Meneropong Bisnis Emiten Barang Konsumsi di Bulan Puasa

Kegiatan produksi karyawan Garudafood. (Foto : Istimewa)

Pandemi wabah Covid-19 di Indonesia meningkatkan kecenderungan konsumen meningkatkan belanja barang-barang konsumsi makanan dasar dan produk kesehatan. PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD), perusahaan makanan dan minuman ringan yang terkenal dengan salah satu produknya Kacang Garuda, berusaha menghindari over-inventory dengan fokus pada kemampuan produksi dan penjualan produk-produk fast moving (cepat laku dipasaran). Produksi perusahaan di bawah 5 merek yaitu Gery, Garuda, Chocolatos, Leo dan Clevo diprediksi analis pasar modal dibeli oleh konsumen sebagai makanan ringan yang dikonsumsi tatkala sedang bekerja di rumah (work from home/WFH).

Emiten GOOD menargetkan produksi dan penjualan perusahaan akan naik hingga 15% pada kuartal II tahun 2020 ini. Sementara target kenaikan penjualan Ramadhan sekitar 10%-15%. Khusus periode Ramadhan dan Lebaran umumnya perusahaan akan fokus meningkatkan penjualan pada produk musiman biskuit atau produk dengan kemasan khusus seperti kaleng dan toples plastik.

Penjualan pada momen Ramadhan dan Lebaran di tengah pandemi virus corona dilakukan dengan menggandeng e-commerce, seperti Tokopedia, Shopee, Blibli.com, Bukalapak.com dan Lazada. Perusahaan juga melakukan kampanye program promosi Ramadhan dengan mengedukasi keunggulan produk dan campaign produk yang unik serta kreatif.

Guna mendukung program physical distancing, perseroan membatasi frekuensi interaksi langsung, seperti kunjungan pasar dan kunjungan sales rutin lalu menggantinya dengan pemanfaatan teknologi virtual yang telah disediakan perusahaan untuk beberapa area. Selanjutnya proses pembayaran menggunakan metode pembayaran online melalui transfer antar-bank.

Secara teknikal, harga saham GOOD dari awal IPO pada 12 Oktober 2018 di harga Rp 2.970 dan tren saham GOOD cenderung turun dan sudah terdiskon 58%. Pada perdagangan Rabu pekan ini, saham GOOD ditutup menguat 3,33% di harga Rp 1.240. “Kami masih memasukkan saham GOOD sebagai watchlist, mengingat saham ini berhasil break out namun tidak di iringi dengan kenaikan volume yang signifikan,” tutur periset di Ellen May Institute Research Team di Jakarta, Rabu (22/4/2020)

Hariyanto Wijaya, Analis dan Kepala Riset PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengemukakan tim analis Mirae Asset meninjau sejumlah pusat perbelanjaan pada 22-25 Maret 2020 untuk memeriksa selera belanja konsumen di tengah Covid-19. Kami menemukan bahwa pelanggan masih menghabiskan uang untuk bahan pokok, vitamin, dan obat-obatan, sambil mengurangi pengeluaran untuk yang lain. Konsumsi barang kebutuhan pokok tetap stabil,” ujar Hariyanto.

Meskipun pengunjung mal secara signifikan lebih rendah di tengah meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia, Mirae Asset mencatat bahwa masyarakat berbelanja ke supermarket untuk membeli makanan, minuman, dan bahan pokok lainnya untuk melengkapi mereka ketika bekerja dari rumah. “Hal ini dapat dimengerti karena orang lebih suka mengkonsumsi masakan buatan sendiri dan mie instan daripada mengunjungi restoran karena wabah Covid-19,” sebut Hariyanto

Mirae Asset merekomendasikan investor untuk menempatkan portofolionya pada saham-saham barang-barang konsumsi sebagai saham defensif selama April ini

Di sisi lain, Ellen May Research Team memproyeksikan laporan tahunan GOOD 2019 masih bertumbuh positif. “Pendapatan perusahaan ditopang oleh pemasaran dan distribusi perusahaan yang tersebar di mini market dan warung kelontong seluruh Indoenesia. Penjualan juga ditopang oleh tingginya permintaan snack pada momentum Natal dan tahun baru,” tulis riset Ellen May.

Laba perusahaan 2019 ini kami perkirakan hanya bertumbuh 6% menjadi Rp 8,5 triliun akibat fluktuasi beberapa harga bahan baku sehingga memengaruhi kinerja perseroan. Bahan baku yang mengalami kenaikan di antaranya tepung terigu, tapioka, serta produk susu dan turunannya. Dari sisi penjualan, dipengaruhi hambatan non tarif di beberapa negara pasar ekspor seperti di Asean, China, dan India.

Dari data di atas, kami memperkirakan utang jangka panjang pada tahun 2019 meningkat 179% menjadi Rp 1,1 triliun yang didominasi oleh utang bank sehingga berdampak pada beban bunga yang naik. Kami melihat kondisi cash perusahaan masih tergolong aman untuk membayar beban bunga.

Dalam keterbukaan informasi, manajemen perusahaan menyampaikan kenaikan utang jangka panjang tersebut dikarenakan untuk memenuhi pembiayaan kebutuhan belanja barang modal (capital expenditure) perusahaan.

Emiten GOOD cukup menarik karena dari EPS perusahaan terlihat cukup stabil dari 2017 hingga 2019 dan saat ini berada di 53,64. ROA dan ROE juga masih cukup stabil meskipun kenaikan harga bahan baku cukup memberikan tekanan pada emiten ini. Saat ini PER saham GOOD diperdagangkan pada 23,02 kali. Tercatat di tahun 2019 dividen yang dibagikan emiten ini Rp 17 per saham.

Buy Back Saham
Perseroan akan melakukan buyback dengan jumlah sebanyak-banyaknya sebesar 15.000.000 saham dengan nilai nominal maksimal sebesar Rp 15 miliar. Jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 20% dari modal disetor, dengan ketentuan paling sedikit saham yang beredar adalah 7,5% dari modal disetor perseroan.

Buy back saham akan dilakukan secara bertahap untuk periode 3 bulan terhitung 24 Maret 2020 sampai dengan 23 Juni 2020. Perseroan telah menunjuk PT Indo Premier Sekuritas sebagai perantara pedagang efek untuk buyback ini. Akan ada potensi penurunan aset GOOD dari semula Rp 4,94 triliun berkurang Rp 15 miliar menjadi Rp 4,93 miliar.

Sementara ada potensi juga dari penurunan pendapatan bunga deposito sebesar Rp 15 miliar dengan asumsi tingkat suku bunga neto sebesar 6% per tahun maka potensi penurunan pendapatan setahun sebesar Rp 720 juta.Perseroan berkeyakinan bahwa penurunan tersebut tidak memberikan dampak negatif yang material terhadap kegiatan usaha perseroan dibandingkan dengan jumlah aset dan pendapatan perseroan.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)