Pendapatan Indosat Ooredoo Merosot 22,7% di Kuartal I/2018

Hasil RUPS PT Indosaat Ooredoo Tbk (Indosat) menunjuk dua direksi baru,  yaitu Haroon Shahul Hameed dan Irsyad Sahroni serta memberhentikan dengan hormat Johnny Ingemar Svedberg sebagai direktur  sebelum resmi berakhir masa jabatannya.

Selain itu, pada Rapat Pemegang Saham Terbatas  juga mengumumkan pembagian dividen sebesar Rp 73 per lembar saham atau setara dengan Rp 385 miliar.

Joy Wahyudi, Direktur Utama Indosat, mengatakan, pencapaian kinerja keuangan operator seluler berusia 50 tahun ini mencatat laba bersih tahun buku  2017 sebesar  Rp 1,13 triliun atau tumbuh 2,8% dibanding tahun sebelumnya. Laba operasional baik 2,8% atau mencapai Rp 4 triliun, berkat inisiatif efisiensi yang dijalankan perusahaan.

Seiring dengan meningkatnya trafik data Indosat yang mencapai 120%, pendapatan Indosat tumbuh 40,2% menjadi Rp 14,5 triliun pada 2017. Peningkatan ini seiring dengan pelanggan Indosat yang menggunakan smartphone besar mencapai 73 juta pelanggan. Kontribusi pendapatan data mendominasi pendapatan Indosat 59%. Pengguna 4G Indosat mencapai 45% dari total pelanggan kami,” papar Joy di Gedung Indosat Ooredoo (09/05/2018).

Capital expenditure (Capex) Indosat dianggarkan untuk tahun ini Rp 8 triliun yang akan difokuskan untuk meningkatkan jaringan 4G dan peningkatan kapasitas jaringan terutama di luar Pulau Jawa. “Capex kami relatif stabil dibanding tahun lalu,” tuturnya. Pendapatan konsolidasi Indosat 2017 naik 2,5% dibanding tahun sebelumnya yan disokong oleh pendapatan dari B2B yang naik 9,4%.

Sedangkan pertumbuhan EBITDA (pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi)  disebut Joy relatif tetap, namun margin EBITDA tetap terjaga di atas 40%.  Total hutang dari pinjaman bank dan obligasi Indosat turun 3,3% atau Rp 660,2 miliar. “Fokus utama kami saat ini pada layanan data, dengan tambahan 2,1 GHz frekuensi yang kami dapat tahun lalu, kami yakin bisa menambah menyongsong persaingan di tahun-tahun mendatang,” ujar Joy.

Kinerja keuangan kuartal I/ 2018 menurut Joy sudah terlihat pengaruh kebijakan pemerintah keharusan regisstrasi pengguna kartu prabayar yang dimulai pada Oktober 2017. “Strategi kami yang semula push driven menjadi consumer driven makin dikuatkan karena aturan baru ini. Sejak Januari kami sudah stop cara penjualan dengan aktivasi kartu, mengikuti aturan baru. Untuk jangka panjang aturan baru ini justru membuat industri ini menjadi lebih sehat, walau tentu memengaruhi kinerja di kuartal pertama ini,” katanya.

Aturan baru pemerintah tentang registrasi kartu perdana menunjukkan tekanan berat performansi top line Indosat. Pelanggan Indosat pun turun pada triwulan keempat 2017,  dari 110,2 juta pelanggan, pada triwulan pertama 2018 turun 12,7% menjadi 96,1 juta pelanggan.

Pendapatan Indosat 2018 kuartal pertama, turun 22,7%  dibanding periode yang sama 2017 menjadi Rp 5,7 triliun, utamanya akibat kehilangan pendapatan dari pelanggan yang tidak mematuhi aturan serta akibat adanya perubahan dalam strategi distribusi dari “push” menjadi “pull”. Penurunan telepon dan SMS yang merupakan tantangan industri, juga memberikan dampak negatif pada pendapatan.

Operasional expenditure (Opex) dapat tetap terjaga melalui kendali biaya yang ketat dan efisiensi grup, namun akibat penurunan pendapatan, EBITDA mengalami penurunan sebesar 32% pada triwulan pertama 2018 menjadi Rp 1,9 triliun dibandingkan triwulan keempat 2017.

Joy meyakini walau demikian Indosat tetap melihat peluang jangka panjang dalam kondisi pasar yang baru yang tercipta dari aturan baru dalam registrasi kartu perdana. Perbaikan ini utamanya adalah basis pelanggan yang lebih loyal, serta tingkat churn yang lebih rendah yang pada akhirnya memberikan marjin yang lebih besar di masa mendatang.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!