Frekuensi Penyelesaian Transaksi Pasar Modal Naik 40%

Sampai dengan periode tengah tahun 2015, KSEI mencatat peningkatan frekuensi penyelesaian transaksi efek sebesar 46,5% dari 1.486.272 (Januari - Juli 2014), dibandingkan dengan periode yang sama tahun ini yang mencapai 2.178.110. Rata-rata instruksi harian juga meningkat sekitar 22% dari 12.490 instruksi menjadi 15.232 instruksi dibanding periode yang sama tahun lalu. Hal tersebut mengikuti kenaikan jumlah investor pasar modal Indonesia menjadi sekitar 389.000 di akhir Juli 2015.

(no.1 dari kanan) Margareth M.Tang, Dirut KSEI (no.1 dari kanan) Margareth M.Tang, Dirut KSEI

Sejalan dengan peningkatan tersebut, KSEI selaku Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian pada akhir semester pertama tahun 2015, melakukan serangkaian pengembangan infrastruktur pasar modal untuk mempermudah investor. KSEI berhasil menyelesaikan salah satu milestone pasar modal Indonesia, yaitu fasilitas penyelesaian transaksi dana melalui bank sentral (Bank Indonesia/BI). Fasilitas ini memungkinkan pemegang rekening KSEI untuk melakukan penyelesaian dana secara lebih mudah dan cepat, karena menggunakan sistem bank sentral yang lebih terpusat.

Perluasan jaringan pasar modal, dilakukan KSEI melalui kerja sama dengan 9 bank administrator Rekening Dana Nasabah (RDN), dengan dua di antaranya merupakan bank syariah. Untuk 9 bank RDN tersebut yaitu: PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank CIMB Niaga Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Permata Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Central Asia Syariah, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Sinarmas Tbk dan PT Bank Syariah Mandiri. Khusus BCA, CIMB Niaga, Bank Mandiri, PermataBank dan BRI juga berperan sebagai Bank Pembayaran untuk periode 2015 - 2019.

"Secara keseluruhan total aset yang tercatat di C-BEST sampai dengan tanggal 31 Juli 2015 sebesar Rp 3.089,05 triliun, meningkat tipis dibanding dengan data per 25 Juli 2014 sebesar Rp 3.082,77 triliun," kata Direktur Utama PT KSEI Margareth M. Tang.

Total aset saham yang tercatat di C-BEST sampai dengan tanggal 31 Juli 2015 masih didominasi kepemilikannya oleh investor asing, namun secara nilai mengalami penurunan dari Rp 1.810,48 triliun (65%) pada 25 Juli 2014 menjadi Rp 1.757,71 triliun (64%) pada 31 Juli 2015. Sedangkan untuk aset saham yang dimiliki investor lokal secara persentase dan nilai meningkat.

Untuk total aset obligasi korporasi dan sukuk yang tercatat di C-BEST sampai dengan tanggal 1 Juli 2015 masih didominasi kepemilikannya oleh investor lokal, secara persentase mengalami sedikit penurunan dari 92% pada 25 Juli 2014 menjadi 91% pada 31 Juli 2015, namun secara nilai mengalami peningkatan dari Rp 202,32 triliun menjadi Rp 226,61 triliun. Sedangkan untuk aset obligasi korporasi dan sukuk yang dimiliki investor asing secara persentase dan nilai mengalami peningkatan dari Rp 18,52 triliun (8%) pada 25 Juli 2014 menjadi Rp21,96 triliun (9%) pada 31 Juli 2015. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)