Listing Saham IPCC Direspons Antusias Investor

Saham PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. (IKT) dengan kode perdagangan IPCC resmi tercatat (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) per Senin, 9 Juli 2018. Harga penawaran umum perdana saham itu ditetapkan Rp1.640 per lembar saham dan dilepas ke publik sebanyak 509.147.700 saham dengan free float 28% dari jumlah saham.

Beberapa menit setelah listing, saham IPCC bergerak ke atas atau naik 6,7 menjadi Rp1.750 per saham. Setelah itu, volume perdagangan saham di pasar reguler tercatat 163.712 unit dengan nilai transaksi sebesar Rp 27,899 miliar. Sementara itu, frekuensi perdagangan saham IPCC sebanyak 1.167 kali.

Chiefy Adi Kusmargono, Direktur Utama IKT, menjelaskan, dana segar hasil IPO IPCC beberapa waktu lalu mencapai Rp835 miliar. Stelah dikurangi biaya emisi, dana itu akan dimanfaatkan 50 % untuk belanja modal, 25% untuk pembayaran kontrak sewa lahan jangka panjang di Jakarta Utara, dan sisanya 25% untuk modal kerja‎.

‎Untuk meningkatkan kepercayaan investorr, manajemen IPCC menunjuk PT Bahana Sekuritas dan PT Mandiri Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi (underwriter). ‎Sedangkan RHB akan bertindak sebagai agen penjual internasional.

Menurut Chiefy, ketika IKT berubah menjadi perusahaan publik, ini akan memungkinkan untuk melakukan hal yang lebih besar untuk pencapaian lebih tinggi sesuai Good Corporate Governance dari apa yang telah dilakukan selama ini. IKT memiliki profil keuangan yang sehat dan tim manajemen profesional yang menjamin optimisme untuk terus memperluas jaringan dan menciptakan lebih banyak potensi dalam membangun kolaborasi kelas dunia untuk menjaring investor domestik dan global.

Selama ini anak perusahaan Pelindo II ini bergerak pada bidang jasa pelayanan terminal kendaraan. Jasa yang ditawarkan meliputi Stevedoring, Cargodoring, Receiving, & Delivery. Selain itu juga melayani pelayanan jasa lainnya, yaitu Vehicle Processing Center dan Equipment Processing Center. Perseroan menyediakan terminal yang disiapkan tak hanya untuk mobil, melainkan alat berat, truk, bus, dan suku cadang. Juga, mengelola lahan seluas 31 hektare dengan kapasitas 700 ribu unit kendaraan per tahun.

Sesuai rencana, pada 2022, IKT menargetkan lahan seluas 89,5 hektare dengan kapasitas 2,1 juta kendaraan. Dengan demikian, IKT diproyeksikan menjadi pengelola terminal mobil terbesar ke-5 di dunia.

Kinerja keuangan IKTtahun 2017 ciamik. Pendapatan yang dibukukan sebesar Rp422,1 miliar, atau naik dibandingkan tahun 2016 sebesar Rp314,3 miliar. EBITDA pun tumbuh menjadi Rp175,4 miliar dari Rp133,4 miliar. Laba kotor meningkat menjadi Rp208,6 miliar dari Rp164,5 miliar, dan laba bersih melningkat dari Rp98,4 miliar menjadi Rp130,1 miliar.

Adapun total aset per akhir 2017 mencapai Rp336,3 miliar, naik dibandingkan 2016 mencapai Rp264,9 miliar. Liabilitas juga tumbuh dari Rp79,3 miliar menjadi Rp 99,2 miliar. Lalu, ekuitas meningkat menjadi Rp237 miliar dari Rp185,6 miliar dan current ratio sebesar 3,3 kali, naik dari 2,4 kali.

Dalam kesempatan terpisah, manajemen PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC mengapresiasi antusiasme investor dalam merespons penjualan saham perdana IKT dengan kode saham IPCC itu. Direktur Utama IPC, Elvyn G. Masassya, mengatakan, respons investor yang begitu positif menunjukan bahwa saham IPCC memiliki prospek yang bagus.

"Kami mengapresiasi respons positif yang ditunjukkan investor atas listing-nya saham IPCC di BEI. Hal itu menunjukkan kepercayaan publik yang begitu besar atas prospek PT lndonesia Kendaraan Terminal Tbk," ujar Elvyn dalam keterangan rilisnya di Jakarta.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)