Kolaborasi Stern dan Equitativa di Bisnis Properti

Stern Resources Group adalah perusahaan investasi yang berbasis di Amerika Serikat (AS). Dikomandani Hartadinata Harianto, perusahaan ini telah melakukan investasi ke beberapa negara, antara lain di AS sendiri dan di kawasan Asia, termasuk Indonesia dan Malaysia.

Saat ini, Stern juga mulai menjajaki investasi di Eropa (Yunani) dan Timur Tengah. Investasinya dibenamkan ke banyak bidang: real estate, health care, manufaktur, serta minyak & gas. Di bidang real estate, Stern bermitra dengan Equitativa Group, salah satu perusahaan manajemen aset yang fokus pada pengelolaan investasi real estate terbesar di Dubai.

Menurut Hartadinata, proses terjadinya kemitraan antara Stern dan Equitativa melalui perantara pemerintah. Kala itu pihaknya dikontak oleh Pemerintah Dubai yang memperkenalkan kepada Stern beberapa perusahaan di bidang real estate, antara lain Equitativa. “Dari situ kami bicara (dengan Equitativa) dan kami menemukan satu sinergi,” ujarnya.

Kedua perusahaan membentuk joint venture agreement dengan nilai investasi mencapai US$ 500 juta. Hal tersebut dilakukan karena keduanya melihat di Indonesia banyak orang yang memiliki aset tetapi tidak memiliki uang tunai.

“Itu menjadi peluang karena kami sebagai pihak yang memegang cash dan mereka (orang Indonesia) pemilik aset. Dengan begitu, kami bisa menawar aset mereka dengan harga yang bagus. Dan, kebetulan konsep bisnis seperti ini sudah menjadi pengalaman Equitativa di Dubai,” ungkapnya.

“Dari kerjasama itu, kami menemukan banyak aset menarik di Indonesia. Kami tertarik mengakuisisi dan membantu mengolah aset,” kata Hartadinata, yang menemukan sinergi strategis antarkeduanya. “They always look at Indonesia as a big country but they don’t have acces,” lanjut kelahiran Sydney, 21 April 1994, ini.

Hal itu pun sejalan dengan rencana bisnis Stern. Yaitu, pertama, membeli aset dengan harga yang strategic. Kedua, mengumpulkan aset tersebut dan kemudian akan dikelola dengan baik.

“Karena kami banyak tahu, bahwa ada banyak pemilik hotel, tetapi mereka (sebetulnya) bukan pemilik hotel. Jadi, kadang-kadang aset ini tidak di-manage dengan baik dan kadang-kadang di-manage oleh keluarga tetapi sudah cukup tua manajemennya, sehingga mereka juga sudah nggak sanggup lagi untuk manage,” kata lulusan S-1 Ekonomi, Stony Brook University New York, tahun 2014 ini.

Hartadinata menegaskan, mengelola aset itu perlu passion dan banyak menyita waktu. “Nah, kami membeli dengan harga strategic, kemudian kami manage dengan profesional dan kami ingin mengumpulkan aset tersebut. Sehingga, akhirnya setelah sudah sehat, akan kami listing-kan (go public) di bursa saham,” kata mantan investment banker dari Houlihan Lockey San Fransisco ini.

Sudah adakah aset potensial yang dilirik di Indonesia? “Iya sudah ada, ada banyak. Kami sendiri baru saja membuka kantor di Treasury Tower, Jakarta, sudah full representative. Kami juga sudah ada beberapa aset yang kami make over dan sedang kami negosiasi offering,” katanya. Aset-aset tersebut ada di Jakarta, Surabaya, dan Bali, berupa hotel, ritel, mal, dan rumah (landed house).

Jadi, mengapa Equitativa memilih Indonesia? “Sangat simpel, karena Indonesia negara besar dan belum banyak pemain global di Indonesia. Sekarang Indonesia sendiri sedang banyak mengejar injeksi modal dari luar,” kata lulusan S-2 Master Finance, Claremont McKenna College California, tahun 2015 ini.

Target Hartadinata, dengan investasi US$ 500 juta itu, bisnisnya bisa tumbuh beberapa kali lipat dalam beberapa tahun ke depan. “Jadi, kenapa kami memilih Indonesia? Karena, cukup besar (potensinya). Kalau di AS semua orang sudah memiliki dana-lah. Kalau kami masuk di China dan India, walaupun negara besar, pemain di sana sudah cukup banyak. Sementara di Indonesia peluangnya banyak, pemainnya masih sedikit,” ungkapnya membandingkan.

Jadi, apa yang dilakukan Stern dan Equitativa diklaim tidak hanya menguntungkan kedua perusahaan, tetapi juga Indonesia. Pasalnya, local money di Indonesia saat ini sedang “dry”, kurang cukup, sangat butuh sekali suntikan dana segar agar bisa likuid lagi.

“Karena banyak yang butuh dana segar dan di lain sisi mereka punya aset, kami bisa dapatkan aset mereka dengan harga strategic dan menyuntikkan dana segar untuk menyehatkan kembali asetnya. Jadi, dari sisi mereka, mereka dapat likuiditas untuk melanjutkan usaha-usaha kebutuhan mereka yang lain,” paparnya.

Harapannya, setelah dibeli, aset-aset di Indonesia itu akan disehatkan kinerjanya sehingga bisa go public di bursa. “Saat kami IPO-kan di tahun depan, semua aset ini harganya naik, (sejalan) dengan recovery-nya Covid-19 dan kondisi ekonomi, karena itu akan mendukung,” ungkap Hartadinata tentang rencana bisnisnya. (*)

Dede Suryadi dan Arie Liliyah

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)