah target-target yang tercantum dalam rencana bisnis bank (yang diberikan ke Otoritas Jasa Keuangan),” ujarnya.

Menurut Maryono, BTN kini tengah berupaya menurunkan rasio kredit bermasalah yang mencapai 4,7% per Maret 2015. Perseroan kini tengah mengupayakan restrukturisasi kredit yang bermasalah, termasuk melalui penjualan lewat lelang. Proses restrukturisasi telah berlangsung selama tiga bulan terakhir. Harapannya, kredit yang bermasalah itu sudah berubah menjadi kredit dalam kategori lancar di kuartal II-2015.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)