Multipolar Technology Targetkan Penjualan Rp 1,67 Triliun Tahun 2014

Walaupun sepanjang tahun 2013 diwarnai oleh merosotnya nilai tukar Rupiah terhadap US$ yang berdampak terhadap tingginya biaya pengadaan kebutuhan teknologi informasi para pelaku bisnis, tapi PT Multipolar Technology Tbk. (MPLT) mampu membukukan kinerja keuangan yang ciamik. Sektor industri telekomunikasi dan perbankan memberi kontribusi signifikan terhadap peningkatan kinerja perusahaan TI milik Grup Lippo itu.

Multipolar (direksi)2

Selama tahun buku 2013  MPLTberhasil membukukan penjualan sebesar Rp1,51 triliun atau naik sebesar 12,5% dari Rp1,34 triliun pada tahun 2012. Perseroan juga membukukan kenaikan laba bersih konsolidasi yang signifikan sebesar Rp24,3 miliar atau naik 85,4% dari Rp28,5  miliar pada 2012 menjadi Rp52,8 miliar tahun 2013, yang didukung oleh konsolidasi anak perusahaan. Laba kotor konsolidasi MLPT meningkat 23,0% dari Rp139,5 miliar menjadi Rp171,6 miliar.

Laba yang diatribusikan pada entitas induk meningkat menjadi Rp56,7 miliar di tahun 2013 atau naik 87,4% dari  Rp30,2 miliar di tahun 2012. Laba per saham turun dari Rp38/saham menjadi Rp34/saham dikarenakan  meningkatnya jumlah lembar saham sebanyak 375 juta lembar saham pada bulan Juli 2013 dalam rangka IPO perseroan.

Harijono Suwarno, Presiden Direktur MLPT, mengatakan, “Meskipun terjadi pelemahan Rupiah terhadap dolar Amerika pada semester II 2013 yang menyebabkan berkurangnya belanja TI di Indonesia, namun perseroan tetap menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Pencapaian ini diperoleh antara lain dari kontribusi penjualan solusi  dan jasa yang terus bertumbuh seiring meningkatnya permintaan pelanggan akan solusi teknologi informasi di luar perangkat keras.”

MultipolarRUPS

Berdasarkan hasil survey IDC, investasi TI kini sudah mulai melibatkan business user seperti CEO, CFO dan CMO guna peningkatan operasional bisnis melalui pemanfaatan TI. “Tren belanja TI saat ini mulai melebar dari IT user

ke business user. Dan kami sudah di jalur yang tepat dengan menawarkan solusi-solusi yang mampu membantu  kalangan business user dalam menjalankan operasional bisnisnya lebih efektif dan efisien lagi,” jelas Harijono.

“Kami terus melakukan riset dan pengembangan solusi-solusi yang sekiranya bakal menjadi tren di pasar, antara  lain solusi business intelligence VisionAnalytics, solusi customer relationship management (CRM) VisionCRM,

Business Process Management (BPM), IT Security, Server Consolidation dan solusi excel reporting GL Wand yang diminati di level business user seperti CEO, CFO bahkan CMO”, tambahnya. MLPT melalui anak usahanya, Visionet

Internasional (VisioNet), juga tengah bertransformasi dari penyedia layanan IT Outsourcing menjadi penyedia layanan Business Process Outsourcing (BPO).

Hasil RUPST  juga memutuskan pembagian dividen. "Dividen yang dibagikan MPLT untuk tahun buku 2013 sebesar Rp3 miliar atau Rp1,60 per saham. Sisa dari laba bersih sebesar Rp53,7 miliar nantinya akan digunakan untuk pengembangan usaha, misalnya pengembangunan data center," jelas Wahyudi Chandra, Presiden Direktur Multipolar Technology yang baru terpilih.

Ya, RUPST MPLT juga menyetujui pengangkatan Wahyudi Chandra sebagai Presiden Direktur Multipolar yang baru. Sementara itu Halim D Mangunjudo sebagai Direktur Independen dan dilengkapi dengan empat direktur lainnnya: Hanny Utar, Jip Ivan Sutanto, Suyanto Halim, plus Soegondo.

Tahun 2014 MPLT juga mengalokasikan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 244 miliar. Rencananya dana tersebut bakal dimanfaatkan untuk pengembangan bisnis perseroan dan anak usaha. Sumber dananya berasal dari internal 40 persen dan 60 persen pinjaman perbankan dalam dan luar negeri. Tahun 2013 capex MPLT sebesar Rp 50 miliar, tapi yang terpakai cuma Rp 26,5 miliar.

Ke depan, MPLT mematok target kenaikan penjualan 10% dari Rp1,50 triliun pada 2013 menjadi Rp1,67 triliun tahun 2014. Sementara itu, target laba bersih 2014 sebesar Rp53 miliar atau naik tipis dibandingkan pencapaian tahun 2013 sebesar Rp52,9 miliar.

Target penjualan dan laba bersih 2014 itu setelah mempertimbangkan beberapa hal, di antaranya kondisi perekonomian global, risiko melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap US$ serta isu-isu politik dalam negeri yang masih panas. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)