Pasar Berfluktuasi, Investor Lirik Saham yang Tebar Dividen

Area Anjungan Tunai Mandiri BCA. (Ilustrasi Foto : Dok)

Sejak awal tahun 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah sempat tekoreksi 38% akibat gejolak yang ditimbulkan oleh pandemi corona. Pada perdagangan Kamis pada sesi 1 (16/4/2020), IHSG ditutup melemah 3,14% di level 4.480,86 poin. Kondisi ini tentu saja adalah peluang bagi investor untuk berinvestasi saham. Sejumlah emiten pun masih jor-joran membagikan dividen.

Merujuk riset Ellen May Institute Research Team, sejumlah emiten seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)/BCA,  PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), dan PT Multifiling Mitra Indonesia Tbk (MFMI) masih royal membagikan dividen kepada investornya. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:

Keterangan / Saham BBCA SIDO PTRO MFMI DMAS
Harga 16/4/20 sesi 1 Rp 26.350 Rp 1.150 Rp 1.390 Rp 815 Rp 188
Dividen / lembar saham Rp 455 Rp 27 USD $ 0,00694 Rp 132 Rp 42
Cum Date 20/4/20 17/4/20 21/4/20 17/4/20 23/4/20
Ex Date 21/4/20 20/4/20 22/4/20 20/4/20 24/4/20
Recording Date 22/4/20 21/4/20 23/4/20 21/4/20 27/4/20
Payment Date 11/5/20 05/5/20 15/5/20 13/5/20 12/5/20
Dividen yield 2019 0,61% 1,94% 6,84% 12,88% 7,88%

Dividen yield terbesar dari kelima saham tersebut adalah saham MFMI, DMAS, PTRO, SIDO, dan BBCA. Namun mempertimbangkan bisnis model, manajemen perusahaan, profabilitas yang berpengaruh pada dividen yang dibagikan, serta valuasi, maka invetor direkomendasikan melirik saham BBCA. sebagai saham investasi. “Investor yang belum memiliki saham BBCA bisa cicil beli sabanyak 10% modal investasi Anda di harga Rp 25 ribu. Saham SIDO juga cukup menarik bagi kami, namun pergerakan harga saham SIDO tidak selincah saham BBCA,” tulis periset Ellen May Institute Research Team di Jakarta, Kamis (16/4/2020).

Dividen menjadi daya tarik yang diburu investor di pasar saham, di samping keuntungan dari kenaikan harga saham di pasar (capital gain). Terlebih bagi investor yang memiliki horizon investasi jangka panjang, bukan trader harian, maka dividen merupakan salah aspek yang dipertimbangkan.

Sebelumnya, Petrosea mengumumkan pendapatan pada 2019 tumbuh sebesar 2,30%, menjadi US$ 476,44 juta dari US$ 465,74 juta di tahun 2018. Laba PTRO naik 35,80%, menjadi US$ 31,18 juta. Hanifa Indradjaya, Presdir Petrosea, menyampaikan kontribusi dari lini bisnis kontrak pertambangan mencapai 60,25% terhadap total pendapatan. Sedangkan kontribusi dari lini bisnis Rekayasa & Konstruksi mencapai 20.50%, dan lini bisnis Petrosea Logistics & Support Services mencapai 18,66% terhadap total pendapatan perseroan.

Sedangkan, laba bersih BCA pada 2019 tercatat Rp 28,6 triliun. Laba bersih digunakan untuk pembayaran dividen tunai sebesar Rp555 per saham. Pembagian dividen tersebut 47,9% dari total laba bersih tahun buku 2019. Dividen tersebut meningkat 15,5% dibandingkan tahun sebelumnya

Pemberian dividen tunai ini mempertimbangkan proyeksi pertumbuhan bisnis, tercukupinya kebutuhan modal untuk aksi korporasi akuisisi dua bank, serta adanya potensi penurunan capital charge terkait dengan perubahan metode perhitungan ATMR risiko operasional. "Ke depan, BCA akan terus mengkaji besarnya dividen yang akan diberikan sesuai kondisi pasar dan performa bisnis perseroan dari tahun ke tahun," ujar Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA di Jakarta, Kamis (9/4/2020).

Dividen adalah pembagian laba kepada pemegang saham (investor) berdasarkan banyaknya saham yang dimiliki. Namun perlu diingat, jika pola pikir investor itu adalah membeli perusahaan, yang cenderung tidak mempertimbangkan pada pergerakan harga saham, maka investor ini akan fokus pada bisnis model, manajemen perusahaan, profabilitas yang berpengaruh pada dividen yang dibagiakan, dan valuasi. Sehingga, kenaikan harga saham hanyalah bonus.Dalam jadwal pembagian dividen, suatu perusahaan pasti mencantumkan keterangan tanggal cum date, ex date, recording date, dan payment date.

Cum date atau tanggal cum dividen merupakan tanggal terakhir bagi investor yang ingin membeli saham tertentu dan berhak untuk mendapatkan dividen selama saham tersebut tidak dijual hingga ex date. Cum date dan ex date yang digunakan adalah tanggal cum date di pasar reguler.

Sementara itu, ex date atau tanggal ex dividen merupakan hari pertama di mana investor yang ingin membeli saham tertentu tidak berhak lagi mendapatkan dividen. Biasanya tanggal ex date dijadwalkan satu hari kerja setelah tanggal cum date.

Jadi jika investor membeli saham pada cum date dan menjualnya saat ex date, investor tetap akan mendapatkan dividen. Namun, jika investor membeli saham ketika atau sebelum tanggal cum date dan menjualnya saat cum date, investor tidak akan menerima dividen. Recording date adalah tanggal pencatatan investor saham yang telah membeli saham tersebut dan berhak mendapatkan dividen. Sedangkan payment date adalah tanggal investor akan menerima dividen tersebut.

Penulis: Darandono, Andi Hana & Vicky Rachman.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)