Kinerja Kuartal I, Efisiensi Hasilkan Laba bagi Indika Energy

PT Indika Energy Tbk kian gencar melakukan program efisiensi untuk memulihkan kinerja keuangan. Perseroan dalam empat tahun terakhir ini dibekap kerugian lantaran harga batu bara menyusut drastis. Di kuartal I tahun ini, performa bisnis emiten berkode INDY ini terangkat karena ditopang keberhasilan program efisiensi dan peningkatkan harga batu bara. Perseroan mengurangi biaya operasional, menstabilkan kegiatan operasional, meningkatkan efisiensi, menjaga cadangan kas, mengurangi utang, dan selektif mengucurkan belanja modal (capital expenditure/capex) .

Contohnya, realisasi capex tahun lalu senilai US$ 22 juta, atau lebih rendah dari US$ 58,7 juta di tahun 2015. “Kami menggunakan capex yang kritikal, artinya capex digunakan untuk kebutuhan yang penting, sedangkan yang kebutuhan yang ditunda tak perlu menggunakan capex,” ujar Direktur Utama Indika Energy, Arsjad Rasjid, di Jakarta, pada Kamis (27/1/2017). Adapun, capex pada 2017 dianggarkan US$ 88,1 juta. “Realisasi capex tahun ini kami perkirakan sekitar US$ 80 juta,” ungkapnya. Proyeksi yang lebih rendah dari target yang dianggarkan itu merupakan bagian dari program efisiensi di tahun ini.

Direksi PT Indika Energy Tbk. (Foto : Vicky Rachman/SWA).

Beragam program efisiensi telah mengangkat kinerja keuangan perseroan di kuartal I/2017. Pendapatan Indika Energy di Januari-Maret 2017 sebesar US$ 222,5 juta, naik 14% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (US$ 195 juta). Pada periode yang sama laba kotor naik 35%, menjadi US$ 28,3 juta dari US$ 20,9 juta. Laba usaha tumbuh menjadi US$ 8,5 juta dari rugi usaha US$ 6,4 juta. Salah satu faktor penting yang menyebabkan peningkatan laba itu adalah turunya beban umum dan administrasi sebesar 28%, menjadi US$ 19,7 juta dari US$ 27,3 juta. “Pengurangan biaya dan efisiensi yang signifikan telah kami lakukan sejak dua tahun lalu. Perolehan laba kotor dan laba usaha adalah indikator dari upaya kami turnaround bisnis kami,” papar Arsjad.

Laba bersih turut terdongkrak menjadi US$ 22,1 juta. Pencapaian itu melampaui kinerja di kuartal III/2016 yang rugi bersih senilai US$ 4,9 juta. Perseroan menjaga momentuf positif ini dengan meningkatkan produktivitas, pengendalian biaya, stabilisasi operasi sekaligus menjajaki peluang bisnis dengan cermat di masa mendatang. “Kami sudah memulai menggarap energi terbarukan dalam skala terbatas, yakni energi solar,” kata Arsjad

Lantaran begitu, Indika Energy optimistis menatap tahun ini sebagai tahun pertumbuhan bisnis. Manajemen perusahaan tetap memantau risiko bisnis yang diakibatkan fluktuasi harga batu bara. Di tahun 2011, harga batu bara mencapai puncaknya di sekitar US$ 105 per ton, karena tingginya permintaan terutama dari China. Kemudian, permintaan batu bara dari China anjlok sehingga memicu penurunan harga batu bara di pasar internasional. Harga batu bara mencapai titik terendah di bawah US$ 50 per ton di 2016. Menurut Arsjad, perusahaan memperkirakan kinerja kuangan di sepanjang tahun ini akan mencetak keuangan positif apabila asumsi harga rata-rata batu bara bertahan di level US$ 80/ton. Di tahun lalu, Indika Energi masih merugi US$ 67,6 juta.

PT Kideco Jaya Agung, anak usaha INDY, adalah produsen batu bara yang memiliki tambang seluas 50.921 hektar di Kalimantan Timur dan memiliki kontrak karya pertambangan hingga 2023. Kideco mengoperasikan 5 tambang terbuka batu bara dengan perkiraan cadangan 651 juta ton. Produksi batu bara Kideco pada 2017 diproyeksikan sebanyak 32 juta ton. Angka itu sama dengan volume produksi di tahun lalu. Harga saham Indika Energy pada Kamis bercokol di level Rp 750, melonjak 7,14% dari perdagangan sehari sebelumya di Rp 700. (*)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)