Giring Nidji Rutin Evaluasi Saham dan Compounding Reksa Dana

Sentimen internal dan eksternal sangat berpengaruh terhadap volatilitas pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di awal tahun cukup perkasa, namun di bulan-bulan berikutnya IHSG berfluktuasi relatif tinggi. Level IHSG sejak akhir tahun lalu hingga 24 November (year to date) masih minus 13,04%. Mayoritas saham-saham unggulan sempat terkoreksi saat pasar modal terguncang oleh aksi beli investor.

Momen ini, bagi Giring “Nidji” dimanfaatkannya untuk membeli berbagai saham unggulan. Menurut Giring, dia aktif melakukan aksi beli saham-saham yang harganya terkoreksi. “Saya ‘kan investor jangka panjang, tidak trading harian. Jadi waktu pasar saham terkoreksi saya membeli saham-saham yang harganya cukup murah,” jelas Giring. Dia bilang horizon investasinya di saham sekitar 5-10 tahun. “Saya buy dan buy saham-saham unggulan di saat harganya turun waktu IHSG terkoreksi beberapa bulan lalu. Saya belum melakukan profit taking,” imbuhnya.

Giring Nidji rutin mengevaluasi sahamnya. (Foto : Vicky Rachman/SWA) Giring Nidji rutin mengevaluasi sahamnya. (Foto : Vicky Rachman/SWA)

Giring menginginkan saham-saham yang harganya naik cukup agresif. Makanya itu, dia melakukan berbagai cara guna menjaga pertumbuhan nilai asetnya. Contohnya, kata Giring, dia rela melepas sejumlah sahamnya yang harganya naik relatif terbatas. “Saya melakukan rebalancing portofolio setiap tahunnya. Jadi saya rutin mengevaluasi saham-saham yang potensial. Saya melepas saham yang harganya naiknya tidak tinggi sekali,” ungkapnya.

Setelah itu, Giring membeli saham prospektif lainnya. Giring mengoleksi saham lebih dari lima saham. Dia menggemari saham-saham yang fundamental dan potensi bisnisnya cukup baik. “Saya membeli saham perbankan yang manajemenya sangat bagus,” tandasnya. Giring mengalokasikan uangnya di saham sebesar 10% dari total penghasilannya. Sumber penghasilannya beragam dari honor menyanyi, membintangi iklan, bermain film, dan pembicara seminar. ”Kalau ada honor yang besar lagi saya masukin lagi ke saham," tandas dia.

Selain saham, Giring juga memiliki reksa dana saham. Target investasinya dua tahun. Dia menerapkan strategi compunding (bunga majemuk) dengan menumpuk return dari reksa dana sahamnya untuk diakumulasikannya ke periode berikutnya. Tujuannya agar asetnya di reksa dana saham semakin bertambah nilainya.Lantaran begitu, Giring mampu menjaga performa portofolionya. Dia bilang asetnya bertambah 5 hingga 10 kali lipat.

Baginya, ia memprioritaskan modalnya ke pasar saham karena menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi daripada menabung di bank. "Kalau dipikir-pikir, inflasi akan mengalahkan bunga tabungan di bank. Akhirnya saya memutuskan untuk berinvestasi di saham dan reksa dana saham," ujar Giring yang mulai berinvestasi di pasar modal sejak tahun 2007.  Giring juga membeli emas dan properti. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)