Kiat Emiten Ritel Menghalau Badai di Era Digital

Sektor ritel mengalami guncangan kendati indikator makro perekonomian nasional sudah lebih baik. Toko-toko di pusat perbelanjaan di Jakarta, seperti Glodok atau WTC Mangga Dua, dikabarkan banyak yang tutup lantaran konsumen enggan datang ke tempat itu.

Daya beli masyarakat yang lemah disebut sebagai faktor penyebab menurunnya penjualan sektor ritel. Faktor lainnya adalah perilaku konsumen yang berubah lantaran beralih ke toko dalam jaringan (online) untuk membelanjakan uangnya. Bagi emiten sub sektor ritel, yang umumunya mengandalkan penjualan dari toko konvesional, gejala itu merupakan tantangan bisnis yang harus disiasati agar roda bisnis perusahaan terus berlanjut ke depannya.

Manajemen perusahaan sudah memasang kuda-kuda untuk bertarung di pasar ritel online. Sebut saja PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), dan  PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) yang memiliki toko online. Reza Priyambada, Kepala Riset PT Binaartha Sekuritas, menyebutkan kinerja sektor ritel dibayangi dengan maraknya kemunculan e-commerce.  Dalam perkembangannya, peritel besar tidak hanya harus bersaing dengan ritel besar lainnya, melainkan juga bersaing dengan pengecer online yang semakin banyak bermunculan belakangan ini.

Prospek ekonomi digital diperkirakan akan cerah. Hal ini menyajikan peluang untuk e-commerce masuk sebagai solusi belanja yang lebih nyaman, tanpa harus jauh mencari mal. Hadirnya e-commerce menyebabkan persaingan semakin ketat dan berimbas pada harga jual yang semakin murah. Situasi ini tentu yang akan lebih diuntungkan adalah e-commerce ketimbang ritel besar. Para pelaku ritel besar pun kini tidak mau kalah dan meluncurkan media belanja online-nya.

Reza menyebutkan kehadiran e-commerce sebaiknya dijadikan peluang bagi emiten ritel sebagai diversifikasi lini usaha untuk menggenjot pendapatan. Kehadiran mataharimall.com, merupakan kecerdikan Grup Lippo yang mampu menangkap peluang pada sisi ritel. “Kehadiran e-commerce membuat banyak pelaku ritel membuka pelayanan belanja online. Seperti, PT Ace Hardware Indonesa Tbk  memiliki platform online bernama ruparupa.com, PT Matahari Department Store Tbk  memiliki mataharimall.com dan mataharistore.com, sementara PT Mitra Adiperkasa Tbk memiliki platform online mapemall.com,” tutur Reza dalam riset yang dipublikasikan di Jakarta, Senin (31/7/2017).

Pada kesempatan terpisah, Teresa Wibowo, CEO PT Omni Digitama Internusa (ruparupa.com), menyebutkan  ruparupa.com menjual produk Grup Kawan Lama yang terafiliasi dengan ACES, yakni ACE, Informa dan Toys Kingdom. “Selain itu kami juga menjual barang-barang market place lainnya. Di online, kami lebih bebas untuk menjual produk apa saja. Sampai saat ini sudah ada puluhan brand yang tergabung dengan ruparupa.com contohnya Philips. Kami juga menjual barang-barang yang belum dijual di ACE Store dan mengajak,” jelas Teresa.Produk di ruparupa.com meliputi produk home living, kesehatan dan olahraga, elektronik, serta mainan.

Kontribusi penjualan e-commerce terhadap total penjualan masih dibawah 1%.”Tapi kami melihat ini sebagai tren yang ke depannya akan berkembang.  Kita lebih menonjolkan dan memperbanyak promosi untuk menarik costumer berbelanja di ruparupa.com. Biasanya costumer mencari barang-barang dengan harga murah. Kami memiliki membership yang cukup besar di Kawan Lama, kami mencoba mengundang mereka untuk berberbelanja di ruparupa.com,” papar Teresa mengenai kiat ruparupa.com menjaring konsumen.

Reza memproyeksikan ACES akan mendapatkan sedikit pengaruh dari berkembangnya e-commerce. “Kami merekomendasikan trading sell (daily) atau take profit ketika harga saham ACES gagal bertahan di level Rp 1.125. Support Rp 1.110-1115 dan resistance di Rp 1.135-1.145,” ungkap Reza.. Harga saham ACES pada perdagangan Senin turun 2,2%, menjadi Rp 1.110 dari sebelumnya Rp 1.135. Laba bersih ACES di semester I tahun ini naik menjadi Rp 328 miliar, atau tumbuh naik 37,8% dari Rp 238 mliar di periode yang sama tahun lalu.

Sementara, laba bersih LPPF pada semester I/2017 naik sebesar 15,6%, menjadi Rp 1,3 triliun dibandingkan dengan Rp 1,1 triliun di semester I tahun 2016. Pada periode yang sama, pendapatan bersih tercatat sebesar Rp 5,7 triliun, atau melonjak 10,8% dibandingkan Rp 5,1 triliun. Saat ini, Matahari Department Store memiliki 156 gerai di 71 kota di Indonesia, 4 gerai barunya resmi dibuka pada semester I tahun ini di Tegal (Jawa Tengah), Madiun, Jember  dan Medan (Sumatera Utara), dan membuka 1 gerai baru pada bulan Juli 2017 di Cirebon (Jawa Barat).

Richard Gibson, CEO dan Wakil Presiden Direktur Department Store mengatakan pelemahan konsumsi domestik yang belakangan ini terjadi di Indonesia tetap menjadi perhatian manajemen perseroan. Namun kami tetap yakin bahwa hal ini hanya merupakan satu siklus dan bukan merupakan tantangan yang struktural, dan konsumen akan kembali membaik dalam jangka waktu menengah. “Kami juga percaya bahwa inisiatif kami yang berfokus kepada pelayanan kebutuhan konsumen, dengan senantiasa memberikan peningkatan dalam produk yang ditawarkan, akan membuat kami bertahan tidak hanya dari tantangan makro jangka pendek, namun juga untuk meraih pertumbuhan yang berkelanjutan dalam jangka panjang,” ujar Richard. (*)

Reportase : Vicky Rachman & Anastasia Anggoro Sukmonowati.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)