Pendapatan Bersih Konsolidasi Grup Astra Capai Rp88,2 Triliun

“Tantangan pada semester I tahun 2016 ini yang berasal dari pelemahan harga komoditas dan permintaan terhadap alat berat, penurunan volume bisnis kontraktor pertambangan dan peningkatan kredit bermasalah di Permata Bank masih akan dirasakan hingga akhir tahun. Kendati demikian, kami berharap kinerja dari bisnis pembiayaan konsumen dan otomotif masih solid," ujar Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk. saat memaparkan kinerja keuangan konsolidasi perseroan.

Grup Astra mengalami penurunan pendapatan bersih di sektor alat berat dan pertambangan serta agribisnis, sementara kontribusi pendapatan bersih dari Toyota sales operation juga menurun setelah restrukturisasi model distribusi dua tingkat (two-tiered) berlaku efektif pada awal tahun ini.

Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk

Laba bersih Grup Astra selama semester I tahun 2016 menurun, walaupun terjadi kenaikan keuntungan pada sektor otomotif dari peluncuran produk baru. Hal ini disebabkan oleh pelemahan harga komoditas yang berpengaruh negatif terhadap sektor alat berat, kontraktor pertambangan serta operasional agribisnis dan kenaikan signifikan pada provisi kerugian atas pinjaman yang diberikan pada Permata Bank yang berujung terhadap menurunnya kontribusi dari sektor bisnis jasa keuangan.

Sementara itu, pendapatan bersih konsolidasi Astra pada semester ini turun 5% menjadi Rp88,2 triliun, lalu laba bersih turun 12% menjadi Rp7,1 triliun.

Nilai aset bersih per saham tercatat sebesar Rp2.575 pada 30 Juni 2016, meningkat 2% dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2015.

Nilai kas bersih, di luar Grup Jasa Keuangan, mencapai Rp2,0 triliun pada 30 Juni 2016, dibandingkan nilai kas bersih pada akhir tahun 2015 sebesar Rp1,0 triliun. Anak perusahaan grup segmen Jasa Keuangan mencatat utang bersih sebesar Rp44,2 triliun, dibandingkan dengan Rp44,6 triliun pada akhir tahun 2015.

Bagaimana dengan kegiatan bisnis Grup Astra?

Dijelaskan Prijono, kontribusi dari tiap segmen bisnis terhadap laba bersih konsolidasian Astra International pada periode ini adalah sebagai berikut:

Otomotif
Laba bersih dari Grup bisnis otomotif naik 13% menjadi Rp3,9 triliun. Secara keseluruhan, penjualan otomotif sedikit meningkat sepanjang periode ini, sebagian besar karena peluncuran model baru yang turut berdampak positif terhadap marjin.

Penjualan mobil secara nasional meningkat sebesar 1% menjadi 532.000 unit. Penjualan nasional mobil Astra naik sebesar 4% menjadi 273.000 unit, yang menyebabkan peningkatan pangsa pasar dari 50% menjadi 51%. Grup telah meluncurkan enam model baru dan lima model revamped selama periode ini.

Penjualan sepeda motor nasional menurun sebesar 7% menjadi 3,0 juta unit. Sementara  penjualan sepeda motor dari PT Astra Honda Motor (AHM) mengalami kenaikan 1% menjadi 2,2 juta unit, sehingga pangsa pasarnya meningkat dari 67% menjadi 73%. AHM telah meluncurkan tiga model baru dan tujuh model revamped selama periode ini.

Astra Otoparts, bisnis komponen grup, mencatat laba bersih yang stabil sebesar Rp152 miliar dengan peningkatan pendapatan dari bisnis pasar pabrikan otomotif (OEM/Original Equipment Manufacturer), after market, dan segmen ekspor yang sebagian besar diimbangi oleh biaya operasional yang lebih tinggi dan kerugian selisih kurs pada perusahaan-perusahaan asosiasi.

Jasa Keuangan
Laba bersih bisnis jasa keuangan Grup menurun sebesar 40% menjadi Rp1,3 triliun. Kenaikan laba bersih PT Federal International Finance (FIF) dan PT Toyota Astra Financial Services (TAFS) diimbangi oleh penurunan kontribusi dari sektor bisnis jasa keuangan lainnya, terutamanya Permata Bank yang mencatat kerugian akibat peningkatan signifikan pada kerugian atas pinjaman yang diberikan.

Sektor bisnis pembiayaan konsumen menunjukkan kenaikan total pembiayaan sebesar 13% menjadi Rp35,7 triliun, termasuk melalui joint bank financing without recourse. PT Astra Sedaya Finance yang fokus pada pembiayaan roda empat mencatat penurunan laba bersih sebesar 15% menjadi Rp430 miliar. Sementara pembiayaan roda empat lainnya, PT Toyota Astra Financial Services mencatat peningkatan laba bersih sebesar 8% menjadi Rp155 miliar. FIF
yang fokus pada pembiayaan roda dua mencatat kenaikan laba bersih sebesar 22% menjadi Rp811 miliar, yang diuntungkan dari kenaikan pangsa pasar dan diversifikasi produk.

Total pembiayaan yang dikucurkan oleh Grup pembiayaan alat berat turun 11% menjadi Rp1,9 triliun. PT Surya Artha Nusantara Finance (SANF) yang memiliki spesialisasi di pembiayaan alat berat kelas kecil dan menengah, melaporkan penurunan laba bersih sebesar 46% menjadi Rp43 miliar.

Permata Bank, yang 44,6% sahamnya dimiliki oleh perseroan, mencatat kerugian bersih sebesar Rp836 miliar dibandingkan dengan laba bersih sebesar Rp837 miliar pada semester pertama 2015. Penurunan ini disebabkan oleh kenaikan signifikan dari provisi kerugian atas pinjaman yang diberikan akibat peningkatan kredit bermasalah menjadi 4,6% dari 2,7% pada akhir tahun lalu. Dalam rangka memperkuat permodalannya, Permata Bank menyelesaikan
rights issue pada bulan Juni, yang menghasilkan dana senilai Rp5,5 triliun.

Perusahaan Grup asuransi, PT Asuransi Astra Buana, mencatat penurunan laba bersih sebesar 17% menjadi Rp407 miliar, terutama disebabkan oleh penurunan keuntungan dari investasi. Perusahaan patungan bersama asuransi jiwa antara Astra International dan Aviva Plc, Astra Aviva Life, telah berhasil menambah lebih dari 50.000 nasabah asuransi jiwa perorangan dan lebih dari 100.000 nasabah asuransi untuk program kesejahteraan karyawan selama semester I tahun 2016, dibandingkan dengan 28.500 dan 186.000 nasabah, secara berurutan
sepanjang tahun 2015.

Alat Berat dan Pertambangan
Laba bersih Grup Astra dari segmen alat berat dan pertambangan menurun sebesar 45% menjadi Rp1,1 triliun. PT United Tractors Tbk (UT), yang 59,5% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, melaporkan laba bersih sebesar Rp1,9 triliun, turun 46%, memperlihatkan penurunan volume bisnis dan pengaruh dari penguatan rupiah terhadap aset berdenominasi dolar AS. Pada segmen usaha mesin konstruksi, pendapatan bersih mengalami penurunan sebesar 6% karena penjualan alat berat Komatsu menurun 25% menjadi 1.036 unit, dimana pendapatan bersih dari servis dan suku cadang juga menurun. PT Pamapersada Nusantara (PAMA), anak perusahaan UT di bidang kontraktor penambangan batu bara, mengalami penurunan pendapatan bersih sebesar 22% akibat menurunnya kontrak produksi batu bara sebesar 4% menjadi 50 juta ton disertai dengan penurunan kontrak pengupasan lapisan tanah (overburden removal) sebesar 9% menjadi 339 juta bank cubic metres. Anak perusahaan UT di bidang pertambangan melaporkan peningkatan
penjualan batu bara sebesar 58% menjadi 4,5 juta ton.

PT Acset Indonusa Tbk, perusahaan kontraktor umum yang 50,1% sahamnya dimiliki UT, melaporkan peningkatan laba bersih yang signifikan dari Rp5,0 miliar menjadi Rp33 miliar. Acset  mencatatkan penambahan kontrak baru senilai Rp2,4 triliun sepanjang semester I tahun 2016 dibandingkan dengan Rp3,1 triliun sepanjang tahun 2015. Untuk mendukung pertumbuhan bisnis, Acset menyelesaikan rights issue pada bulan Juni, menghasilkan dana sebesar Rp600
miliar.

Agribisnis
Laba bersih dari segmen agribisnis grup meningkat 78% menjadi Rp 631 miliar. PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL), yang 79,7% sahamnya dimiliki oleh perseroan, membukukan laba bersih sebesar Rp792 miliar, naik 78%, meskipun penjualan dan harga CPO menurun, disebabkan oleh keuntungan dari penguatan mata uang rupiah terhadap kewajiban moneter dalam mata uang dolar AS. Penjualan CPO menurun 9% menjadi 502.000 ton, di mana harga rata-rata CPO mengalami penurunan sebesar 4% menjadi Rp7.342/kg dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penjualan olein menurun 5% menjadi 184.000 ton. AAL menyelesaikan rights issue senilai Rp4,0 triliun pada bulan Juni untuk memperkuat posisi neraca keuangan.

Infrastruktur, Logistik dan lainnya
Laba bersih segmen infrastruktur, logistik dan lainnya meningkat sebesar 156% menjadi Rp174 miliar, sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya laba bersih dari jalan tol, penjualan mobil bekas dan bisnis logistik serta pengakuan keuntungan yang lebih besar dari pembangunan Anandamaya Residences.

PT Marga Mandala Sakti (MMS), operator jalan tol yang mengoperasikan jalur Tangerang-Merak sepanjang 72,5 km, yang 79,3% sahamnya dimiliki Perseroan, mencatat peningkatan volume trafik kendaraan sebesar 4% menjadi 23 juta kendaraan. Pembangunan konstruksi sepanjang 40,5 km di jalan tol Jombang – Mojokerto (sebelumnya Kertosono – Mojokerto) yang berlokasi di dekat Surabaya terus berlanjut. Jalan tol seksi 1 sepanjang 14,7 km sudah mulai beroperasi
pada bulan Oktober 2014, dan telah mencatat peningkatan volume trafik kendaraan menjadi 0,3 juta kendaraan.Tahap selanjutnya diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2016 dan 2017, bergantung pada selesainya proses pembebasan lahan. Ruas jalan tol Semarang-Solo sepanjang 72,6 km, yang diakuisisi Astratel sebesar 25% pada bulan Juli 2015, telah mulai beroperasi untuk seksi 1 dan 2 sepanjang 22,8 km. Pada bulan April 2016, Astratel memiliki kepemilikan 25% dari konsorsium jalan tol Serpong – Balaraja sepanjang 30 km. Jika ditambahkan dengan kepemilikan 40% saham Astratel di jalan tol lingkar luar Kunciran-Serpong sepanjang 11,2 km, total jalan tol yang dimiliki grup saat ini mencapai 226,8 km.

PAM Lyonnaise Jaya, perusahaan penyedia air bersih yang melayani wilayah barat Jakarta mencatat kenaikan penjualan volume air bersih sebesar 4% menjadi 80 juta meter kubik.

Pendapatan bersih PT Serasi Autoraya (SERA) mengalami kenaikan sebesar 4% dan laba bersih meningkat 63% menjadi Rp44 miliar. Peningkatan penjualan kendaraan bekas dan volume logistik berpengaruh lebih besar daripada pengaruh 8% penurunan jumlah kendaraan tersewa di bisnis leasing dan rental.

Konstruksi Anandamaya Residences, proyek residensial eksklusif berlokasi di pusat bisnis Jakarta, yang 60% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, telah berhasil terjual 91%. Anandamaya Residences diharapkan dapat rampung sesuai dengan rencana dan selesai pada tahun 2018, bersamaan dengan gedung perkantoran grade A dari Grup, Menara Astra.

Teknologi Informasi
Laba bersih dari segmen teknologi informasi turun sebesar 3% menjadi Rp73 miliar. PT Astra Graphia Tbk, yang 76,9% sahamnya dimiliki oleh Perseroan, merupakan perusahaan yang aktif bergerak di bidang informasi dokumen dan solusi teknologi komunikasi serta agen tunggal penyalur peralatan kantor Fuji Xerox di Indonesia, melaporkan laba bersih sebesar Rp95 miliar atau turun 3%, walaupun terjadi peningkatan pendapatan.

Bagaiman prospek bisnis Grup Astra ke depan?

"Tantangan pada semester I tahun ini yang berasal dari pelemahan harga komoditas dan permintaan terhadap alat berat, penurunan volume bisnis kontraktor pertambangan dan peningkatan kredit bermasalah di Permata Bank masih akan dirasakan hingga akhir tahun. Kendati demikian, kami berharap kinerja dari bisnis pembiayaan konsumen dan otomotif masih solid," Prijono menegaskan dengan optimistis. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)