Strategi IPC Menjadi Digital Port Tahun 2020

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC melaporkan laba bersih sebesar Rp1,21 triliun pada semester I 2018. Angka ini meningkat 18% dibandingkan periode yang sama tahun  2017 sebesar Rp1,02 triliun.

“Pendapatan usaha IPC pada semester I-2018 mencapai Rp5,35  triliun atau tumbuh  8,18 % dibandingkan perolehan semester I- 2017 yang sebesar Rp4,93 triliun. Dengan capaian ini, kami yakin target keuangan korporasi 2018 dapat tercapai, yaitu  pendapatan naik 13,29 %, dari Rp10,91 menjadi Rp12,36 triliun pada 2018,” kata Direktur Utama IPC, Elvyn G. Masassya.

Elvyn menjelaskan, EBITDA IPC tumbuh 12,85 %, dari Rp1,85 triliun menjadi Rp2,09 triliun. Sementara itu, biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) berhasil ditekan 2,34 %, dari Rp69,79 triliun menjadi Rp68,15 triliun. “Ini menunjukan bahwa performa IPC semakin efisien,” jelasnya.

Dari sisi operasional, jumlah peti kemas yang keluar masuk pelabuhan sepanjang semester I meningkat 10,18 %, dari 3,28 juta TEUs menjadi 3,62 juta TEUs. Jumlah kapal yang keluar masuk juga bertambah 10,68 %, dari 94,58 juta gross tonnage (GT), menjadi 104,68 juta GT.

Sementara itu, arus barang non peti kemas mengalami penurunanan 1,82 %, dari 27,97 juta ton menjadi 27,44 juta ton. Di sisi lain, jumlah penumpang meningkat 21,85 %, dari 260,42 ribu menjadi 317,31 ribu penumpang.

IPC mengimplementasikan Pelindo Incorporated yaitu strategi korporasi yang akan memberikan dampak positif baik bagi anak perusahaan yang terlibat maupun masing-masing induk perusahaan dengan memperluas wilayah operasi; memperbesar kapasitas finansial dan akses pendanaan; memperkuat kapabilitas produksi dan pemasaran; standardisasi fasilitas, sistem IT dan pelayanan jasa serta meningkatkan efisiensi dan produktifitas perusahaan.

Salah satu bentuk Pelindo Incorporated yaitu IPC melakukan kerja sama dengan Pelindo I untuk mengoperasikan pengelolaan Pelabuhan Batu Ampar.

Pada semester ini, IPC mulai menggunakan aplikasi Customer Relationship Management untuk menciptakan value bagi pelanggan dan menerapkan strategi solusi yang lebih proaktif.

IPC juga meluncurkan IPC Smart Card, yaitu kartu elektronik yang digunakan sebagai kartu akses masuk gerbang Pelabuhan Tanjung Priok. Dengan kartu ini, selain transaksi menjadi cashless atau tanpa uang tunai, perekamannya juga menjadi lebih akurat. Pada tahap berikutnya, penggunaan kartu ini juga akan diterapkan di cabang Pelabuhan IPC lainnya.

“Dengan progres dan capaian ini, saya optimistis  tahun 2020, IPC betul-betul memantapkan posisinya sebagai digital port, sekaligus menjadi pengelola pelabuhan kelas dunia yang unggul dalam operasional dan pelayanan,” tegas Elvyn.

Dari sisi keuangan,  pertama, IPC membangun financial automation sistem untuk mengefisiensikan pencatatan keuangan. Iman Rachman, Direktur Keuangan IPC menjelaskan, "Tidak hanya cashless, tapi cash management system, dari awal pendapatan sudah digital. Selama ini pengguna jasa membayar non-cash dengan uang sendiri. Pengguna jasa bisa dibayar dulu oleh bank mitra, baru nanti dibayarkan ke bank. Ini memudahkan pelayanan kami. Ke depan namanya piutang menjadi cash, jadi tiap pelayanan ada dananya."

Kedua, IPC memberlakukan e-invoice. Sebelumnya, invoice kapal bentuknya berbeda pada setiap proses transaksi. Dengan adanya e-invoice, semua transaksi pelayanan kapal bentuknya sama dan bisa diceak  sendiri ataupun di kantor IPC.

Ketiga, IPC juga akan menggunakan mini ATM sebagai alternatif pembayaran dari Electronic Data Capture (EDC). "Bedanya dengan EDC adalah pencatatannya per transaksi, tidak digabung semua. Sudah terpilah-pilah untuk rincian harga. Dampaknya, pencatatan bisa real time, langsung tercatat," tutur Iman.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)