Aset Mantan Sopir Taksi ini Rp500 Juta dari Hasil Investasi Saham

Untara Hadi, 58 tahun, adalah mantan sopir taksi yang berhasil melipatgandakan aset di pasar saham. Dia berinvestasi sejak tahun 2001 dan kini asetnya mencapai Rp 500-an juta dari modal awal sekitar Rp 50-an juta.  “Saya awalnya berinvestasi reksa dana pendapatan tetap di tahun 2001,” ucap Untara. Setiap bulan, Untara memperoleh gaji Rp 1,2 juta. Dia bekerja di PT Primus Indonesia, perusahaan pembiayaan kendaraan bermotor.

Untara Hadi (kanan) menerima penghargaan MOST Award 2016 dari Nicky Hogan, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (Kiri). Untara adalah mantan supir taksi Gamya yang sukses berinvestsi saham. (Foto : Mandiri Sekuritas). Untara Hadi (kanan) menerima penghargaan Most Award 2016 dari Nicky Hogan, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (Kiri). Untara adalah mantan supir taksi Gamya yang sukses berinvestsi saham. (Foto : Mandiri Sekuritas).

Untara bekerja di perusahaan tersebut sejak tahun 1995-2001. Selama bekerja itu, ia menyisihkan penghasilannya untuk disimpan di deposito. Dia mengundurkan diri dari perusahaan pada 2001 saat menjabat sebagai penyelia. Kemudian, Untara menjajal profesi sebagai supir taksi Gamya di tahun tersebut. “Tapi, saya cuma sebentar bekerja sebagai supir taksi. Saya tidak betah karena tidak sesuai keinginan,” tukasnya.

Di periode itu, Untara menjajal investasi reksa dana pendapatan tetap. “Return-nya tidak tinggi,” ungkapnya. Dia mencari informasi dan rujukan mengenai instrument investasi lainnya, yaitu saham. Untara membeli buku mengenai saham dan pasar modal. Dia mempelajarinya dan lama-lama semakin tertarik untuk mencoba investasi saham. “Di tahun 2003, saya menarik deposito dan reksa dana pendapatan tetap untuk dialihkan ke saham. Saya pertamakali membeli saham TINS,” kenang Untara. TINS adalah kode saham PT Timah (Persero) Tbk. Ketika itu,

Untara membuka rekening efek PT Sarijaya Securities.  “Saya membeli TIN di harga sekitar rp 3 ribu. Saya membeli bertahap hingga jumlahnya mencapai 30 ribu lembar Dia menghimpun keuntungan yang cukup tinggi dari peningkatan harga TINS. Untara mengklaim mendapat keuntungan dari TINS sekitar Rp 300 juta di tahun 2003-2008. Keuntungan yang tinggi itu memotivasinya untuk menambah aset di pasar modal.

Dia pun menambah rekening efek di PT Universal Broker Indonesia, PT KDB Daewoo Securities Indonesia, PT Indo Premier Securities dan PT Mandiri Sekuritas antara tahun 2003-2016. “Saya nasabah KDB Daewoo sejak 2014, Indo Premier pada Agustus 2016, Universal Broker tahun 2003, dan di Mandiri Sekuritas sejak tahun 2010,” sebutnya. Sedangkan Sarijaya Securities, Untara telah menutup rekening efeknya pada 2008.

Jumlah saham di Indo Premier sekitar 2 ribu lembar dan KDB Daewoo mencapai 90 ribu hingga 100 ribu lembar. Untara menyebutkan dirinya kepincut saham karena memberikan imbal hasil tinggi. Lantaran demikian, keuntungan yang dipetiknya dibelanjakan untuk membeli saham. Itu merupakan strategi Untara untuk menggelembungkan asetnya. “Saya selalu memutar gain, diputar terus untuk membeli saham untuk trading jangka pendek dan investasi jangka panjang,” katanya.

Saham-saham unggulan dikoleksinya, antara lain PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Selain itu, Untara mentransaksikan saham PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) dan PT Budi Starch & Sweetener Tbk (BUDI). Untara senantiasa mengubah portofolio saham yang dianalisanya dari kondisi keuangan perusahaan, proyeksi bisnis atau aksi korporasi. Tak mengherankan, Untara memburu saham yang melakukan aksi korporasi, seperti right issue. Saya membeli saham PT Wijaya Karya Tbk yang right issue di harga Rp 2.180,” cetusnya. Ia akan menambah jumlah saham yang prospektif. Sebaliknya, saham yang diprediksi turun akan dilepasnya perlahan-lahan. Contohnya saham TINS yang dijual bertahap di tahun lalu dan cukup membukukan keuntungan tinggi dari aksi jualnya itu. “Pada Desember tahun ini jumlahnya sisa 20-an ribu lembar,” tandasnya.

Kini, Untara menikmati masa tuanya dari pasar modal. Dia menyebutkan kebutuhan sehari-harinya diperoleh dari pembagian dividen. Nilainya, “Sekitar puluhan juta rupiah per tahun yang saya peroleh dari puluhan saham yang saya miliki,” ungkapnya. Dia menyebutkan sebanyak 25-30 saham masih digenggamnya di Mandiri Sekuritas. Mayoritas sahamnya itu adalah saham yang terdaftar di Indeks LQ45 yang jumlahnya sekitar 80-90% dari jumlah sahamnya tersebut. Kini, asetnya diklaim Untara setara dengan 2 unit apartemen medium. “Aset saya sekitar Rp 500-an  juta,” tuturnya.

Keberhasilan Untara itu menginspirasi investor ritel lainnya. Dia diganjar penghargaan dari Mandiri Sekuritas yang menggelar MOST (Mandiri Sekuritas Online Trading) Awards 2016 yang digelar pada awal bulan ini. Untara menyabet penghargaan kategori Most Loyal Customer. MOST Awardyangitu Ini adalah ajang penghargaan yang diberika kepada nasabah ritel perusahaan efek itu.MOST Award diklaim sebagai program penghargaan yang pertama untuk nasabah ritel di pasar modal. Kategori penghargaan sebanyak 10 program. Setiap kategori penilaian di setiap kategori berdasarkan pencapaian nasabah pada Januari-November 2016.

Adapun, nilai transaksi rata-rata harian Mandiri Sekuritas pada Oktober 2016 sebesar Rp 230 miliar, tumbuh 35% dari Rp 180 miliar per hari di tahun 2015. Nasabah perusahaan sebanyak 57 ribu nasabah ritel dengan pertumbuhan nasabah aktif harian sebesar 47% persen dibandingkan tahun lalu. (*)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)