Len Industri Bidik Pendapatan Rp5,79 Triliun Tahun 2019

Total pendapatan konsolidasi PT Len Industri (Persero) hingga Triwulan III 2018 sebesar  Rp 3,43 triliun berhasil melampaui target yang direncanakan tahun sebelumnya dipatok Rp 2,88 triliun. Pendapatan yang diraih dari proyek-proyek carryover tahun 2017 tersebut naik 118,75%.

Di tengah kondisi ekonomi yang belum kondusif tahun ini, PT Len Industri (Persero) justru mencatat kinerja positif di Triwulan III/2018. Seperti diketahui pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2018 masih di kisaran 5,0-5,4% dan nilai tukar Rupiah yang masih belum stabil terhadap US$  membuat kondisi makin berat.

Walau demikian, perolehan total pendapatan konsolidasi Len Industri hingga Triwulan III/2018 melampaui target yang direncanakan di 2017. Perolehan total pendapatan konsolidasi hingga Triwulan III 2018, merupakan pendapatan yang berasal dari proyek-proyek carryover tahun 2017 tahun sebelumnya dan proyek-proyek baru dengan nilai total sebesar Rp 3,43 triliun. Angka ini naik 118,75% dari target Rp 2,88 triliun di periode yang sama 2017.

Menurut Ir. Priadi Ekatama Sahari, MBA, Direktur Keuangan & SDM Len Industri, lini bisnis railway transportation menyumbang paling besar pendapatan total Len Industri sebesar 69,84% atau senilai Rp 2,39 triliun. Penyumbang kedua pendapatan Len Industri berasal dari ICT 11,01% atau senilai Rp 377,27 miliar, kemudian Defence Electronics 10,31% Rp 353,22 miliar, Navigasi Rp 60,98 miliar dan lain-lain Rp21,29 miliar,” jelasnya. Laba bersih perusahaan hingga Triwulan III/2018 mencapai Rp 90,421 miliar atau sebesar 100,07% dibanding targetnya sebesar Rp 90,360 miliar.

Priadi  memaparkan, untuk bisnis Railway Transportation realisasi pendapatan tersebut diantaranya diperoleh dari proyek carry over Skytrain Bandara Soetta, LRT Palembang, LRT DKI (Jak Pro), Pembangunan Persinyalan Kroya-Kutoarjo, Binjai-Besitang, Madiun-Kedungbanteng, Prabumulih Kertapati, Martapura Baturaja, Bandar Tinggi–Kualatanjung, Solo Jebres Kedungbanteng, serta proyek-proyek lainnya.

Sedangkan penyumbang pendapatan kedua, a di  lini bisnis ICT tercapai sebesar Rp 377,265 miliar naik dari yang ditargetkan sebelumnya Rp 371,074 miliar. Realisasi pendapatan tersebut diperoleh dari proyek carry over palapa ring paket tengah, proyek-proyek baru seperti Retail E-Ktp, dan KTP-El Reader serta proyek baru lainnya.

Kemudian, untuk lini bisnis Renewable Energy yang nilainya Rp 220,348 miliar naik atau 86,87% dari yang ditargetkan sebesar Rp 253,667 miliar.  Pendapatan tersebut diperoleh dari penjualan energy IPP Kupang, pendapatan proyek Sewa daya PLTS Kominfo, Installasi serta Pengiriman dan Sewa BTS Kominfo, PLTS Pertamina, PLTS PLN, serta Retail Modul Surya, serta PLTS daerah dan swasta.

Pendapatan dari lini bisnis Defense Electronic hingga Triwulan III/2018 sebesar Rp 353,22 miliar sedangkan dianggarkan sebelumnya Rp 389,820 miliar. Realisasi pendapatan tersebut diperoleh dari proyek-proyek carry over seperti starstreak I, Starstreak Indonesia, Siskodal (Leopard 2), dan proyek-proyek baru lainnya.

Realisasi perolehan kontrak baru atas penjualan proyek dan produk manufaktur Len Industri hingga Triwulan III/2018 nilainya menembus Rp1,56  triliun. Realisasi total beban usaha perusahaan tercatat Rp 224,079 miliar naik 112,11% terhadap anggaran perusahaan yang besarnya Rp 199,87 miliar. Kenaikan yang cukup signifikan tersebut dipengaruhi oleh adanya alokasi cadangan pembebanan impairment persediaan proyek TITO sebesar Rp 40,26 miliar.

Total aset perusahaan yang terealisasi hingga Triwulan III/2018 sebesar Rp7,16 triliun atau 135,03% di atas anggaran yang sebesar Rp5,30 triliun. Sedangkan ekuitas perusahaan sebesar Rp  829,55 miliar atau sebesar 116,86% terhadap anggaranr Rp709,85 miliar.  Dari investasi yang dianggarkan hingga Triwulan III/2018 sebesar Rp 305,09 miliar telah direalisasikan Rp 87,41 miliar atau 28,65% dari anggaran.

Peluang Bisnis Tetap Ada

Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar selama triwulan III/2018 secara langsung memengaruhi kinerja keuangan seiring cukup banyaknya konten impor dalam penyelesaian proyek-proyek yang ditangani. Kondisi tersebut pun berdampak terhadap keikutsertaan dalam proses lelang proyek-proyek terlebih dengan tingkat persaingan yang ketat.

Namun peluang tetap ada, terutama di renewable energi, perusahaan meraih pelelangan proyek Lampu Tenaga Surya hemat Energi di Kementerian ESDM yang mensyaratkan pabrikan yang boleh mengikuti pelelangan berdampak cukup besar terhadap target pasar perusahaan yang menjalankan EPC (Engineering, Procurement and Construction).

Peluang lain yang berhasil digarap Len Industri pada skema bisnis managed service yang ditawarkan Kementerian Kominfo cukup memberikan angin segar kepada perusahaan dalam upaya mengembangkan bisnis PLTS selama tahun 2018.  Kemudian, tindak lanjut program pemerintah atas pembangunan urban transport (LRT dan Sky train) yang dicanangkan sejak tahun 2017 memberikan peluang potensi pasar lainnya terutama di kota besar lain, hal ini akan terus berlanjut hingga tahun 2019 sesuai dengan rencana program pemerintah dalam pemerataan dan pembangunan urban transport khususnya dalam pembangunan jalur kereta api.

Peluang pendapatan juga diraih perusahaan dari pembangunan maintenance facility serta operation & maintenance atas moda transportasi kereta api ringan (LRT & sky train) yang telah dibangun menjadi peluang besar lainnya bagi perusahaan dalam memperkuat pengalaman dan kompetensi perusahaan dalam bidang tersebut.

Realisasi belanja modal di Kementerian Pertahanan selama triwulan III/2018 belum memberikan kontribusi perolehan kontrak baru untuk lini bisnis Defense electronics. Pergeseran jadwal lelang serta relokasi anggaran ke tahun 2019 secara langsung berpengaruh terhadap kinerja usaha hingga Triwulan III/2018.

Peluang bisnis dalam bidang ICT dan Financial Technology sampai dengan triwulan III/2018 masih cukup menjanjikan. Peluang-peluang digitalisasi sistem serta penggunaan uang elektornik (e-money) di beragam usaha baik perbankan, tol, moda transportasi dan lainnya terus dijajaki. Selama triwulan III 2018 proses proof of Concept (PoC) kepada calon pelanggan atas keunggulan sistem yang ditawarkan masih terus dijalankan perusahaan.

Untuk lini Bisnis Navigation system, pertumbuhan market share yang stagnan seiring dengan sangat tingginya tingkat persaingan, namun dengan adanya peluang sinergi antar BUMN dalam proyek kebandaraan memberikan angin segar bagi potensi pertumbuhan bisnis ini. Antaranya dengan adanya potensi perolehan proyek atas pekerjaan airside dan landside pembangunan Bandara Kulon Progo.

Persiapan dan usaha-usaha untuk menangkap peluang pasar proyek-proyek APBN yang mulai direalisasikan anggarannya dan mendapatkan kontrak dari peluang Non APBN merupakan fokus kegiatan dalam bidang Pemasaran, Penjualan, dan Pengembangan Bisnis Investasi sampai dengan Triwulan III 2018.

Hingga Triwulan III/2018 Len Industri juga  telah menggarap dua peluang pengembangan bisnis investasi. Pertama, berupa penjajakan proposal dan skema pendanaan atas proyek-proyek urban railway transportation (LRT medan, LRT Denpasar, sky train Angkasa Pura I). Kedua, menindaklanjuti  kerja sama transfer of technology dan tranfer manufacturing produk-produk persinyalan yang telah dicadangkan sejak 2017.

“Sampai akhir 2018 diperkirakan pendapatan Len Industri akan mencapai Rp.4,95 triliun dengan laba bersih Rp 120,64 miliar,” ungkapnya. Hal ini mengingat ada beberapa proyek besar yang sedang digarap Len Industri. Proyek-proyek besar yang sedang berjalan di 2018: LRT Palembang, APMS tahap II, LRT Jabodebek, dan Naval Gunnery Range. Dan ada beberapa proyek di Q4/2018 yang juga sedang digarap yaitu Revitalisasi Perkeretaapian Jabodebek, Pekerjaan Land Side Bandara Kulon Progo, Pengadaan Seat Management BRI, Starstreak III, Alins Alongins, Proyek PLTS (EBTKE, BUMN, & Kominfo).

Menurut Priadi, proyeksi pendapatan tahun depan akan tercapai Rp 5,79 triliun dengan laba bersih diproyeksikan akan mencapai Rp 184,05 milyar,” katanya optimistis.  Ini dikarenakan Len Industri dipercaya menggarap beberapa proyek penting di negeri ini. Di lini bisnis Railway Transportation ada LRT Jabodebek dan LRT Jakarta, lalu jalur Makasar Pare-Pare, LRT Medan, LRT Bali, serta Servo Rail. Lalu di lini bisnis Defence penggarap produk Tactical Data Link, Alkom Pos Tembur, Alkom Posal dan Sewaco. Di bisnis Renewable Energy ada peluang bisnis di PLTS daerah, EBTKE, BUMN, dan Kominfo. Dan peluang di bisnis ICT & Navigasi ada O&M Palapa Ring, Radar Cuaca, Monitoring Seismic, serta Sistem Processing INA TEWS.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

 

 

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)