Mirae Asset : Investor Cermati Momentum Akumulasi Beli Saham Unggulan

Martha Christina, Senior Investment Information PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia di Media Day pada Kamis, 5 Agustus 2021. (Tangkapan layar : Vicky Rachman/SWA)

Valuasi beberapa saham unggulan yang tercatat di Indeks LQ45 ini relatif murah. Investor berpeluang mengoptimalkan momentum ini untuk mengakumulasi beli untuk investasi berhorison jangka pangjang. Demikian disampaikan analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia yang mencermati peluang investor menambah kepemilikan saham tatkala harga saham blue chips ini masih terkoreksi. Level indeks LQ45 pada 5 Agustus 2021 (year to date) sebesar 853 poin atau  turun 8,76%

Martha Christina, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, menyampaikan saham LQ45, antara lain saham telekomunikasi dan saham unggulan lainnya yang harganya cenderung murah dan kinerja fundamental berpotensi tumbuh ketika perekonomian pulih seiring dengan gencarnya vaksinasi Covid-19. “Saya mengamati investor mulai melirik saham-saham yang valuasi murah dan menjanjikan pertumbuhan di masa depan, saya yakin investor layak mengoleksi saham ini,” ujar Martha pada temu virtual media di Jakarta, Kamis (5/8/2021).

Staff Investment Information Team Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta Utama, menambahkan kinerja fundamental saham-saham konstituen LQ45 menunjukkan tanda-tanda progresif dan diproyeksikan kinerja fundamentalnya pada 2021 akan lebih baik dibandingkan tahun 2021. “Pelaku pasar mencermati emiten yang berprospek bagus dan tentunya emiten itu rajin pembagian dividen sehingga hal ini menjadi sweetener kepada investor,” ucap Nafan.

Mirae Asset Sekuritas optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat menguat hingga level 6.394 pada Agustus 2021. Tiga faktor dinilai Nafan dan Martha mendorong penguatan IHSG. Martha mengatakan ketiga faktor itu adalah jumlah infeksi baru kasus harian Covid-19 yang mulai mereda, gencarnya program vaksinasi, serta rilis kinerja emiten yang mulai membaik. “Memasuki bulan Agustus, kami optimistis IHSG mampu menguat mendekati 6.400 poin, tepatnya ke level 6.394 poin secara teknikal,” imbuh Martha. Jumlah infeksi baru kasus harian Covid-19 yang mulai mereda ke angka 30 ribu kasus per hari, gencarnya program vaksinasi yang membuka peluang potensi pelonggaran PPKM ke depan, dan rilis kinerja yang membaik dari perusahaan di bursa.

Lebih lanjut, Nafan menyebutkan pendorong IHSG pada Agustus ini dari kondisi makro ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2021 negara-negara ekonomi maju secara umum terus melanjutkan akselerasi pertumbuhan. Perekonimia Amerika Serikat (AS) tumbuh 12,2%, Inggris tumbuh 22,5%, Jerman tumbuh 9,2%, Jepang tumbuh 7,3%, dan Korea Selatan tumbuh 5,9%. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat menjadi 7,9% mengingat sebelumnya terakselerasi 18,3% pada kuartal I-2021.

Dari dalam negeri, kinerja inflasi Indonesia masih cukup terkendali. Beberapa indikatornya adalah indeks keyakinan konsumen (IKK) yang masih terus pulih, penjualan ritel masih positif, neraca perdagangan selama 14 bulan mencetak surplus berturut-turut, posisi cadangan devisa yang masih baik, yang juga didukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Kepercayaan investor terhadap pemulihan ekonomi juga masih positif, yang ditandai oleh angka pertumbuhan FDI sangat positif pada kuartal II/2021. "Hal tersebut jelas membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di jalur yang tepat (on the right track) dengan membentuk kurva V- shape (atau berbalik dari penurunan menjadi menguat dengan cepat) bahkan untuk proyeksi ekonomi kuartal II/2021, sehingga potensi Indonesia meninggalkan periode resesi sangatlah besar," kata Nafan menjabarkan.

Saham sektor infrastruktur, kesehatan, dan keuangan, menurut Martha, merupakan saham yang bisa dipertimbangkan investor. Untuk sektor infrastruktur, saham itu adalah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT XL Axiata Tbk (EXCL), dan PT Indosat Tbk (ISAT). Sektor kesehatan antara lain saham PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), dan PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA). Untuk sektor perbankan, terdapat saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), serta PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). “Saham-saham lain yang layak dipertimbangkan sebagai pilihan secara selektif adalah EMTK, SCMA, ERAA, dan INDF,” tambah Martha.

Martha berpendapat prediksi dan rekomendasi tersebut didasari oleh penguatan IHSG sebesar 1,4% menjadi 6.070 poin dan didukung aksi beli investor asing Rp 17 triliun sepanjang Juli 2021. Saat ini, sekitar 30% emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengumumkan kinerja keuangan untuk semester I-2021. Secara tahunan, mayoritas perusahaan mencatatkan hasil yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)