Madusari Incar Dana IPO Hingga Rp298 Miliar

PT Madusari Murni Indah Tbk.(MRI) siap go public dengan melakukan initial public offering (IPO) di Jakarta (7/8/2018). Perusahaan holding yang menaungi PT Molindo Raya Industrial (produsen etanol), PT Molindo Inti Gas (pabrik CO2), dan PT Sumber Kita Indah (perusahaan trading dan distribusi) ini akan menawarkan 495.946.000 saham baru atau  sekitar 20% dari modal yang ditempatkan dan disetor perseroan.

Harga perdana saham tersebut ditawarkan Rp500 – 600 per lembar saham. Dengan demikian, perseroan berpotensi meraih dana IPO sebesar Rp247,97 miliar - 297,57 miliar.

Arief Goenadibrata, Direktur Utama PT Madusari Murni Indah Tbk. menjelaskan, dana yang diperoleh dari IPO, sebanyak 94,45% akan disalurkan kepada anak perusahaan untuk meningkatkan kapasitas produksi dengan membangun pabrik serta membeli beberapa mesin baru. Sementara itu, sisanya akan disalurkan untuk pembangunan fasilitas distribusi berupa gudang di daerah Jawa Timur.

Mengingat permintaan etanol yang tinggi, MRI terus meningkatkan kapasitas produksi melalui pembangunan pabrik baru di Lampung. “Saat ini pabrik kami hanya satu, ada di Lawang, itu menghasilkan 80 juta liter setiap tahun. Tahun lalu, kami membukukan penjualan 77 juta liter, sehingga terpakai semua. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan tambahan supply, kami tidak mampu karena tidak punya pabrik lagi. Karena itu kami melakukan IPO agar dananya bisa membantu kami membangun pabrik kedua di Lampung. Di sana nanti akan menambah kapasitas sebesar 50 juta liter, sehingga total produksi Madusari setelah pabrik tersebut selesai 130 juta liter setiap tahun.,” jelas Arief. Adapun investasi yang digelontorkan untuk pabrik tersebut sekitar Rp 550 miliar. Kebutuhan dana itu, sekitar Rp 200 miliar akan disediakan dari IPO, sementara sisanya akan didapatkan dari pihak ketiga, bank, dan perusahaan.

Arief menambahkan, diperkirakan pabrik tersebut dapat mulai beroperasi mulai tahun 2020. “Peletakan batu pertama sudah dilakukan 25 Juli 2018. Normalnya, pembangunan pabrik butuh waktu 2 tahun, sehingga sekitar tahun 2020 akan selesai. Tapi kami akan terus lakukan percepatan sehingga tahun 2019  sudah  mulai mendapatkan extra capacity. Mungkin tidak bisa full, tapi kami akan berusaha melakukan itu," jelasnya.

Untuk menjamin kebutuhan bahan baku yang berasal dari tetes tebu, MRI bekerja sama dengan jaringan pabrik gula di seluruh Indonesia. Tetes tebu atau mollases merupakan produk limbah dari proses tebu di pabrik gula diproses oleh MRI melalui proses fermentasi dan destilasi menjadi etanol dan gas CO2, sementara limbahnya diolah menjadi pupuk. Dengan begitu, MRI menerapkan prinsip zero waste dalam produksinya.

Arief menambahkan, MRI juga ingin menurunkan ketergantungan terhadap satu bahan baku tetes tebu, serta ingin mengembangkan alternatif jagung melalui kerja sama dengan beberapa pihak. Bahan alternatif tersebut akan diolah di pabrik yang rencananya akan dibangun di Lampung. Kini, MRI  memiliki pangsa pasar etanol 55% di pasar nasional. Menurut Donny Winarno, Direktur PT Madusari Murni Indah Tbk. perkembangan pasar consumer good di Indonesia sangat bagus, sekitar 4-5%, terutama di sektor kosmetik, farmasi, dan household yang menjadi MMI setiap tahunnya.

Arief juga menjelaskan mengenai pasar ekspor, “Pertumbuhan pangsa pasar di luar negeri cepat, karena itu kami ingin memperbesar pasar ekspor. Ekspor kami sekitar 35-40% dari revenue kami. Mengenai negaranya itu tersebar, kami masih ada di daerah regional, di antaranya Taiwan, Vietnam, Thailand, dan Filipina. Itu untuk etanol. Kami juga mengembangkan pupuk ke New Zealand. Kami pun telah melakukan ekspor perdana pupuk kalium tahun lalu," ungkapnya.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)