Investor Diharapkan Berhati-hati

Perekonomian Indonesia sedang mendapat tantangan. Seperti nilai tukar rupiah terhadap dollar US melemah di atas Rp 11.000. Inflasi pun berada di atas 8 persen. Di tahun ini, sekalipun ada pergerakan ke arah yang lebih baik, UBS menaksir ekonomi hanya tumbuh 5,2 persen. Masih banyak hal yang memberatkan, sehingga UBS menyarankan investor untuk berhati-hati.

"Jadi, prinsipnya kami menasehati investor (agar) mereka jangan mengejar pasar," terang Joshua Tanja, Country Head and Head of Indonesian Equities and Research UBS, dalam konferensi pers terkait acara UBS Indonesia Conference 2014 yang berlangsung selama tanggal 25-26 Februari 2014, di Jakarta, Selasa (25/2/2014).

ubs joshua tanja

Joshua menyebutkan bahwa harga saham memang sudah naik cukup banyak sekitar 10 persen. Akan tetapi, investor tidak boleh langsung gegabah dan melakukan aksi beli. Dia pun bilang, akan ada kesempatan membeli yang baik yaitu di kuartal II mendatang. "Masih ada waktu. Jangan sekarang naik, terus dibeli," kata dia.

Terhadap ekonomi negara republik ini, UBS sendiri menaruh sikap hati-hati. Banyak hal yang menjadi dasar UBS melakukan hal itu. Dalam hal ekspor, dia menuturkan, perjalanan menuju pemulihan ekspor tidak mulus. "Kedua, karena kami melihat pertumbuhan deposit ini belum membaik, sehingga (ada) ketakutan atau kekhawatiran bahwa pertumbuhan kredit tahun ini bisa undershoot atau bisa di bawah prediksi Bank Indonesia 15-17 persen. Kalau kami di angka 15 persen. Kecenderungan malah ada kemungkinan di bawah itu. Karena faktor depositnya itu tumbuh belum membaik, malah terus menurun. Itu alasan utamanya," terang Joshua.

Maka dari itu, ia lantas menyarankan agar investor jangan masuk dulu. "Masih ada waktu, bisa lebih murah dapatnya. Tapi, itu kan saya, menyarankannya," ucapnya.

Kenapa investor harus menunggu? Seperti kondisi ekspor memang terlihat bagus belakangan. Bisa dilihat dari surplus pada neraca perdagangan non-minyak dan gas yang melonjak 118 persen di tahun 2013 dari tahun sebelumnya, atau mencapai US$ 8,6 miliar di 2013. Defisit neraca perdagangan secara keseluruhan di tahun lalu pun di bawah taksiran pemerintah, di mana defisit tercatat sekitar US$ 4 miliar.

Investor diharapkan tidak terlena dengan kondisi tersebut. Jangan mengira bahwa masalah ekonomi di Tanah Air telah selesai. Karena, menurut Joshua, berbagai kemungkinan bisa terjadi, misalnya dalam perdagangan yang bisa kembali turun. "Surplus perdagangannya (bisa) terlalu tinggi, (tetapi) mungkin turun lagi," kata dia.

"Menurut saya, (investor) monitor terus pertumbuhan deposit perbankan, monitor terus keseriusan pemerintah termasuk yang sekarang dan nanti, dalam melaksanakan reformasi ekonomi," tegasnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)