Listing di BEI, Saham MTEL Oversubscribed

Mitratel telah mengelola lebih dari 28.000 menara telekomunikasi yang tersebar di seluruh Indonesia (Foto: Eva/Swa)

Saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk atau Mitratel resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode perdagangan ‘MTEL’ Hal ini ditandai dengan Opening Bell Ceremony yang dilakukan oleh Direktur Utama Telkom, Direktur Utama Mitratel beserta jajaran pada Senin (22/11/2021) di Bursa Efek Indonesia. Besaran saham MTEL  itu dipatok pada harga Rp800 per saham.

Pada Senin (22/11/2021) mengacu data RTI, harga saham MTEL dibuka di posisi Rp 850, namun berikutnya bergerak turun. Level tertinggi  saham MTEL mencapai Rp 890 dan terendahnya Rp 765. Sementara, volume perdagangan MTEL mencapai 1,38 miliar saham dengan total transaksi Rp 1,09 triliun.

Dari sisi laba per saham atau price to earning ratio (PER), saham MTEL ini sebesar 2,86 kali dengan kapitalisasi pasar Rp 63,89 triliun. Hingga penutupan Senin sore, investor asing mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) saham MTEL di semua pasar sebesar Rp 173,86 miliar.

Kendati pada penutupan perdagangan  harga saham MTEL merah, hal tersebut terjadi lantaran secara valuasi (penilaian pasar), enterprise value/EBITDA Mitratel sebesar 13,3 kali. Angka ini hampir sama dengan saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yang 12,8 kali.

Emiten yang meruapakan anak usaha PT Telkom  (Persero) bergerak di bisnis menara telekomunikasi ini melangsungkan penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) dengan jumlah sebanyak 23.493.524.800  lembar saham biasa atas nama dengan nilai keseluruhan nilai Penawaran Umum Perdana Saham adalah sebesar Rp18.794.819.840.000 atau sekitar Rp18,79 triliun.

Direktur Investasi Mitratel Hendra Purnama menjelaskan bahwa dana dari hasil penawaran umum perdana (IPO) akan digunakan mengembangkan kompetensi dan kapabilitasnya menjadi perusahaan unggul profesional transparan.

Melalui IPO ini Mitratel akan memperkuat posisinya sebagai The Best TowerCo In The Industry yang solid dan independen. Hal ini didukung dengan masuknya investasi SWF dari Indonesia dan internasional menunjukkan bahwa Mitratel memiliki track record kinerja yang baik dan potensi pertumbuhan yang tinggi di masa yang akan datang. Sesuai rencana, perseroan akan menggunakan 40% dana hasil IPO untuk belanja modal organik, 50% untuk anorganik, dan 10% untuk modal kerja serta kebutuhan perseroan lainnya.

Mitratel merupakan perusahaan menara telekomunikasi terbesar di Indonesia yang berdiri sejak 2008. Mitratel telah mengelola lebih dari 28.000 menara telekomunikasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain bisnis utamanya di bidang menara telekomunikasi, Mitratel juga melakukan ekspansi porotfolio jasa turunan menara seperti Project Solutions, Managed Services, Fiberisasi dan Digital Services untuk mengakselerasi iklim digital di Indonesia.

Emiten ini termasuk perusahaan telko-infrastruktur yang secara sentimen sektoral/industri masih prospektif ke depannya. Jika terjadi fluktuasi atas pergerakan harga sahamnya semisal muncul sentimen-sentimen, hal itu lebih pada sudut pandang teknis pelaku pasar.

Di mata analis Verdhana Sekuritas Indonesia, Mitratel pun diproyeksikan sebagai perusahaan dengan net debt to EBITDA terendah sebesar 0,09 kali pada 2022. Dengan posisi utang yang rendah, perseroan memiliki kemampuan untuk mendapatkan pinjaman guna merealisasikan akuisisi menara dalam jangka panjang.

Berbagai faktor tersebut mendorong Verdhana Sekuritas Indonesia merekomendasikan beli saham MTEL dengan target harga Rp 1.200. Target harga tersebut mengasumsikan EV/EBITDA sekitar 18,1 kali.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)