Laba Bersih SMF di Kuartal III Mencapai 75% dari Target

Laba bersih PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF pada kuartal III/2016 diproyeksikan akan mencapai 75% dari target laba bersih di tahun ini sebesar Rp 299 miliar. Pada semester I tahun ini, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 165,47 atau 55,3% dari target. “Laba bersih kuartal III akan mencapai 75% dari target laba bersih tahun ini, semoga target ini tercapai,” ujar Direktur Keuangan dan Risiko SMF, Trisnadi Yulrisman, di Semarang, Jawa Tengah, pada pekan lalu.

SMF hingga Juni 2016 telah membukukan pendapatan sebesar Rp 464 miliar yang bersumber dari pendapatan bunga senilai Rp 462,7 miliar yang terbagi dari penyaluran pinjaman Rp 375,78 miliar dan penempatan dana sebesar Rp 87 miliar Kemudian perseroan membukukan pendapatan sekuritisasi sebanyak Rp 1,1 miliar dan pendapatan lain-lain Rp 232 juta. Pencapaian itu sejalan dengan mulusnya bisnis perusahaan di pembiayaan sekunder perumahan.

SMF bergerak di bidang pembiayaan sekunder properti yang mencakup sekuritisasi untuk memfasilitasi transaksi sekuritisasi atas tagihan KPR milik lembaga penyalur KPR dan menyediakan fasilitas pembiayaan sumber dana untuk jangka menengah atau jangka panjang di pasar modal bagi lembaga penyalur KPR. Untuk itu, SMF akan menerbitkan obligasi sebagai sumber pendanaan dalam memberikan pembiayaan ke penyalur KPR.

Pada kesempatan yang sama, Ananta Wiyogo, Direktur Utama SMF, menyebutkan pihaknya akan berencana menerbitkan obligasi sebesar Rp 1,17 triliun. Penerbitan obligasi ini guna mendukung pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada 2017.SMF memberikan pembiayaan sekunder kepada lembaga keuangan yang menyalurkan KPR ke nasabah. Penerbitan obligasi merupakan salah satu cara perusahaan mendapatkan dana untuk mengganti penyaluran pembiayaan yang sudah dilakukan kepada 19 lembaga keuangan bank dan non bank. Rencananya, penerbitan obligasi akan diumumkan pada pekan ini. Bunga yang ditawarkan perseroan kepada investor sebesar 8,6%. "Sebagian besar target investornya institusi, yakni dana pensiun, atau asuransi,"kata Heliantopo, Direktur SMF.

Ananta Wiyogo (tengah), Direktur Utama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) di Semarang, Jawa Tengah, Jum'at 23 September 2016. (Foto : Vicky Rachman/SWA) Ananta Wiyogo (tengah), Direktur Utama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) di Semarang, Jawa Tengah, Jum'at 23 September 2016. (Foto : Vicky Rachman/SWA)

Penerbitan obligasi ini akan meningkatkan kapasitas pembiayaan SMF yang setiap tahunnya ditargetkan tumbuh hingga 20%. Hingga Juni 2016, SMF memiliki outstanding pinjaman sebesar Rp8,4 triliun dengan posisi surat utang mencapai Rp 6,2 triliun. Lebih lanjut, Ananta menjelaskan perusahaan di tahun 2017 menargetkan untuk melakukan sekuritisasi KPR bank-bank BUMN di tahun 2017 guna meningkatkan penyaluran dana pembiayaan perumahan. “Selain BTN dan Bank Mandiri, kami ingin target sekuritisasi di seluruh bank-bank BUMN lainnya," ucap Ananta. Perseroan membidik kerjasama ini dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Perser) Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Adapun, target sekuritisasi SMF tahun 2016 ialah sebesar Rp 2 triliun. Saat ini, sekuritisasi yang dijual di pasar modal adalah KPR Bank Mandiri senilai Rp 500 miliar. Ananta optimistis perseroan mampu memenuhi target sekuritisasi senilai Rp 2 triliun lantaran akan merealsiasikan rencana sekuritisasi KPR BTN sebesar Rp 1,17 triliun yang akan direalisasikan dalam waktu dekat ini.

Produk Baru

Guna mendukung bisnis SMF, perseroan telah mrilis aplikasi Housing Financing System dan berencana menerbitkan KPR Sejahtera SMF, produk pembiayaan perumahan yang menyasar segmen kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang belum digarap KPR perbankan. Ananta Wiyogo mengatakan KPR Sejahtera SMF akan dijual ke bank penyalur KPR dan lembaga pembiayaan. Rencananya, debitur yang dibidik memiliki penghasilan dengan kisaran Rp 4 juta -Rp 8 juta per bulan. "Kami menyasar debitur yang layak tapi unbankable," ungkap Ananta.

Produk baru yang akan diluncurkan pada Januari 2017 tersebut direncanakan akan menggandeng empat bank pembangunan daerah, yaitu BPD Sumut, BPD Sultra, BPD NTB, dan BPD Jateng. Ke depannya, perseroan akan menggandeng seluruh BPD sebagai pihak yang akan diikutsertakan dalam menyalurkan KPR Sejahtera SMF. "Harga rumah yang akan diberikan dalam KPR Sejahtera SMF berkisar Rp 300 juta. Suku bunga serta tenor belum ditentukan besarannya, namun perseroan mengindikasikan tak jauh berbeda dengan bunga KPR bank non-FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan). “Kami masih mengkaji bunga dan tenor KPR Sejahtera SMF,” Ananta menambahkan. Di sisi lain, perseroan akan mendapat Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp 1 triliun pada 2017 untuk mendukung program FLPP. Ananta mengestimasikan angka kebutuhan rumah dari penambahan jumlah penduduk dan kebutuhan rumah mencapai 1,46 juta per tahun. (*)

 

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)