Investor Lokal Lebih ‘Melek’ Investasi

Perlahan-lahan investor lokal mulai menunjukkan perannya di pasar modal Indonesia. Hal ini terlihat dari perbandingan porsi investor lokal dan asing pada periode Agustus 2013 berada di kisaran 49:51. Kesadaran masyarakat yang meningkat akan risk and return berinvestasi di pasar modal ditengarai menjadi penyebab dari pertumbuhan tersebut.

BEI akhir tahun

Budi Budar, Fund Manajer PT Samuel Aset Manajemen, menegaskan, saat ini investor lokal telah ‘melek’ investasi di pasar modal. Ini terlihat dari pertumbuhan partisipasi investor lokal secara signifikan dalam dua tahun terakhir, terutama di pasar reksadana saham, hingga mendominasi asing.

“Kita tertinggal dari asing, faktanya apa. Kita jangan meliat fund manajer asing, karena benchmark mereka under perform. Sementara reksadana lokal kita sangat perform dalam dua tahun terakhir. Di Samuel Aset Manajemen, lokal lebih cerdas. Saat indeks turun pada Juni-Agustus, investor kita tidak melakukan redemption, malah tetap subscribe. Jadi mereka take offer saham dan reksa dana yang dijual asing. Volatile indeks sudah biasa bagi investor lokal,” jelas Budi.

Dia mengungkapkan, sejak pembukaan pasar 2013 hingga saat ini, return di portofolio reksadana saham yang dikelola Samuel Aset Manahemen meningkat hingga 24%. “Itu akibat net subscribe yang dilakukan investor lokal.” Dia pun memperkirakan secara indutri, reksadana equity fund mencatat perumbuhan sejajar dengan IHSG yang hingga periode Agustus mencapai pertumbuhan 5,3%.

Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko BEI, Adikin Basirun, menimpali bahwa pertumbuhan investor lokal masih sangat besar, jika dibandingkan dengan potensi langsung dari jumlah penduduk Indonesia yang di kisaran 200 juta jiwa. “Sekarang investor langsung di saham sekitar 400. Makanya kita dorong sosialisasi untuk perkuat struktur lokal. Ini untuk kurangi volatilitas,” ungkap Adikin di kesempatan yang sama.

Namun dia mengamini bahwa investor lokal mulai cerdas. Ketika melihat volatilitas sebagai risiko yang harus diolah investor. Sehingga ketika pasar jatuh, mereka banyak melakukan pembelian, dan banyak investor baru yang masuk ke pasar modal.

“Kalau 2009 investor asing 67%, Agustus 2013 sisa 51%. Ini gambaran bagus. Idealnya 50:50. Ini dampak dari sosialisasi dan pemahaman risiko investasi sudah lebih baik. Ini terlihat sudah banyak yang masuk melalui reksadana dan unit link. Potensi ini terus kita jaga dan kita kejar. Kita harus belajar dari Korea, selain online trading, mobile trading juga harus kita garap,” papar dia.

Penggunaan teknologi yang secara massif menurut Adikin sangat penting untuk membuat pasar modal lebih dalam. Pasalnya, sebaran investor lokal saat ini yang aktif di pasar modal 90% berdomisili di Pulau Jawa. Dan 80% dari itu adalah investor lokal yang bermukim di Jakarta. Maka dari itum, tantangan saat ini memperlaus penyebaran investor di seluruh Indonesia. Salah satunya melalui sosialisasi, juga penggunaan teknologi yang bisa dijangkau oleh investor dimana pun berada.

Namun demikian, Adikin mengingatkan bahwa berkat pemutakiran teknologi di perdagangan bursa saham Indonesia, telah mendorong peningkatan IHSG secara signifikan. “Sejak kita perkenalkan remote trading di 2002, IHSG langsung melesat tajam. The best-nya itu pada Mei 2013 yang sempat sentuk 5.200. Tetapi sebelum itu, IHSG selalu flat.

”Bahkan, sejak 2002, sebut Adikin, Indeks pasar modal telah tumbuh rata-rata di ksiaran 30% per tahun. “Sejak 2002 kita terus tumbuh, keculai 2008 yang sempat turun hingga minus 50% lebih. Selebihnya positif. 2009 saja kembali tumbuh hingga 86%,” pungkas dia.

Menurut dia, yang perlu diperkuat adalah akses informasi secara terpadu dan akurat ke masyarakat, karena informasi merupakan nyawa aktivitas bursa saham. Informasi yang akurat menjadi pemicu masuknya dana masyarakat ke bursa saham. “Ada banyak info beredar, kadang sulit diakses. Maknya kehadiran  IDN Fiancial dan beberapa portal sejenis dengan akses data yang muda dan market friendly bisa membantu investor dan masyarakat untuk semakin melek pasar modal,” tukas Adikin.

Anna Marwiyati, salah satu founding member IDN Financials, menambahkan, sajian data dan informasi serta pemberitaan dengan prinsip ease of access dan user friendly memang sangat dibutuhkan investor. “Selama ini data berceceran, jadi masyarakt bingung untuk membacanya. Kami mengupayakan untuk mengumpulkan informasi dalam satu wadah sehingga masyarakat ataupun investor mudah untuk mendapatkannya secara lebih lengkap,“ ujar dia pada acara soft launching tersebut.(EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)