Langkah BRI Menjadi The Best Wealth Creator

Haru Koesmahargyo, Direktur Strategi Bisnis dan Keuangan BRI

Bank BRI menyabet peringkat pertama dalam survei SWA100. Haru Koesmahargyo, Direktur Strategi Bisnis dan Keuangan BRI, memaparkan strategi perusahaannya untuk menjadi perusahaan yang kuat secara bisnis pada Malam Penghargaaan ASEAN Best Public Companies SWA 100: Best Wealth Creator di Jakarta (26/7/2018).

Haru menjelaskan, ada lima poin yang menjadi alasan mengapa ranking BRI bagus. Pertama, BRI dikenal sebagai bank untuk rakyat kecil dan mikro. Mikro yang menabung BRI itu sekarang 33% dari total. “Setelah kita krisis, kita sempat tumbuh sangat tinggi dan mikronya mulai menurun porsinya. Kita melihat bahwa sumber pertumbuhan kamiada di mikro, di pengusaha kecil dan pedesaan. Karena ternyata dari 250 populasi Indonesia, 40% belum di perbankan. Ini adalah potensi paling besar yang bisa kita gali. Maka tidak heran BRI punya total kantor 1500,” ungkapnya.

Kedua, jumlah nasabah korporasi di BRI yang saat ini sebesar 27% direncanakan untuk pelan-pelan diperkecil dan dialihkan ke pasar mikro yang lebih tebal. Ketiga, digitalisasi. Para mantri, pemasar BRI di desa perlu waktu lama untuk pergi menemui satu dua orang, karena jaraknya yang jauh. Waktu pulang pergi mantri bisa memakan enam jam, dan saat kembali ke kantor, sudah sore. Jadi, solusinya adalah dengan digitalisasi. “Kami belikan para mantri di desa itu mobile phone, kita inject dengan aplikasi dan mereka pergi tidak usah pulang lagi. Jadi mereka foto lalu dikirim ke kantor. Begitu dapat lima, tidak usah pulang. Ini yang kita lakukan digitalisasi. Ini sudah keniscayaan, kalau tidak kita ketinggalan. Tapi mengimplementasikan ke 1500 tidak mudah juga, tapi kami usahakan perlahan-lahan tahun depan sudah selesai.”

Keempat, kapasitas IT. Pada tahun 2016, BRI meluncurkan satelit. Saat ini satelit tersebut sudah digunakan 100%. Kantor unit BRI memang ada yang sampai pelosok, namun tetap tidak cukup. Dengan jumlah kecamatan di Indonesia sebanyak 6 ribu, tidak semua desa tercakup. Maka dari itu, Haru menyatakan bahwa perusahaan perlu membuat agen bank yang kemudian diberi nama BRILink. Saat ini, ada sekitar 20 ribu BRILink yang akhirnya tidak membuat nasabah harus berjalan jauh. Nyatanya, nasabah lebih memilih pergi ke BRILink dikarenakan jam operasi yang lebih fleksibel dari unit BRI.

Kelima, optimalisasi perusahaan. “Rupanya kita tidak bisa hidup hanya dari perusahaan induk. Tahun 2014, BRI menjadi bank terbesar, asetnya nomor satu. Kemudian tahun 2016, kami menembus Rp1.000 triliun untuk pertama kali. Tapi kita lupa tidak bisa mengandalkan hidup dari perusahaan bank saja. Makanya kita perlu juga mengembangkan layanan keuangan non-bank termasuk asuransi syariah dan lain-lain. Kita buka kantor layanan syariah. Kami ada kantor layanan syariah, jadi bank BRI dengan desktop syariah. Ini salah satu cara optimasi,” tutur Haru.

Dalam pemaparannya, Haru juga menjelaskan, “SWA100 merupakan sebuah sosisialisasi yang sangat bagus kepada masyarakat bahwa inilah salah satu cara yang dianut, bahkan ini internasional, bagaimana kita mengukur return kepada shareholders . Return ini bukan hanya sekedar laba,deviden, tapi juga market cap. Total return to shareholders. Bukan hanya itu saja, kalau perusahaan itu ternyata beroperasi dengan resiko tinggi, cost of equity mahal, jatuhnya bisa kecil return-nya nol atau negatif. Kalau value addednegatif maka tidak akan dipanggil SWA.”

Ia mengapresiasi bahwa SWA mengingatkan perusahaan untuk tidak hanya bertarung di kandang sendiri, tapi juga di regional. SWA100 juga merupakan apresiasi kepada Indonesia juga dan dunia bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia dapat menyampaikan value kepada shareholder.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)