Kriteria Keuangan Ideal yang Perlu Diketahui Jelang Pernikahan 

Foto: Istimewa/ilustrasi

Pernikahan ideal merupakan impian dari setiap pasangan. Untuk mewujudkannya, maka perlu perencanaan yang matang. Merencanakan pernikahan bukan hanya memerlukan kesiapan fisik dan mental, tetapi juga keuangan.

Aspek keuangan penting untuk dibahas karena menurut Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2021, 30% dari 291.667 kasus perceraian di Indonesia yang tercatat di Pengadilan Agama pada tahun 2020 disebabkan oleh masalah ekonomi.

Masalah yang umumnya ditemukan adalah terkait biaya pendidikan yang terus meningkat ketidakmampuan pencari nafkah mencukupi kebutuhan keluarga, hingga gaya hidup konsumtif yang menuntut peningkatan penghasilan.

Rendahnya tingkat literasi keuangan di Indonesia juga berimbas pada kurangnya kemampuan dalam mengelola keuangan pribadi.

Untuk memastikan apakah Anda dan pasangan sudah siap secara finansial, coba perhatikan beberapa kriteria keuangan ideal jelang pernikahan menurut Perencana Keuangan Finansialku.com, L. Nathania, BBA, CFP® berikut ini:

Ketika sudah ingin membangun keluarga, kita dianggap sebagai manusia dewasa yang dituntut untuk mandiri secara finansial untuk memenuhi kebutuhan pokok sendiri. Hal itu akan terpenuhi apabila memiliki penghasilan yang cukup.

Meskipun standar ‘cukup’ setiap orang berbeda – beda, alangkah lebih baik jika penghasilan tidak hanya cukup untuk biaya pokok saja tetapi juga bisa disisihkan untuk menabung dan investasi.

Tabungan dan investasi yang disisihkan tersebut digunakan untuk mempersiapkan tujuan – tujuan keuangan di masa mendatang, seperti biaya persalinan, pendidikan, tempat tinggal, dan sebagainya.

Jika melihat datanya, beberapa biaya mengalami kenaikan. Seperti data dari Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS) rata-rata kenaikan biaya pendidikan per tahun adalah sebesar 10%-15%. Sementara itu, dilansir dari Rumah.com Indonesia Property Market, kenaikan harga rumah tapak sepanjang tahun 2021 sebesar 4,39%.

Dengan kenaikan biaya tersebut, maka Anda dan calon pasangan harus terus mengusahakan peningkatan penghasilan. Jika mampu meningkatkan kemampuan menabung dan berinvestasi, tujuan keuangan bersama akan tercapai.

Jika memungkinkan, cobalah diskusikan bersama pasangan untuk tidak bergantung pada satu sumber penghasilan saja. Dengan memiliki lebih dari satu sumber penghasilan maka akan dapat meningkatkan porsi tabungan dan investasi per bulan.

Melalui dua sumber pemasukan, harapannya Anda dan pasangan akan lebih siap secara keuangan dan saling bekerja sama dalam mencapai tujuan keuangan bersama.

Setelah siap dari sisi penghasilan, selanjutnya adalah manajemen utang. Pastikan bahwa Anda dan pasangan saling terbuka mengenai utang.

Jika utang setiap bulan sudah menggunung, ditambah peningkatan pengeluaran bulanan, porsi gaji untuk tabungan dan investasi akan semakin tergerus.

Belum lagi kalau memaksakan diri menambah utang dengan mengambil KPR. Bisa-bisa penghasilan bulanan cuma numpang lewat hanya untuk membayar utang, cicilan KPR, dan biaya bulanan,” ujar Nathania

Utang bisa dikatakan terkendali apabila total cicilan utang per bulannya (termasuk cicilan KPR, kartu kredit, kredit kendaraan bermotor, dan sebagainya) tidak lebih dari 35% penghasilan bulanan. Sehingga masih ada 65% penghasilan untuk biaya hidup dan alokasi menabung.

Memiliki tabungan sangat penting dalam kehidupan berumah tangga, hal ini akan memudahkan Anda dan calon pasangan untuk menyiapkan ‘modal’ DP rumah, biaya persalinan, pendidikan, hingga dana darurat.

Dana darurat merupakan cadangan kas yang sifatnya stand by di rekening khusus dan hanya digunakan pada saat kondisi darurat saja. Dalam berumah tangga apalagi ketika sudah memiliki tanggungan dan utang, kemungkinan pengeluaran tak terduga akan lebih banyak.

Sebelum berkeluarga, sebaiknya Anda dan calon pasangan telah memiliki dana darurat masing-masing sebesar 6x biaya pengeluaran bulanan. Nantinya, setelah menikah, targetkan untuk memiliki 9-12x biaya pengeluaran bulanan.

  • yang Baik dan Tanggungan

Salah satu hal yang harus dilihat dari pasangan Anda adalah terkait kebiasaan menggunakan uang (money habit)dan tanggungan keluarga. Kenali betul bagaimana gaya hidup calon pasangan dan bagaimana mereka memperlakukan uang.

Pada beberapa kasus, pertengkaran di keluarga terjadi karena money habit yang berbeda sehingga sulit ditoleransi atau tidak terbuka dengan kondisi tanggungan keluarga.  Jangan sampai  Anda berpikir seseorang akan mudah berubah secara keuangan dari sebelum hingga sesudah menikah. Sebab, mengubah kebiasaan dan kondisi tanggungan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. (Regine Deanaendra)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)