SCG Siap Ekspansi ke ASEAN

SCG mengumumkan hasil kinerja perusahaan sepanjang tahun fiskal 2013, yang secara keseluruhan mengalami pertumbuhan positif. Perusahaan semen asal Thailand ini mencatatkan peningkatan pendapatan dari penjualan menjadi Rp 147.544 miliar (US$ 14.130 juta) atau naik sebesar 7% (yoy). SCG juga membukukan kenaikan laba sebesar 56% (yoy) menjadi Rp 12.476 miliar (US$ 1.195 juta). Hal itu berkat terus pulihnya margin bisnis bahan kimia, serta meningkatnya permintaan produk semen dalam negeri.

Pada kuartal keempat 2013, SCG membukukan pendapatan dari penjualan sebesar Rp 38.433 miliar (US$ 3.290 juta) atau naik 5% (yoy) berkat pertumbuhan dari seluruh unit bisnis. Laba pada periode tersebut tercatat sebesar Rp 3.021 miliar (US$ 259 juta) atau naik sebesar 19% (yoy), mengikuti terus pulihnya margin bisnis bahan kimia dan meningkatkan permintaan semen dalam negeri.

SCG di ASEAN

Untuk operasi gabungan SCG di ASEAN (kecuali Thailand), pendapatan dari penjualan pada kuartal keempat 2013 tercatat tumbuh 31% (yoy) sebesar Rp 4.012 miliar (US$ 343 juta), yang merupakan 10% dari total pendapatan dari penjualan SCG.

Untuk tahun finansial 2013, pendapatan operasional dari penjualan gabungan SCG di ASEAN tercatat tumbuh 25% (yoy), sebesar Rp 13.227 miliar (US$ 1.267 juta), berkat akuisisi SCG di Indonesia dan Vietnam. Akuisisi terhadap Prime Group Joint Stock Company (Prime Group) menjadikan SCG sebagai produsen keramik terbesar di dunia dengan kapasitas produksi tertinggi. Prime Group merupakan perusahaan manufaktur bahan bangunan terkemuka di Vietnam.

Hingga 31 Desember 2013, aset gabungan SCG senilai total Rp 164.606 miliar (US$ 13.427 juta). Aset SCG di ASEAN sebesar Rp 26.834 miliar (US$ 2.189 juta) atau merupakan 16% dari total aset gabungan SCG.

Kinerja SCG Indonesia

Pada kuartal keempat 2013, SCG mencatatkan pendapatan dari penjualan sebesar Rp 1.319 miliar (US$ 113 juta). Untuk tahun finansial 2013, SCG Indonesia mengumumkan pertumbuhan pendapatan dari penjualan sebesar 8% (yoy) menjadi Rp 4.488 miliar (US$ 430 juta), berkat peningkatan penjualan beton cor, distribusi, bisnis pipa, dan beton pracetak serta konsolidasi bisnis kertas bergelombang (corrugated paper) pada kuartal empat 2013.

Untuk tahun finansial 2013, total aset SCG di Indonesia terhitung sebesar Rp 13.096 miliar (US$1.068 juta) atau meningkat 17% (yoy) berkat investasi pabrik semen di Sukabumi di bawah Semen Jawa, saham di Chandra Asri Petrochemical, serta akuisisi Primacorr Mandiri untuk bisnis kertas bergelombang (corrugated paper).

SCG pun bakal terus mengembangkan bisnisnya di ASEAN, termasuk Indonesia. Presiden dan CEO SCG, Kan Trakulhoon, dalam paparan laporan keuangan terkonsolidasi (unaudited) SCG dan anak usahanya mengatakan, “SCG akan terus memperluas investasi guna mempertahankan pertumbuhan berkesinambungan perusahaan di ASEAN. Kami tengah membangun pabrik semen pertama di Indonesia dan Myanmar, serta meningkatkan kapasitas produksi pabrik semen di Kamboja. Kami juga tengah melaksanakan proses tender subkontraktor untuk kompleks petrokimia terintegrasi di Vietnam. Kami juga tengah mendiskusikan penawaran bisnis lain yang dapat mendukung strategi ekspansi bisnis kami di ASEAN. Setelah menunjuk penasihat keuangan, kami dapat menyelesaikan laporan keuangan pada akhir tahun.”

Kan Trakulhoon Kan Trakulhoon

Selain memperluas bisnisnya di ASEAN, SCG juga terus mengembangkan produk dan jasa bernilai tambah tinggi (HVA Product) lewat riset dan pengembangan. Hal ini dibuktikan SCG dengan meningkatkan anggaran R&D menjadi Rp 1.359 miliar (US$ 130 juta) untuk tahun ini. Pada 2013, SCG menghabiskan Rp 703 miliar (US$ 67 juta) untuk R&D dan berhasil mendorong volume penjualan produk bernilai tambah tinggi hingga 35% dari total penjualan tahun lalu. Sedangkan produk ramah lingkungan berkontribusi sebesar 26% dari total penjualan. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)