Meski Industri Multifinance Lesu, Adira Finance Cetak Laba Bersih Rp 1,7 Triliun

Kendati sepanjang tahun 2013 industri multifinance lesu, tapi PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) berhasil membukukan kenaikan  laba bersih sebesar 20% dari Rp 1,4 triliun pada 2012 menjadi Rp 1,7 triliun tahun 2013. Kenaikan laba bersih ini didukung oleh peningkatan pendapatan operasional sebesar 14% menjadi Rp 6 triliun seiring dengan kenaikan marjin bunga bersih dan peningkatan pada pendapatan operasional lainnya (imbal jasa). Sedangkan biaya operasional hanya naik 5% menjadi Rp 2,5 triliun.

adira finance

Sementara itu,  penyaluran pembiayaan baru meningkat 4% dari Rp 32,4 triliun menjadi Rp 33,7 triliun, sehingga hingga akhir tahun 2013, piutang pembiayaan yang dikelola meningkat 5% menjadi Rp 48,3 triliun.

“Tahun 2013 adalah tahun yang penuh dengan tantangan dan perubahan. Kami bersyukur atas kinerja yang baik pada 2013, dan kami akan terus membangun landasan yang kokoh untuk pertumbuhan di masa yang akan datang,” jelas Willy Suwandi Dharma, Direktur Utama Adira Finance.

Dimulai dengan pemberlakuan peraturan uang muka minimum untuk pembiayaan berbasis syariah pada awal tahun dan diikuti perubahan pada kondisi operasional pada sisi makroekonomi pertengahan tahun 2013. Sepanjang tahun 2013, BI Rate naik sebesar 175 bps yang menyebabkan suku bunga naik sehingga biaya pendanaan juga naik. Kenaikan harga BBM menyebabkan inflasi yang tinggi sehingga menggerus daya beli masyarakat. Sementara itu, defisit pada neraca berjalan serta isu pengurangan Quantitative Easing di Amerika Serikat menyebabkan terjadinya capital outflow dan pada akhirnya menekan kurs rupiah yang terdepresiasi lebih dari 20%.

Untuk itu, Adira Finance  mengambil berbagai langkah untuk menyesuaikan bisnis terhadap perubahan tersebut. Perusahaan ini memfokuskan diri pada faktor internal dengan melakukan optimalisasi infrastruktur dan efisiensi operasional.

Di tengah kondisi persaingan yang semakin ketat, penyaluran pembiayaan baru kami masih dapat tumbuh sebesar 4% menjadi Rp 33,7 triliun. “Pertumbuhan ini dimungkinkan dengan diversifikasi pembiayaan yang telah kami lakukan sejak lama, yakni membiayai sepeda motor dan mobil, baik kendaraan baru maupun bekas. Walaupun terdapat berbagai kendala dalam bebarapa waktu ini, termasuk kondisi makro ekonomi yang masih belum menentu, namun kami percaya bahwa industri pembiayaan otomotif memiliki prospek yang baik di masa yang akan datang,” Hafid Hadeli, Direktur Pemasaran Pembiayaan Adira Finance, menambahkan.

Adira Finance akan terus melakukan berbagai inisiatif baru untuk meningkatkan efisiensi operasional Perusahaan. Di samping berupaya untuk terus mengoptimalkan infrastruktur saat ini, juga dilakukan berbagai inovasi dan otomatisasi berbagai proses operasional perusahaan.

Hingga akhir tahun 2013, Adira Finance telah mengoperasikan 669 jaringan usaha di seluruh Indonesia dan mempekerjakan lebih dari 28.000 karyawan untuk melayani sekitar 3,7 juta konsumen beserta rekan usaha. Perseroan juga berhasil memperbaiki rasio biaya operasional terhadap pendapatan.

Perubahan kondisi bisnis selama tahun 2013, termasuk penurunan harga komoditas yang menekan daya beli masyarakat di luar Jawa, kenaikan inflasi dan suku bunga, serta depresiasi rupiah telah berdampak terhadap konsumen kami. Namun melalui manajemen risiko yang berhati-hati, baik melalui kebijakan credit underwriting yang lebih ketat dan peningkatan upaya penagihan, Adira Finance berhasil menjaga kualitas aktiva Perusahaan. Seperti ditunjukkan dengan rasio NPL (termasuk pembiayaan bersama) sebesar 1,3% tahun 2013 dari sebelumnya pada tingkat 1,4% pada tahun 2012.

Dengan sistem pengendalian risiko yang ada, serta telah diterapkannya aturan kenaikan uang muka (DP) kredit kendaraan bermotor untuk pembiayaan konvensional dan syariah, maka diharapkan kualitas aset perusahaan akan tetap terjaga pada tahun 2014.

Kebutuhan likuiditas Adira Finance terus meningkat seiring dengan pertumbuhan pembiayaan baru di sepanjang tahun 2013. Perusahaan memperoleh dukungan pendanaan dari induk perusahaan, PT Bank Danamon Indonesia Tbk, melalui skema pembiayaan bersama (joint-financing) yang jumlahnya mencapai Rp18,9 triliun pada tahun 2013 atau masih sekitar 39% dari keseluruhan piutang pembiayaan yang dikelola Adira Finance.

Selain itu, Adira Finance juga menerbitkan efek utang sejumlah Rp 4,5 triliun yang merupakan bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) II Tahap I dan II serta Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Tahap I yang diterbitkan pada bulan Maret dan Oktober 2013 serta pinjaman sindikasi senilai USD200 juta pada bulan Nopember 2013. Dengan demikian pada akhir tahun 2013, Perusahaan memiliki total efek utang yang diterbitkan sejumlah Rp 11,4 triliun dan pinjaman perbankan yang sebesar Rp 11,2 triliun.

“Walaupun jumlah pendanaan eksternal terus meningkat, namun rasio hutang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio) Perusahaan hanya sebesar 3,8 kali pada akhir 2013, jauh di bawah batas maksimum yang diperkenankan sebesar 10 kali. Kebijakan Perusahaan untuk melakukan diversifikasi sumber pendanaannya telah menghasilkan biaya pendanaan yang lebih kompetitif dan optimal bagi Perusahaan,” kataI Dewa Made Susila, Direktur Keuangan Adira Finance.

Baik AISI maupun Gaikindo memperkirakan penjualan sepeda motor baru dan mobil baru masih tumbuh pada tahun 2014 ini. Dengan mempertimbangkan pertumbuhan penjualan kendaraan nasional serta kondisi internal Adira Finance, kami targetkankan pertumbuhan pembiayaan baru sebesar 8-10% pada tahun 2014,” tegas Willy. (EVA)

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)