GCG Kunci Sukses Bisnis Bank BTN

Di pengujung tahun 2009, Bank BTN membuka lembaran barunya sebagai perusahaan terbuka pasca IPO. Langkah strategis ini membawa hawa segar bagi BTN untuk bertransformasi dari yang semula hanya bertaraf lokal menjadi world class banking company. Hal ini kemudian diwujudkannya dalam praktik tata kelola yang baik atau lebih dikenal dengan Good Corporate Governance (GCG).

Maryono, Direktur Utama BTN, bertutur bahwa latar belakangnya mengikuti pemilihan GCG bukan semata-mata untuk mendapatkan award, tapi karena ingin menjadikannya dasar dalam pengelolaan bisnis perusahaan. Apalagi posisi BTN sendiri sebagai bank pemerintah atau BUMN, yang dalam hal ini tidak bisa terlepas dari regulasi. “Kami tidak bisa menciptakan suatu aturan yang manajemen sukai saja, tapi juga harus memperhatikan aturan Bank Indonesia (BI) selaku regulator serta ketentuan-ketentuan lain seperti pasar modal, dll,” terang Maryono, sebagaimana dicatat Gustyanita Pratiwi.

BTN Maryoto (utama)

Dari niatan itulah, BTN kemudian menerapkan prinsip-prinsip dasar GCG yang mencakup Transparency, Accountability, Responsibility, Independency dan Fairness (TARIF). Pertama, Transparency yaitu aspek yang menunjukkan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya untuk mengungkapkan informasi yang relevan, akurat, serta tepat waktu kepada para stakeholder. Salah satu sarana penyampaiannya bisa melalui website www.btn.co.id yang memuat annual report, sustainability report, financial report, analyst meeting, dll.

Kedua, Accountability yaitu aspek yang menunjukkan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya untuk mengintegrasikan berbagai kejelasan tugas pokok/fungsi, wewenang dan tanggung jawab, mekanisme check & balance, serta pengukuran kinerja perusahaan.

Ketiga, Responsibility yaitu aspek yang menunjukkan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya untuk berpegang pada prinsip kehati-hatian dan memastikan pengelolaan perusahaan sesuai dengan anggaran dasar, peraturan perundang-undangan, serta memenuhi tanggung jawab sosial, lingkungan dan para pemangku kepentingan lainnya.

Keempat, Independency yaitu aspek yang menunjukkan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya untuk bersikap profesional dan obyektif dalam memastikan tidak adanya dominasi atau intervensi serta mampu mengelola konflik kepentingan. Di sini kewenangan tertinggi berasal dari rapat Direksi di mana dalam setiap penyelenggaraannya telah dilakukan dokumentasi terhadap adanya dissenting opinion. Direksi juga telah merumuskan Pedoman Penanganan Benturan Kepentingan (conflict of interest) sesuai dengan Peraturan Direksi No.31/PD/CSD/2010 maupun Surat Keputusan Bersama Dewan Komisaris dan Direksi PT. Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk No. 02/DEKOM-BTN/IV/2011 dan No. SKB-02/DIR-BTN/IV/2011 tanggal 25 April 2011 tentang Panduan Tata Kerja Komisaris dan Direksi.

Terakhir, Fairness yaitu aspek yang menunjukkan kesungguhan Direksi dan Dewan Komisaris dalam memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya untuk memberikan perlakuan yang wajar sesuai dengan proporsinya terhadap seluruh pemangku kepentingan.

Prinsip-prinsip itulah yang diyakini BTN untuk menjamin terciptanya keseimbangan bisnis secara paripurna/menyeluruh. Dari sini, BTN kemudian merumuskan dan menerapkan nilai-nilai perusahaan ke dalam Standar Perilaku Pegawai dan Etika Bisnis serta berbagai kebijakan lainnya seperti Kebijakan Pengelolaan Benturan Kepentingan, Kebijakan Penerimaan dan Pemberian Hadiah/Gratifikasi, Kebijakan Aktivitas Politik, Kebijakan Whistleblowing, Kebijakan Penyediaan Dana Besar dan Pihak Terkait, dll.

BTN Maryoto (tegak)

Adapun pendekatan dan penahapan implementasi program GCG di BTN dilakukan dengan menggunakan pendekatan Balanced Scorecard. Di sini terdapat 3 langkah yang harus dicapai. Pertama, merumuskan tujuan program GCG. Langkah ini teramat krusial karena dijadikan motivasi untuk bertindak. Kedua, merumuskan road map sebagai milestones yang akan dijadikan petunjuk pada tahapan-tahapan selanjutnya. Ketiga, merumuskan strategi berdasarkan “Smart Strategy for 360 Degree GCG with Balanced Scorecard Approach” yang mencakup 3 tahapan berikut:

  1. Tahapan Pra Implementas yang terdiri dari :

1)   Mengukuhkan Komitmen.

2)   Membangun Soft Structure.

3)   Melengkapi Infrasturcture

  1. Tahapan Implementasi yang terdiri dari:

1)      Awareness Programs (internalisasi dan institusionalisasi)

2)      Self Assessment (sesuai standar dari Bank Indonesia)

3)      External Parties Assessment, serta

4)      Mengkomunikasikan penerapan GCG di Bank BTN kepada pihak eksternal.

  1. Tahapan Siklus Implementasi: Monitoring yang berkelanjutan senantiasa harus dilakukan, untuk menuju sukses jangka panjang.

BTN secara berkala juga melakukan training maupun refreshment bagi seluruh pegawai, misalnya sertifikasi human capital, sertifikasi /refreshment manajemen risiko, serta sosialisasi code of conduct. Tujuannya adalah agar insan Bank BTN memiliki kompetensi yang dibutuhkan dalam menjalankan setiap tugasnya tanpa mengesampingkan etika.

Bank BTN juga melakukan benchmark dengan lembaga keuangan lain guna memperoleh best practice, mengundang professional consultant untuk menjalankan beberapa project yang bersifat adhoc, mengundang konsultan untuk memperkuat corporate culture, mengikuti training di dalam dan luar negeri dan memberikan beasiswa Program Magister dan Program Doktoral bagi karyawan yang potensial pada universitas ternama di dalam maupun luar negeri.

Dalam perkembangannya, implementasi prinsip-prinsip GCG di seluruh aspek perbankan, tidak terlepas dari upaya pengelolaan risiko yang dihadapi oleh bank. Sebagai bank yang fokus utamanya di bidang pemberian kredit atau pembiayaan perumahan, portofolio aset BTN didominasi oleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Hal ini dipengaruhi oleh adanya perubahan iklim bisnis eksternal seperti inflasi serta BI Rate. Upaya meminimalkan dampak negatif tersebut dilakukan dengan pengelolaan pengetahuan yang berlandaskan prinsip GCG dan kehati-hatian. Dalam hal ini, bank memberikan pelatihan/workshop kepada direksi, komisaris, serta pegawai secara berkala. Sebagai contoh, saat ini BTN telah memiliki learning centre yang berfungsi sebagai sarana pelatihan bagi pegawai baru dengan instruktur yang berasal dari internal maupun eksternal BTN.

BTN juga telah memiliki sistem pengelolaan pengetahuan yaitu Akses Internal Manajemen Standar (AIMS) dan FTP. AIMS sendiri terdiri dari dari 2 jenis yaitu AIMS Internal dan AIMS Eksternal. AIMS Internal diperuntukkan sebagai sarana akses informasi terkait kebijakan internal perusahaan maupun petunjuk teknis lainnya yang meliputi: Anggaran, Dasar Perusahaan, Ketetapan Direksi (KD), Peraturan Direksi (PD), Surat Edaran Direksi (SE Dir), Surat Keputusan Direksi (SK Dir), Surat Kuasa Direksi, PA (Petunjuk Akuntansi), SOP (Standard Operational Procedure), POK (Petunjuk Operasional Komputer), SKB (Surat Keputusan Bersama), Mou dan PKS, serta Presentation Kit.

Sementara AIMS Eksternal diperuntukkan sebagai sarana akses informasi terkait peraturan/kebijakan eksternal dari berbagai pihak antara lain : Bank Indonesia (Peraturan Bank Indonesia dan Surat Edaran Bank Indonesia), Keputusan Presiden, Keputusan Menteri, Peraturan Bapepam LK/OJK, Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Peraturan Menteri, Peraturan Pemerintah, dan Undang-Undang.

Dari seluruh uraian di atas, hasil penerapan GCG akhirnya berdampak pada beberapa hal. Pertama tentang kinerja keuangan BTN yang secara umum menunjukkan pertumbuhan positif, diantaranya : Aset tumbuh 25% hingga mencapai Rp 118 triliun, Kredit dan Pembiayaan tumbuh 28% menjadi Rp 75,4 triliun, Peningkatan Dana Pihak Ketiga tumbuh 30% menjadi Rp 80,6 triliun, Peningkatan Ekuitas tumbuh 40% menjadi Rp 10,2 triliun, Peningkatan laba tumbuh 21% menjadi 1,3 triliun, CAR tumbuh 17,69%, ROE tumbuh 18,23%, serta NIM tumbuh 5,83%.

Lalu kinerja saham yang terus meningkat juga akhirnya menarik perhatian investor global. Jika komposisi investor asing pada saat IPO hanya mencapai 40,30%, maka pada Desember 2012 komposisinya meningkat hingga 61,25% dari seluruh saham publik. Basis investor saham Bank BTN juga meluas dengan rincian sebagai berikut : Indonesia (38,75%), Asia         (37,60%), Eropa (11,02%), Australia (0,01%), serta Amerika (17,62%).

Sementara dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini, rating korporasi dan obligasi BTN terus mengalami peningkatan, dengan rincian, sebagai berikut:

•           Tahun 2008     :           id AA- / Stable

•           Tahun 2009     :           id AA- / Stable

•           Tahun 2010     :           id AA- / Stable

•           Tahun 2011      :           id AA/ Stable

•           Tahun 2012     :           id AA/ Stable

Peningkatan ini menunjukkan kemampuan obligor yang sangat kuat untuk memenuhi kewajiban finansial jangka panjangnya sesuai dengan yang diperjanjikan.

“Dari sini kami anggap bahwa pengelolaan-pengelolaan yang kami lakukan sesuai dengan GCG yang dijadikan kunci kesuksesan perusahaan, iklim kerja yang baik, kepercayaan investor dan stakeholder, serta penilaian dari pihak eksternal,” tambah Maryono. (***)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)