Helix Gelar Edukasi Finansial Bertaraf Internasional

Investor perlu mendalami pengetahuan dan teknik berinvestasi properti agar meraih imbal hasil yang optimal. Di era teknologi informasi, budaya investasi bertransformasi dari dari multi-market menjadi one-market. Investor properti, khususnya investor real estate,sebaiknya membekali dirinya dengan pengetahuan finasial dan instrumen (tools) terkini (up-to-date) guna melahirkan keputusan yang tepat sasaran. Untuk itu, Mt.Helix Education menggelar Rich Dad Advisors @ The Real Estate Summit Event di Hotel Four Seasons, Jakarta, pada 1-2 Oktober 2016.

Sejumlah pembicara ternama akan memaparkan beragam teknik berinvestasi di real estate. Mereka adalah Tom Wheelwright dari Rich Dad Advisor , John Burley (Real Estate Expert) , Dolf de Roos (Real Estate Expert), dan Jochen Sippman (Mt.Helix Speaker), serta Ricky Sutanto, Kepala Badan Koordinasi Perdagangan Internasional di Kamar Dagang Industri (KADIN) Indonesia. Sejumlah pembicara itu dikenal memiliki reputasi internasional dan sukses di bidang real estate dan menjadi mentor dari ribuan investor. Mt. Helix Education menyajikan pendidikan, tools, dan kesempatan bagi tiap individu untuk menjadi investor real estate yang sukses.

helix

Investor real estate yang sukses biasanya adalah sosok-sosok yang unik. Mereka umumnya fokus mengelola asetnya sebagai sumber pendapatan pasif (passive income). Industri properti adalah motor penggerak perekonomian suatu negara karena industri ini memiliki keterikatan dengan sektor bisnis lainnya, seperti bahan bangunan, sumber daya manusia dan lain-lain. Karena besarnya pasar yang ditawarkan, makanya tak heran saat ini banyak perusahaan startup yang mencoba untuk mengembangkan bisnis ini, dengan cerdik mereka menciptakan platform yang dapat membantu menstimulus keuntungan dari industri properti.

Menyinggung teknik berinvestasi properti, Lamudi Indonesia, menjabarkan penggunaan teknologi informasi menjadi tren di industri properti, mulai dari aplikasi mobile, pengaktifan teknologi untuk broker, alat untuk manajemen yang tepat, dan pengumpulan dana start up. Contohnya Fundrise, perusahaan rintisan (start -up) pengumpulan dana real estate, berhasil memiliki dana sebesar $ 41 juta. Angka itu setara dengan pertumbuhan sebesar 1.500% sejak awal tahun 2010. Perusahaan start -up ini memberi kesempatan kepada perusahaan real estate untuk mengumpulkan uang bersama-sama agar bisa membangun dengan cepat meskipun dana yang dimilikinya kecil dengan perjanjian untuk membayarnya di kemudian hari secara konsisten.

Lalu ada juga platform Lamudi, portal properti global ini mengubah cara membeli properti di negara berkembang. Perusahaan dari Rocket Internet tersebut, kini telah beropertasi di sembilan negara di Asia dan Amerika Latin. Fiturnya user friendly dan aplikasinya memiliki lebih dari 1 juta daftar iklan properti. Kehadiran start up real estate ini tentu akan membuat para pencari properti menemukan properti idaman mereka. Inovasi lainnya berasal dari perusahaan Floored, perusahaan asal New York Amerika Serikat tersebut telah menciptakan sebah teknologi yang diberi nama Virtual Reality (VR). Melalui teknologi ini, seorang pencari properti dapat melihat suasana properti yang hendak dibelinya, tanpa harus repot-repot datang ke lokasi dibangunnya properti. Baru-baru ini, Lamudi Filipina mengadakan pameran Virtual Reality, di sana Lamudi memberikan kesempatan kepada pengembang untuk mengeksplorasi kelebihan VR.

Lalu seberapa efektifkah beriklan di portal properti? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar sebuah iklan bisa mencuri perhatian para pembeli atau penjual properti. Salah satunya adalah kualitas fotografi, video ataupun 3D. Dengan menggunakan teknologi VR ini dapat mendatangkan calon pembeli yang potensial, sekaligus dapat memberikan pengalaman baru untuk calon pembeli, karena mereka bisa merasakan seperti apa di dalam properti yang hendak mereka beli.

Internet mengubah mengubah kebiasaan membeli properti. Di industri real estate, internet memang telah memberi banyak perubahan. Kini semakin banyak orang di negara berkembang meninggalkan cara tradisional dalam membeli rumah dan lebih mengandalkan pencarian daring. Tren ini semakin menjadi gaya hidup seiring dengan penetrasi internet di negara berkembang, khususnya Asia dan Amerika Latin.

Dewasa ini, masyarakat kian mencari cara yang lebih nyaman untuk mencari properti. Para pemburu hunian di era digital sekarang ini mendambakan kemudahan akses, mudah membeli dan menjual properti. Konsumen kian meninggalkan cara mencari, menjual, membeli properti lewat iklan di koran atau selebaran. Inilah mengapa aplikasi dan website pencarian properti menjadi lebih populer dibanding sebelumnya. Melihat hal tersebut, Lamudi menjembatani masyarakat di beberapa negara berkembang agar lebih mudah dalam menemukan properti mereka secara online.

“Kita dapat lihat, sekarang orang membuka aplikasi Lamudi ketika dalam perjalanan menuju kantor, pada saat makan siang atau kapanpun mereka memiliki waktu luang,” ujar Mart Polman, pendiri Lamudi Indonesia, platform properti online, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta.Para pencari rumah di negara berkembang sangat menyukai mencari properti melalui cara online karena data dan informasi yang tersedia sangat transparan. (*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)