Strategi Danamon Kejar Pertumbuhan Kredit Rp141 Triliun

PT Bank Danamon Indonesia Tbk. mengumumkan pertumbuhan kredit sebesar 13% menjadi Rp141 triliun pada semester pertama tahun 2014 dari Rp124 triliun di tahun sebelumnya. Laba bersih setelah pajak mencapai Rp1,489 triliun pada semester pertama 2014, dengan pendapatan bunga bersih atau net interest income yang tumbuh menjadi Rp6,7 triliun pada paruh pertama tahun ini. Pada akhir bulan Juni 2014, rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau Regulatory Loan to Deposit Ratio membaik menjadi 98,9% dari 105,4% pada tahun sebelumnya.

DSC_0051

“Semester pertama tahun ini pertumbuhan ekonomi domestik mengalam perlambatan yang didorong oleh permintaan ekspor yang menurun serta adanya deficit fiska, sementara nilai tukar rupiah terus mendapat tekanan,” ujar Henry Ho, Direktur utama Danamon.

Pada kesepatan yang sama, Vera Eve Lim, Cief Executive Officer dan Direktur Danamon, mengatakan bahwa petumbuhan ekonomi tahun 2014 melambat karena adanya pemilihan presiden 2014-2019. “Pertumbuhan tahun ini melambat ditambah adanya pemilu, sehingga banyak orang yang wait and see. Hal ini mempengaruhi pertumbuhan kredit Danamon, jadi saya kira 13% itu sudah cukup bagus untuk searang,” papar Vera.

Pertumbuhan kredit Danamon pada enam bulan pertama 2014 disertai dengan kualitas asset yang membaik. Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loans (NPL) berada pada posisi 2,1% pada akhir semester pertama 2014, dibandingkan dengan 2,4% pada periode yang sama pada tahun sebelumnya. Adapun ekspetasi kredit pada tahun 2014 diharapkan mencapai 12% hingga akhir tahun ini. “Ekspetasi kami di kredit pada tahun ini sebesar 12%,” tambahnya.

Pada semester pertama 2014, kredit otomotif melalui Adira Finance tumbuh sebesar 7% menjadi Rp49 triliun. “Sektor otomotif secara perlahan mulai pulih setelah adanya penyesuaian atas dampak dari aturan down payment,” kata Vera.

Vera mengaku bahwa biaya operasional Bank Danamon mengalami penurunan sejak taun lalu. “Biaya operasional mengalami penurunan sejak tahun lalu dan masih berlanjut sampai sekarang,” ujarnya. Penurunan biaya operasional ini, menurut Vera, disebabkan oleh beban bunga yang meningkat menjadi 6,3%. “Dengan adanya peningkatan beban bunga yang tahun lalu sebesar 5% sekarang jadi 6,3%, efisiensi operasional menjadi bertambah dan berdampak pada laba,” pungkas Vera. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)