Otoritas Bursa Perluas Basis Investor di Tahun 2017

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana memperluas basis investor saham di tahun 2017 dengan menggandeng berbagai macam lapisan dan komunitas masyarakat. BEI mendorong minat masyarakat dari berbagai kalangan untuk berinvestasi di pasar modal. Nantinya penambahan investor akan dapat meningkatkan jumlah investor domestik di pasar modal Indonesia.

Nicky Hogan, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, mengemukakan pihaknya di awal tahun 2017 akan menggandeng komunitas difabel, komunitas otomotif, dan penggemar olah raga atletik. “Semuan lapisan berhak menjadi investor, berinvestasi di pasar saham kan sudah terjangkau karena investor hanya perlu membeli 1 lot yang jumlahnya 100 lembar saham,” kata Nicky di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada Jum'at (30/12/2016) . Jumlah saham itu, sangat terjangkau bagi investor awam. BEI juga menyosialisasikan investasi saham ke kalangan pesantren.

BEI tahun ini cukup gencar mendongkrak investor. Otoritas bursa menggelar berbagai program untuk mencapai tujuan itu. Pada November, misalnya, BEI melakukan sosialisasi dan edukasi untuk meningkatkan pemahaman tentang pasar modal kepada insan akademisi dan masyarakat umum di sekitar kampus. Salah satu caranya mendirikan Galeri Investasi BEI di Universitas Nusa Cendana, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Peresmian Galeri Investasi BEI di Universitas Nusa Cendana ini juga diikuti dengan prosesi penyerahan rekor “Penciptaan Investor Saham Terbanyak pada Satu Perguruan Tinggi” dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan jumlah 3.300 pembukaan rekening efek. Jumlah tersebut memecahkan rekor sebelumnya yang ditorehkan BEI bersama dengan Universitas Putra Indonesia (UPI) YPTK Padang dan PT First Asia Capital yang telah menciptakan 3.000 investor baru pada 15 Desember 2015.

Nicky Hogan, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia menyampaikan keterangan mengenai rencana PT Bursa Efek Indonesia mengembangkan basis investor di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jum'at (30/12/2016). (Foto : Vicky Rachman/SWA). Nicky Hogan, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia menyampaikan keterangan mengenai rencana PT Bursa Efek Indonesia mengembangkan basis investor di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jum'at (30/12/2016). (Foto : Vicky Rachman/SWA).

Di awal Desember, BEI meresmikan galeri investasi syariah di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malikussaleh, Lhokseumawe dan Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam. Kehadiran kedua galeri investasi ini untuk mengedukasi pasar modal di lingkungan akademisi dan masyarakat setempat. Sepanjang tahun ini, BEI telah memiliki 239 Galeri Investasi BEI di seluruh Indonesia. Kemudahan masyarakat berinvestasi saham juga ditopang kebijakan yang diterapkan otoritas pasar modal. Contohnya PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) bersama pelaku pasar modal 100 menandatangani perjanjian kerja sama dengan Direktorat Jendral Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil), Kementerian Dalam Negeri, di Jakarta, pada (22/11/2016). Kerja sama ini terkait pemanfaatan nomor induk kependudukan, data kependudukan dan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) dalam layanan jasa pasar modal.

Turut hadir dalam acara tersebut, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D Hadad, Kepala Eksekutif Pengawasan Pasar Modal OJK Nurhaida, Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Frederica Widyasari Dewi, dan direksi serta komisaris KSEI, KPEI dan Bursa Efek Indonesia (BEI). Direktur Utama KSEI, Frederica Widyasari Dewi mengatakan, dengan kerja sama ini pelaku industri pasar modal yang sebelumnya memproses pembukaan rekening efek bisa mencapai 2 minggu sekarang menjadi kurang dari satu jam."Pemanfaatan basis data e-KTP dapat meningkatkan kualitas data nasabah untuk proses KYC (know your customer) yang lebih baik, karena pengecekan data nasabah langsung ke database KTP elektronik, jadi bisa diketahui kebenaran identitasnya," tuturnya.

Nurhaida mengatakan melalui kerja sama ini memudahkan sosialisasi dan edukasi masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal. Kendala yang selama ini dihadapi ialah lamanya proses pembukaan rekening investasi. Ini menjadi kendala tambahan khususnya masyarakat yang berada di wilayah luar Jawa. "Calon investor di berbagai daerah bisa mendaftarkan diri dan mendapatkan Single Investor Identification (SID). Sehingga Investor di remote area (daerah terpencil) dengan mudah dibuatkan SID maka memudahkan menjadi investor di pasar modal. Ini bisa 15 menit," ucap Nurhaida.

Menteri Tjahjo, dalam sambutannya, optimistis kerja sama dengan pelaku di industri pasar modal ini dapat memberikan manfaat untuk perkembangan pasar modal. Apalagi sejalan dengan pemanfaatan data kependudukan KTP elektronik secara luas.Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D. Hadad juga menyampaikan apresiasi kepada KSEI dan SRO (self regulatory organization) pasar modal berinisiatif memfasilitasi terlaksananya kerjasama para pelaku di industri pasar modal dengan Ditlen Dukcapil.

Friderica menjelaskan bahwa jumlah investor yang tercatat di KSEI pada 28 Desember 2016 mencapai 891.070 atau meningkat 105,27% dibandingkan jumlah single investor identification (SID) pada akhir Desember 2015 sebanyak 434.107 (*)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)