Peran Strategis Corporate Secretary dalam Implementasi GCG

(Ka-ki) Hardijanto Saroso, Ketua Umum Indonesian Corporate Secretary Association (ICSA) dan Katharine Grace, Wakil Ketua Umum ICSA (Foto by: Eva/SWA)

Peran Corporate Secretary (Corsec) strategis dan sentral dalam mengembangkan dan melaksanakan Good Corporate Governance (GCG) di Indonesia.

“Hal itu memang tugas utama Corsec sebagai salah satu pilar pelaksana GCG di perusahaan, “jelas Hardijanto Saroso, Ketua Umum Indonesian Corporate Secretary Association (ICSA), organisasi yang menaungi para Corsec dalam konferensi pers di Jakarta 24 Oktober 2017. ICSA memandang perlu untuk memberikan pembekalan pengetahuan dan skill yang diperlukan terutama bagi anggota yang baru masuk kedunia Corsec. Perusahaan perlu menyadari dan mendayagunakan secara optimal fungsi Corsec bukan hanya untuk implementasi GCG saja, namun juga untuk keberlangsungan (sustainability) secara jangka panjang.

Saat ini persyaratan Corsec masuk di dalam POJK No. 35/POJK.04/2014 tentang sekretaris perusahaan emiten atau perusahaan publik. Ke depan, ICSA berharap pemerintah dapat mempertimbangkan untuk memasukkan persyaratan Corsec kedalam Undang-Undang Perseroan Terbatas (UUPT). “Kami mendorong pemerintah untuk bisa semakin memberdayakan Corsec sebagai Corporate Governance Officer di perusahaan yang memiliki aset lebih dari Rp 50 miliar. Selain itu profesi Corsec juga perlu dilindungi agar kinerjanya bisa maksimal dalam menjalankan dan menegakkan GCG, “tegas Hardijanto.

Perlu diakui bahwa saat ini kualitas dan standar Corsec sangatlah beragam, sehingga ICSA juga memandang perlu untuk dilakukan standarisasi. Saat ini ICSA baru masuk ketahapan sosialisasi dan pelatihan dasar Corsec. Maka, diadakan pelatihan gratis rutin sebulan sekali bagi anggota bekerja sama dengan OJK dan IDX. Pelatihan ini banyak membahas aturan-aturan pasar modal yang dikeluarkan OJK maupun IDX.

“Setahun dua kali kami juga mengadakan pelatihan berbayar mengenai Corsec sebagai Corporate Governance Officer. Tahapan selanjutnya kami akan menerbitkan buku panduan Corsec. Buku saat ini sedang dalam tahap akhir penyelesaian, “ucap Hardijanto. Dengan buku panduan Corsec resmi dari ICSA, diharapkan semua perusahaan bisa merujuk kepanduan tersebut untuk mendapatkan peran dan fungsi Corsec yang sesuai dengan standar internasional.

Tahapan akhir, akan masuk ke sertifikasi Corsec. Sertifikasi ini bukan dimaksudkan untuk menambah birokrasi atau menyulitkan seseorang untuk menjadi Corsec, melainkan untuk memastikan bahwa seorang Corsec memahami tugas dan tanggungjawabnya secara menyeluruh, tambah Hardijanto. Berhubungan dengan pemangku kepentingan bukan merupakan tugas sederhana yang harus dilakukan Corsec. Perlu penguasaan hard skill berupa knowledge atas keuangan, hukum dan aturan namun yang terpenting adalah soft skill yaitu menguasai komunikasi yang efektif dengan pemangku kepentingan agar kebijakan-kebijakan perusahaan dapat diputuskan dan dijalankan secara efektif dan efisien sesuai dengan aturan yang berlaku.

Untuk memastikan ICSA mendapatkan update terkini mengenai best practice Corsec secara internasional, ICSA bergabung di dalam jaringan ASEAN Corporate Secretary Network (ACSN) dan Corporate Secretary International Associations (CSIA). Keikutsertaan di dalam jaringan internasional ini amat membantu ICSA untuk memahami best practice GCG sekaligus memperkuat peran ICSA di regional ASEAN dan Asia dalam upaya meningkatkan peringkat GCG Indonesia,

Pada 1- 3 November 2017 mendatang, ICSA mendapatkan kehormatan untuk menjadi penyelenggara 1st International Conference on Good Corporate Governance di Pullman Hotel Thamrin Jakarta. Tujuan dari konferensi ini adalah untuk mendapatkan pandangan atas perkembangan dan tantangan komitmen pelaksanaan dan sistem GCG yang ada di regional Asia terutama ASEAN. Saat ini sudah confirmed 13 pembicara mewakili Indonesia, Singapura, Thailand, Malaysia, Hongkong, Vietnam dan Australia.

“Kepala Eksekutif Pasar Modal OJK, Hoesen, confirmed akan hadir membuka sekaligus menjadi keynote speaker. IDX juga full support menjadi tuan rumah dari penyelenggaraan acara tersebut. Dari sisi korporasi, akan hadir Diligent Corporation, Bank Mandiri, XL Axiata dan Go-jek Indonesia untuk memberikan pandangan mengenai GCG di media sosial,” jelas Katharine Grace, Wakil Ketua Umum ICSA yang sekaligus ketua penyelenggara konferensi.

Menurut Katherine, penyelenggaraan konferensi ini juga untuk semakin memperkuat kolaborasi jaringan regional sebagai bagian dari ASEAN Economic Community untuk menciptakan korporasi yang kompetitif melalui konektivitas ekonomi global. Media sosial juga akan menjadi topic bahasan yang penting untuk memperkuat dan juga melemahkan suatu korporasi. Korporasi harus bisa memahami media social untuk memastikan mereka siap untuk menangani resiko dan benefit yang ada di media sosial.

Hardijanto juga menyampaikan perihal adanya pergantian kepengurusan ICSA berdasarkan hasil pemilihan pada Juli 2017 lalu. Susunan lengkap kepengurusan ICSA periode 2017 2020 adalah sebagai berikut :

KetuaUmum : Hardijanto Saroso (Binus University)
Sekjen : Theresia Rustandi (Intiland)
Bendahara : Ivonne P. Chandra (OCBC NISP)

Wakil KetuaUmum :
Hubungan Kelembagaan Dalam Negeri : Okty Saptarini Minarti (Humpuss)
Organisasi dan Keanggotaan : Lenny SC (Resource Alam)
Pendidikan : Maryati (Hexindo)
Standarisasi Profesi : Dea Thamrin (Lippo)
Pengkajian : Hartinah (Ciputra)
Hubungan Internasional : Katharine Grace (Bank Permata)
Komunikasi Media &Industri : Deden Rohmawaty. (Nusantara Infrastructure)
Kerja sama : Budi Santoso (Maybank)
KomunikasiRegulasi : Tiur Simamora (SidoMuncul)
Badan Sertifikasi Profesi : Nurmaria Sarosa (Cardig), Milan (Total)

www.swa.co.id

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)