Inarno Djajadi Gantikan Tito Sulistio Jadi Dirut BEI

Direksi Baru Bursa Efek Indonesia periode tahun 2018-2021. (Foto : Vicky Rachman)

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bursa Efek Indonesia (BEI), mengangkat Inarno Djajadi, sebagai Direktur Utama BEI periode tahun 2018-2021 untuk menggantikan Tito Sulistios, Direktur Utama BEI (2015-2018).

Inarno berkomitmen mengembangkan pasar modal sesuai Undang-undang- Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.  Inarno menyebutkan mendapatkan dukungan karyawan BEI dan pemangku kepentingan pasar modal untuk mengembangkan pasar modal. “Harapannya ingin menjadi market yang lebih besar dari segi kapitalisasi, market yang likuid, lebih banyak produk yang ditawarkan, jadi bisa kompetitif dengan bursa-bursa lainnya,” ujar Inarno sesuai RUPST BEI di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada Jum’at (29/6/2018).

Inarno adalah Sarjana Ekonomi dari Universitas Gadjah Mada pada 1988. Setahun setelahnya, pria kelahiran Yogyakarta, 31 Desember 1962 ini, memulai karier sebagai Treasury Officer di PT Bank Uppindo.

Karier Inarno terus menanjak saat ditunjuk menjadi Direktur di PT Aspac Upindo Sekuritas periode 1991-1997. Selanjutnya, ia menjadi Direktur di PT Mitra Duta Sekuritas pada 1997-1999. Dia juga tercatat menjadi Direktur di PT Widari Securities tahun 1999. Pada 2003-2009, Inarno menjadi Presiden Direktur di PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia . Masih di perusahaan yang sama, ia menjadi komisaris periode 2013-2016. Puncaknya, ia menjabat presiden komisaris di perusahaan tersebut pada 2013-2016. Inarno juga tercatat sebagai Presiden Komisaris PT Maybank Kim Eng Securities tahun 2013-2014.

Inarno mengemukakan,  program kerja jajaran BEI menyasar tiga tujuan strategis, yakni pengembamgan produk baru yang akan dicapai melalui penyediaan sarana perdagangan untuk produk baru dan produk lainnua yang saat ini belum ditransaksikan melaui trading platform dan memperkuat straight through processing (STP) bersama pelaku dan regulator pasar modal lainnya serta melakukan harmonisasi regulasi untuk pengembangan produk baru.

Target yang kedua adalah meningkatkan jumlah perusahaan tercatat dan investor. Langkah ini diikuti dengan pembinaan perusahaan rintisan (start up), perusahaan UKM, kemitraan dengan perusahaan teknologi finansial, privatisasi BUMN dan BUMD, serta mengajak perusahaan pertambangan pada early stage yang didukung dengan penguatan tata kelola perusahaan dan standar pencatatan yang akomodatif bagi kebutuhan pasar. “Untuk meningkatkan jumlah investor, langkah yang dilakukan melalui penguatan program inklusi, edukasi, literasi pasar modal, dan simplifikasi proses pembukaan rekening jasabah yang didukung dengan peningkatan ketersediaan dan akses data , informasi serta refrensi pasar,” jelasnya.

Target ketiga adalah meningkatkan transaksi dan likuiditas dengan menyempurnakan fitur dan kapasitas sistem perdagangan, antara lain mengantisipasi metode perdagangan nasabah berbasis algorithmic trading dan high frequency trading serta meninjau ulang short selling, securities lending borrowing dan mengimplementasikan margin financing sesuai dengan kebutuhan pasar. “Ketiga tujuan strategis tersebut akan didukung  melalui perluasan jenis keanggotaan bursa dan meningkatkan kapasitas Anggota Bursa,” ucapnya.

Adapun, pasar Modal Indonesia pada 2017 mencatat kemajuan berarti dari segi jumlah perusahaan tercatat, penambahan jumlah investor yang aktif, serta penguatan ketahanan pasar. Semua ini berkat upaya Bursa Efek Indonesia (BEI) beserta segenap pemangku kepentingan yang berhasil melakukan terobosan di hampir seluruh aspek kegiatan pasar modal.

Pasar Modal Indonesia di sepanjang tahun 2017 mencatat rekor tertinggi dalam hal kapitalisasi pasar (Rp 7.052 triliun), indeks pasar (6.355,65 poin), dan transaksi pasar dari segi volume (11,95 miliar unit saham per hari), nilai (Rp 7,6 triliun per hari), maupun frekuensi perdagangan (312,48 ribu kali transaksi). Tito Sulistio, dalam (RUPST) BEI tahun 2018 di Main Hall BEI, pada Jumat pekan ini, mengatakan keberhasilan capaian tersebut antara lain dipicu oleh ekspansi basis investor ritel domestik berkat upaya pasar modal Indonesia menjangkau calon investor baru dari segala lapisan masyarakat untuk berinvestasi di BEI.

BEI bersama seluruh pemangku kepentingan pasar modal mampu meningkatkan literasi pasar modal menjadi 15%, merujuk survei Nielsen di tahun 2017, sehingga memberikan landasan yang lebih kokoh bagi pengembangan BEI di masa depan. Saat ini jumlah investor pasar modal telah mencapai 1,12 juta single investor identification (SID) walaupun di sisi lain, BEI memandang peluang peningkatan literasi pasar modal di kalangan masyarakat luas masih terbuka lebar.

“Oleh karena itu, BEI mengerahkan segala daya dan serangkaian inisiatif untuk meningkatkan literasi pasar modal. Antara lain dengan terus menggaungkan Kampanye Yuk Nabung Saham, optimasi fungsi pengembangan wilayah dan jangkauan BEI yang hingga akhir tahun 2017 telah mencakup 324 Galeri Investasi, 29 Kantor Perwakilan, dan 6 Pusat Informasi Go Public,” ucap Tito di sela-sela RUPST BEI.

Selain menjadi wahana investasi masyarakat, pasar modal juga semakin memiliki peran strategis sebagai salah satu sumber pembiayaan bagi dunia usaha. Pencatatan penawaran perdana saham telah berhasil dilakukan oleh 37 perusahaan di sepanjang tahun 2017 yang merupakan pencapaian tertinggi selama 23 tahun terakhir dengan jumlah penghimpunan dana sebesar Rp 9,56 triliun.

Dengan ditambah Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dan konversi Waran, maka pencatatan efek bersifat ekuitas sepanjang tahun 2017 berhasil menghimpun dana sejumlah Rp85,78 triliun, naik 13,23% dari Rp 75,76 triliun di 2016. Di sisi lain aktivitas pencatatan obligasi mencatat penghimpunan dana mencapai Rp 726,03 triliun atau meningkat 21,5 persen dibandingkan di 2016.

Di sepanjang tahun 2017, total penghimpunan dana dari pencatatan saham dan obligasi telah mencapai Rp 812 triliun yang merupakan jumlah terbesar sepanjang sejarah pertumbuhan pasar modal di Indonesia. Di sisi lain, BEI dengan perannya yang strategis juga terus mengedepankan aktivitas perdagangan efek secara teratur, wajar, dan efisien.

BEI tetap menjaga kelangsungan perseroan dengan melakukan efektivitas biaya pada setiap kegiatan. Sehingga sepanjang 2017 BEI berhasil memperoleh pendapatan usaha Rp 1,2 triliun serta memperoleh laba bersih Rp310 miliar. Jumlah kas dan setara kas yang terjaga di kisaran Rp 2,4 triliun dan meningkatnya nilai ekuitas BEI menjadi Rp3,6 triliun di akhir 2017.

BEI juga terus berupaya meningkatkan infrastruktur pasar modal, termasuk mengupayakan penyempurnaan infrastruktur teknologi informasi, pembaruan sistem perdagangan, serta pengembangan New Data Center yang akan mampu meningkatkan faktor ketersediaan perangkat teknologi informasi BEI hingga 99,98 persen dalam waktu dekat. BEI juga berhasil memperoleh sertifikat ISO 9001:2008 Quality Management dan ISO 27001:2013 Sistem Manajemen Keamanan Informasi.

Di Tahun 2017 BEI dinobatkan sebagai salah satu perusahaan Asia terbaik untuk tempat bekerja oleh HR Asia. Penghargaan ini mencerminkan lingkungan kerja yang kondusif bagi personil bursa yang berusia muda dan dinamis.

Pergantian Direksi

RUPST BEI 2018 juga mencatat beberapa agenda yang telah disetujui secara aklamasi oleh pemegang saham seperti Persetujuan atas Laporan Tahunan termasuk Laporan Tugas Pengawasan Dewan Komisaris Perseroan dan Pengesahan Laporan Keuangan Perseroan Untuk Tahun Buku 2017, Penunjukan dan Pengangkatan Akuntan Publik Perseroan Untuk Tahun Buku 2018, Persetujuan atas Pemberian Uang Jasa Bagi Anggota Direksi Perseoan Yang Berakhir Masa Baktinya, serta Pengangkatan Anggota Direksi Perseroan Masa Bakti 2018-2021

Ketujuh Anggota Direksi BEI yang berakhir masa baktinya adalah Tito Sulistio (Direktur Utama); Samsul Hidayat; Hamdi Hassyarbaini; Alpino Kianjaya; Nicky Hogan; Sulistyo Budi; dan Chaeruddin Berlian. RUPST BEI 2018 juga memperkenalkan ketujuh direksi baru yang telah ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berdasarkan surat nomor: S-74/D.04/2018 perihal Penyampaian Daftar Calon Direktur PT BEI Terpilih Untuk Masa Jabatan 2018-2021, yakni Inarno Djayadi (Direktur Utama); IGD N Yetna Setia; Laksono Widito Widodo; Kristian Sihar Manullang; Fithri Hadi; Hasan Fawzi; dan Risa Effenita Rustam.  RUPST ini dihadiri oleh 104 pemegang saham (atau 99,05 persen dari jumlah pemegang saham yang memiliki hak suara). Ke depannya, BEI akan terus mendorong pertumbuhan Pasar Modal Indonesia dengan tata kelola yang baik, personil yang berkompetensi tinggi, serta dukungan infrastruktur kelas dunia.

www.swa.co.id

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)