Perbankan Kian Atraktif Menyalurkan Pembiayaan Ekonomi Sirkular

Kertas ramah lingkungan. (Foto : Alkindo Naratama)

PT Alkindo Naratama Tbk (ALDO), melalui anak usahanya PT Eco Paper Indonesia (ECO), menerima pembiayaan dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp 472 miliar. Kerja sama pembiayaan hijau dari BCA tersebut merupakan sebagai bentuk dukungan usaha dan investasi di segmen ekonomi sirkular yang menjadi bisnis inti dari ECO.

Pendanaan ini bertujuan untuk mendukung pengembangan bisnis ECO yang bergerak pada produksi daur ulang kertas. Pembiayaan hijau ini merupakan kepercayaan dari perbankan terhadap komitmen ALDO mengembangkan green product dan green process di proses bisnisnya.

Direktur Utama ALDO H. Sutanto mengatakan, pembiayaan yang dilakukan melalui penandatanganan perjanjian dan kesepakatan bersama pada akhir tahun lalu ini diharapkan dapat memperkuat usaha perseroan untuk mendukung ekonomi sirkular di Indonesia. “Adapun BCA dan ECO juga tengah menjajaki kemungkinan kerja sama lanjutan dalam pembiayaan hijau lainnya. Maka kami akan terus berinovasi dalam mengembangkan bisnis berkelanjutan perusahaan,” ujar Sutanto dalam siaran pers seperti dilansir SWA Online pada Senin (27/6/2022).

ALDO menggunakan kertas daur ulang yang diproduksi ECO untuk memproduksi berbagai macam produk kertas konversi yang berkonsep ramah lingkungan. Inisiatif tersebut menjadikan kertas daur ulang menjadi bernilai untuk digunakan menjadi berbagai macam produk. Kertas coklat seperti kraft liner, eco board, dan core board adalah produk utama dari ECO yang menjadi bahan baku bagi industri kertas konversi.

ECO sebagai produsen kertas daur ulang telah berhasil memperoleh sertifikat Forest Stewardship Council (FSC) dan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). Sertifikasi FSC ialah sertifikasi yang menyatakan bahwa produk yang digunakan berasal dari hutan dengan pengelolaan yang baik dan memberikan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi. Oleh karena itu, hal ini juga selaras dengan kerja sama BCA dan ECO untuk bisnis berkelanjutan melalui pembiayaan hijau.

Sutanto menjabarkan pembiayaan hijau ini tentu menjadi kesempatan untuk terus berinovasi dan mengembangkan bisnis ALDO, khususnya untuk pertumbuhan ekonomi sirkular di Tanah Air. “Misalnya, kami dengan menggunakan bahan baku dari ECO sudah membuat paper bag dan paper box ke sektor fast moving consumer goods (FMCG), food and beverages (F&B), dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Adanya paper bag dan paper box ini merupakan upaya kami untuk mendorong penggunaan produk-produk ramah lingkungan,” jelas Sutanto.

Baru-baru ini, ALDO juga membuat produk kemasan kertas coklat yang ramah lingkungan, yakni hexa wrap. Inovasi produk ini merupakan pengganti gelembung plastik (bubble wrap) yang pertama di Indonesia yang terbuat dari kertas coklat (recycled paper) berbentuk struktur sarang lebah. Tujuannya adalah untuk mengurangi sampah plastik di industri e-commerce.

Untuk kinerja keuangan, ALDO pada kuartal I-2022 mencatatkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk yang tumbuh sebesar 70,8% (year on year/yoy)). Pada periode ini, perseroan membukukan pendapatan senilai Rp 407,3 miliar atau naik 19,6%. Hal ini didorong oleh berbagai inovasi berkelanjutan ALDO. “Ke depannya, kami berharap dapat terus meningkatkan kinerja kami yang didukung oleh berbagai strategi bisnis berkelanjutan ALDO. Serta, diiringi dukungan dan kerja sama dengan berbagai pihak, seperti adanya pembiayaan hijau dari BCA ini, kami optimis dapat terus berkomitmen dalam ESG dan memberikan kinerja yang terbaik,” sebut Sutanto.

Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)