Kimia Farma Gandeng Korea Bangun Pabrik Baru

PT Kimia Farma Tbk. (KF) siap membangun pabrik bahan baku obat bulan ini. Jika tak ada aral melintang, pembangunan pabrik diperkirakan memakan waktu dua tahun dan diperkirakan rampung 2017 dan siap melakukan komersialisasi pada tahun 2018.

Dalam pembangunan pabrik, KF akan bekerja sama joint venture dengan perusahaan asal Korea Selatan Sungwun Pharmacopia Co. Ltd. Nantinya perwakilan Sungwun, yaitu PT Sungwun Pharmacopia Indonesia akan membuat perusahaan patungan dengan KF yang diberi nama PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia.

Tepat hari ini, KF beserta Sungwun mengumumkan dimulainya tahap groundbreaking tanda di Pabrik Bahan Baku Obat (API) seluasluas 5.000 m2 dari 6 Ha tersebut. Lokasi pabrik terdapat di Jalan Angsana Raya Blok A 06 – 001, Delta Silicon 1, Kawasan Industri Lippo Cikarang, Bekasi.

Apotek Kimia Farma (foto : istimewa) Apotek Kimia Farma (foto : istimewa)

Sungwun dipilih KF berkolaborasi lantaran perusahaan tersebut mampu menyanggupi melakukan alih teknologi dan alih pengetahuan tentang produksi bahan baku obat, dengan memberikan training di Korea Selatan selama satu tahun. Sebagai tambahan Sungwun juga memberikan jaminan pembelian produk dengan sistem take or pay, atas seluruh hasil produk yang dihasilkan. Selama ini, Sungwun diketahui telah memiliki jaringan pasar yang cukup luas yaitu di Jepang dan Amerika.

Untuk saat ini, jenis bahan baku obat yang akan diproduksi ada 8 item yaitu : Simvastatin, Atorvastatin, Rosuvastatin, Pantoprazole, Esomeprazole, Rabeprazole, Clopidogrel dan Sarpogrelate dengan total kapasitas produksi 30 ton per tahun. Produksi  bahan baku obat ini untuk memenuhi 100% kebutuhan seluruh industri farmasi di Indonesia untuk ke delapan bahan baku tersebut dan selebihnya untuk pasar ekspor.

Selain memproduksi bahan baku obat aktif, pabrik ini juga akan memproduksi High Function Chemical (HFC) yang dapat digunakan sebagai bahan baku kosmetika dan food suplement, yang seluruh hasil produk HFC ini akan di ekspor ke Korea, Jepang dan Amerika.

Seperti diketahui, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakui industri farmasi Indonesia masih ketergantungan bahan baku obat dari luar negeri dengan 90% impor. Bahkan, nilai impor pada 2014 lebih besar dari nilai ekspor 6,68% atau total sebesar US$ 900 juta.

 

Baca juga:

2017, Kimia Farma Targetkan 1000 Apotek

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)