Penjualan Panca Mitra Diproyeksikan US$100 Juta

Paparan publik PT Panca Mitra Multiperdana. (Foto : Vicky Rachman/SWA).

PT Panca Mitra Multiperdana Tbk, eksportir udang, mengestimasikan penjualan di semester I tahun 2018 sebesar US$ 100 juta seiring dengan perolehan perseroan mendapatkan kontrak pengiriman udang ke luar negeri.

“Penjualan kuartal I tahun ini senilai US$ 45 juta dan pendapatan pada April hingga Juni mendatang diproyeksikan mencapai US$ 55 juta. Sedangkan laba bersih di semester I ini ditargetkan sekitar 8,5% dari target penjualan,” ujar Martinus Soesilo, Presiden Direktur Panca Mitra Multiperdana (PMMP) dalam paparan publik di Jakarta, Senin (7/5/2018).

Martinus mengatakan, target penjualan PMMP di akhir tahun ini senilai US$ 200 juta. Jika penjualan pada semester I itu terealisasi maka perseroan berpotensi membukukan pendapatan sebesar 50% dari target total penjualan di sepanjang tahun ini. “Target net profit-nya diharapkan mencapai 10% dari target penjualan US$ 200 juta itu,” tambah Martinus. Laba PMMP pada 2017 mencapai US$ 9,5 juta, Perusahaan yang berkantor pusat di Situbondo, Jawa Timur ini, sudah mendapatkan kontrak pengiriman udang senilai US$ 170 juta, atau sekitar 85% dari target penjualan tersebut.

Apabila target penjualan di tahun ini terealisasi, maka perseroan mencatatkan pertumbuhan omset sebesar 58,7% dari penjualan di tahun 2017 yang senilai US$ 126 juta. PMMP yang didirikan pada 2004 oleh Soesilo Soebardjo (Komisaris PMMP) ini adalah eksportir udang jenis vannamei dan black tiger (udang windu).

Panca Mitra Multiperdana di tahun 2017 mengekspor udang sebanyak 10.167 ton. Tahun ini,  PMMP membidik volume ekspor naik 2 kali lipat, atau menjadi 20 ribu ton. Martinus mengklaim PMMP merupakan salah satu perusahaan dari lima perusahaan eksportir udang di Indonesia. Negara tujuan ekspor yang paling banyak menyerap udang milik perseroan adalah Amerika Serikat, yakni sekitar 70%. Sisanya diekspor ke Puerto Riko, Jerman, Hong Kong, Singapura dan Jepang (20%). Mayoritas udang yang diekspor perseroan ke negara-negara tersebut adalah udang mentah. Pelanggan terbesar diantaranya Walmart, Kroger, Maruha Nichiro, dan Marubeni.

Roadshow Investor

Guna menopang ekspansi dan laju bisnis perusahaan, manajemen PMMP berencana  melaksanakan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) pada 7 Juni 2018 di Bursa Efek Indonesia dengan menawarkan 857,14 juta saham atau 30% dari modal ditempatkan dan disetor. Harga saham perusahaan ini ditawarkan pada harga Rp 800-Rp 1.100 per saham. Perseroan berpeluang mendapatkan dana segar senilai Rp 685,71 miliar-Rp 942,85 miliar dari aksi korporasi tersebut. PMMP telah menunjuk PT RHB Sekuritas Indonesia dan PT Danareksa Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek (joint lead underwriters).

Direktur RHB Sekuritas, Iman Hilmansah mengatakan Panca Mitra bakal mengalokasikan 80% dana hasil IPO itu untuk kebutuhan modal kerja dan belanja modal (capital expenditure) sebesar 20%. Masa penawaran awal (bookbuilding) pada 7-16 Mei 2018. Pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan diharapkan diperoleh perseroan di akhir Mei tahun ini. “Roadshow ke luar negeri direncanakan ke Singapura, Hongkong, Kuala Lumpur, dan Bangkok,” ujar Iman.

Martinus mengatakan pihaknya sudah membangun 3 pabrik selama periode 2015-2017. Pembangunan pabrik ini menambah kapasitas produksi. Nilai investasi di salah satu pabrik yang baru dibangun itu menghabiskan dana sekitar US$ 20 juta. Pabrik PMMP di Situbondo sebanyak 4 unit yang menempati lahan seluas 16 ha dan pabrik di Nunukan, Kalimantan Utara, sebanyak 2 unit. Jadi, jumlah pabrik PMMP ini 6 unit. Lalu, pabrik di Situbondo memiliki 16 cold storage (ruang penyimpanan) yang bersuhu minus 20 derajat dan pabrik Nunukan memiliki 5 cold storage. Perseroan memiliki anak usaha, PT Tri Mitra Makmur, yang mengelola pabrik di Tarakan, Kalimantan Utara. “Kami berencana membangun pabrik baru di tahun 2019,” ucap Martinus.

Perseroan di tahun lalu mencatatkan aset US$ 172 juta, meningkat 17% dibandingkan dengan asetnya pada akhir 2016 yang lalu yakni sebesar US$ 147 juta. Kinerja profitabilitas yang baik memberikan kontribusi terhadap peningkatan ekuitas yang naik sekitar 10,7%, atau menjadi US$ 31 juta dari US$ 28 juta. Perusahaan ini juga berhasil meningkatkan indeks EBITDA to interest menjadi 3,44 kali dari 2,68 kali. Hal ini merepresentasikan tingkat kesehatan keuangan dalam memenuhi kewajiban pembayaran pendanaan dan beban bunga yang dibebankan atas fasilitas modal kerja yang diperoleh dari perbankan. Adapun. return on equity-nya naik menjadi 31% dari 18,8% dan return on asset tumbuh sebesar 5,5% dari sebelumnya 3,6%.

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)