Model Bisnis Omnichannel Memperkokoh Rencana Blibli Gelar IPO

Kusumo Martanto, CEO Blibli. (Foto : Istimewa).

PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli menawarkan saham perdana alias IPO (initial public offering) atau IPO. Berdarkan prospektus Blibli di e-ipo, perusahaan digital in berencana melepas saham sebanyak-banyaknya 17.771.205.900 saham atau sekitar 15% saham baru ke publik dengan nilai nominal Rp 250 per saham dalam IPO ini. Sedangkan penawaran harga saham perdana BELI di Rp 410- 460 per saham. BELI berpeluang menggalang dana hingga Rp 8,17 triliun.

Anak usaha Grup Djarum ini memulai masa penawaran awal (bookbuilding) pada awal pekan ini hingg 24 Oktober 2022. Paulus Jimmy, analis saham PT Sucor Sekuritas, mengatakan "Dari sisi bisnis, Blibli berbeda dengan GoTo dan BUKA. “BELI menggabungkan omnichannel di e-commerce pada Blibli.com serta bisnis online travel agent melalui Tiket.com dan gerai ritel offline," kata Paulus saat dihubungi di Jakarta, Senin (17/10/2022. Paulus menyebutkan investor diimbau mencermati lebih lanjut mengenai monetisasi bisnis serta prospek bisnis BELI yang berpeluang besar untuk membukukan keuntungan di masa mendatang.

Rugi bersih yang memback-up perusahaan teknologi tatkala melakukan IPO itu merupakan kecendurungan yang ada di Bursa Efek Indonesia dan bursa efek di Amerika Serikat. Saham-saham teknologi di pasar saham Amerika Serikat, seperti Apple, Google, atau Amazon itu menjelma sebagai perusahaan berkapitalisasi besar setelah setelah lebih dari satu dasawarsa melaksanakan IPO di negeri Paman Sam itu. Amazon dan Google IPO pada 1996 dan 1997. Kini, perusahaan teknologi ini mencatatkan diri sebagaai perusahaan terbesar di dunia.

Di sisi lain, nilai ekonomi digital di lokapasar (e-commerce) pada Kuartal I-2022 senilai Rp108,54 triliun atau naik 23% dibandingkan periode yang sama tahun 2021, berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Peningkatkan nilai transaksi ini merefleksikan tingginya minat konsumen terhadap layanan e-commerce. Untuk merespons dinamika perilaku konsumen, perusahaan e-commerce mengintegrasikan kanal online dan offline di ekosistem lokapasar. Blibli menyodorkan omnichannel terpadu yang mengkreasikan fleksibilitas berbelanja di toko online dan gerai fisik.

Pada kesempatan terpisah, David Michum, Senior VP O2O Blibli, menjabarkan solusi omnichannel yang disediakan Blibli ini menciptakan suatu fleksibilitas kepada konsumen untuk berbelanja secara online maupun offline. “Pelayanan di omnichannel Blibli ini memudahkan konsumen untuk bertransaksi dan berbelanja sesuai kebutuhannya, konsumen cukup mengaksesnya dalam satu platform karena Blibli terintegrasi dengan tiket.com dan jaringan supermarket Ranch Market,” ujar David di Virtual Limited Media Gathering pada 6 Oktober 2022.

Integrasi Ekosistem Digital

David menjelaskan pengembangan omnichannel yang mengintegrasikan ekosistem digital dan konvesional itu telah diimplementasikan Blibli sejak tahun 2015 dengan merilis fitur Blibli InStore. Fitur ini mengintegrasikan saluran pembayaran online untuk transaksi di di gerai-gerai offline para mitranya.

Pada 2018, Blibli meluncurkan Click&Collect yang memungkinkan konsumen untuk berbelanja online di Blibli tanpa harus menunggu kurir mengantarkan pesanan ke alamat tujuan konsumen, Fitur ini merespons perilaku konsumen yang gemar berbelanja di platform online dan offline.

Sebab, Click&Collect ini menyediakan layanan kepada konsumen untuk membeli produk secara online di situs atau aplikasi Blibli, yang kemudian mengambil pesanannya itu di gerai fisik.

Halaman Selanjutnya
Tak berhenti di situ, Blibli...
Pages: 1 2

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)