Ini Alasan Laba Bersih Jakarta Setiabudi Merosot 32%

Sampai kuartal III/ 2016, PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk. (JSI) membukukan pendapatan Rp779,9 miliar atau turun 7% dibandingkan tahun lalu di periode yang sama (YoY). Sementara itu, EBITDA (Earning Before Interest, Tax, Depreciation and Amortization) tercatat Rp231,8 miliar atau turun 16% dibanding tahun lalu. Begitu halnya laba kotor Rp548,1 miliar atau turun 5% dibanding tahun lalu.

Bagaimana dengan laba bersihnya? Laba bersih perusahaan properti ini tercatat Rp96 miliar , atau anjlok 32% dibanding tahun lalu (YoY). Penurunan ini diakibatkan oleh belum stabilnya perekonomian baik dari dalam maupun luar negeri sehingga berdampak kepada sektor properti terutama properti yang menargetkan segmen menengah atas. Selain itu, penjualan residensial JSI mengalami penurunan sehingga memengaruhi pendapatan perseroan.

img_9052

Untuk meningkatkan kinerja perseroan beberapa langkah yang diambil antara lain mengoptimalkan lahan yang sudah ada dan menambah land bank di beberapa daerah di luar Jawa. JSI akan melanjutkan pengembangan Puri Botanical, Jakarta Barat menjadi kawasan superblock. Perseoran juga menambah land bank di Medan seluas 665 hektar yang nantinya akan dikembangkan menjadi proyek mixed-use.

Proses akuisisi lahan di Medan dilakukan bertahap dan hingga akhir tahun ini, dana yang sudah digelontorkan untuk proses akusisi sebesar Rp300 miliar. Selain Medan, JSI juga menambah lahan seluas 17 hektar di daerah Belitung yang akan dikembangkan untul resort di tepi pantai. Dengan penambahan lahan di 2 daerah ini, maka total lahan yang dimiliki oleh JSI yang akan digunakan untuk pengembangan di masa depan mencapai 750 hektar.

Di lini perhotelan, renovasi total Bali Hyatt masih dilakukan dan diperkirakan akan dibuka kembali hingga akhir 2018. Renovasi ini meliputi penambahan ruang rapat dan jumlah kamar menjadi 375 kamar. Setelah renovasi selesai, Bali Hyatt akan rebranding menjadi Hyatt Regency Bali.

Hotel Andaz Bali akan dibangun bersebelahan dengan Hyatt Regency di lahan seluas 6,22 hektar. Konsep yang diusung untuk hotel baru ini adalah butik hotel bertema kampung Bali yang terdiri dari vila, suite room, dan 145 kamar. Proyek ini diperkirakan akan selesai di 2019.

Untuk renovasi kedua hotel ini, JSI menyiapkan investasi Rp1,2-1,3 triliun. “Kedua hotel di Bali ini akan membantu kenaikan pendapatan perseroan hingga 50%. Hal ini dikarenakan 2 hotel kami ini memberikan trend terbaru di daerah Sanur, Bali,” ujar Lie Erfurt Chandra Putra Asali, Direktur JSI.

Renovasi bertahap dari 434 kamar di Mercure Convention Center Ancol masih berlanjut dimana saat ini 216 kamar di tower building dan main building telah selesai di renovasi dan dipasarkan. JSI juga sedang membangun Pop Hotel di Semarang yang akan terdiri dari 134 kamar. Hotel budget ini direncanakan akan beroperasi akhir 2017.

Dari lini proyek residensial dan strata, JSI mengembangkan premiu residential di lahan 4,5 hektar yang dinamai Jogja One Park. Di Jogja One Park ini, akan dibangun 123 townhouse dan 9 shophouse untuk retail yang sudah mulai dipasarkan. Kemudian, perseroan sedang dalam proses mengembangkan superblock di daerah Mega Kuningan Jakarta Selatan yang terdiri dari gedung perkantoran, hotel, apartemen, ritel dan ballroom di lahan seluas 4 hektar. Pembangunan superblock ini akan dibagi menjadi 2 tahap, tahap pertama dari pembangunan ini diperkirakan akan membutuhkan investasi US$150-160 juta.

Di 2016, JSI membagikan dividen tahun buku 2015 sebesar Rp39,4 miliar kepada pemegang saham. Dengan demikian selama 5 tahun JSI telah membagikan dividen tunai dengan rata-rata pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) sebesar 14%.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)