Bukan Hanya Kopi, Istilah Latte Pun Ada dalam Keuangan

Ilustrasi aplikasi transfer uang (Foto: Shutterstock).

Apa yang terlintas dibenak kalian ketika mendengar atau membaca kata latte? Hampir semua orang pasti langsung mengasosiasikannya pada salah satu menu olahan kopi. Ya, coffee latte yang terdiri dari campuran kopi, susu, dan krimer yang bercita rasa sedikit manis.

Tahukah Anda bahwa “latte” bukan hanya ada pada menu kopi, melainkan ada juga dalam kamus keuangan?

Latte Factor adalah salah satu kondisi dimana pengeluaran yang nominal dan peruntukkannya untuk hal-hal kecil, tapi karena sering malah menjadi besar. Perencana keuangan Finansialku.com, Yuki Diwinoto, CFP® menjelaskan bahwa konsep Latte Factor ini pertama kali dipopulerkan oleh David Bach, seorang penulis keuangan asal Amerika.

Pada dasarnya, konsep yang diangkat oleh Bach dalam teorinya cukup sederhana, kalimat “latte” diartikan dari kebiasaan ngopi di café atau warung kopi setiap hari yang tanpa sadar lama lama menguras isi kantong. 

Ditambah lagi kini, coffee wave ke-3 sedang melanda Indonesia. Ditandai dengan menjamurnya penjual minuman kopi, mulai dari kios kecil hingga cafe bergengsi. Budaya minum kopi pun memang sudah mendarah daging di negeri ini. Sehingga tidak heran jika seseorang bisa membeli kopi hampir setiap hari.

Lalu apa kaitannya dengan Latte Factor?

Coba bayangkan jika pengeluaran untuk minum kopi dalam sehari sebesar 30.000 rupiah maka dalam sebulan Anda mengeluarkan Rp 900.000 hanya untuk kopi. Ternyata setelah diakumulasi, jumlah yang kita keluarkan untuk segelas kopi sangat besar. Itulah yang dimaksud dengan Latte Factor.

Bukan hanya kopi, ada banyak hal lain yang termasuk dalam konsep ini, misalnya biaya transfer antar bank, belanja barang hanya karena tren, merokok, biaya pesan antar makanan, biaya parkir, dan banyak lainnya.

Meskipun terlihat sepele, namun kalau dibiarkan pengeluaran ini dapat mengganggu stabilitas keuangan kita. Ditambah lagi, jika kita tidak rajin mencatat pengeluaran. Kita bisa saja kehilangan uang kita tanpa tahu penyebabnya.

Maka dari itu, perencanaan keuangan sangat diperlukan guna menghindari kejadian tidak diinginkan seperti ini. dimulai dengan membuat budget atau anggaran selama sebulan. Perhitungkan juga biaya – biaya receh dan pengeluaran yang tidak terduga.Jangan lupa untuk mencatat setiap pengeluaran barang sepeser pun. Dengan begitu, kita dapat memantau kemana perginya uang dan dapat lebih mengontrol diri. Kedisiplinan pun harus ditegakkan guna keberhasilan rencana anggaran. Apabila kita mengikuti cara – cara diatas, diharapkan kita dapat menghindar dari jebakan Latte Factor. (Mutiara Ramadhanti)

Artikel ini diproduksi oleh tim finansialku.com untuk swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)