Mengapa Milenial Mudah Terjebak Latte Factor?

Kaum Milenials kini mulai memasuki usai dewasa, beberapa sudah membuka lembaran baru dengan berkeluarga. Masalah ekonomi pun menjadi semakin kompleks.

Bagi yang belum menikah, masih sibuk mencari penghasilan sebanyak – banyaknya untuk masa depan, membayar utang orang tua, menghidupi orang tua, menabung biaya pernikahan atau mulai mencicil aset – aset. Bagi yang telah berumah tangga tengah berjuang mendapatkan KPR atau mencicil mobil. Belum lagi jika sudah memiliki momongan, pengeluaran pun akan bertambah untuk biaya persalinan, kebutuhan anak, persiapan dana pendidikan, dan sebagainya.

Tetapi, tidak dapat dipungkiri bahwa kaum millenial memiliki habit yang sedikit berbeda dari generasi sebelumnya. Dalam fasenya, para milenial dihadapkan dengan perkembangan teknologi yang masif. Perputaran informasi pun semakin cepat dan luas. Sehingga banyak tren – tren baru tercipta yang terkadang terasa seperti memaksa kita untuk terus mengikutinya.

Lihat saja tren coffee shop yang tiba – tiba meledak, salah satu merek smartphone yang dianggap paling keren, sampai yang paling baru tren bersepeda dan hijab plisket. Tidak jarang seseorang menjadi FOMO (fear of missing out) dengan hadirnya tren terbaru, sehingga apapun yang sedang viral diikuti karena takut dicap “ketinggalan zaman”.

Jika Anda berpikir, “ah dari zaman dahulu juga sudah ada tren dan perlombaan tidak kasat mata seperti itu”, kenyataannya dulu kamu hanya akan dicibir oleh mulut tetangga. Berbeda dengan saat ini di mana kamu dapat dilihat oleh seluruh orang di dunia. Jelas beda bukan tekanannya?

Meskipun begitu, tidak semua orang hanyut dalam euforia tren ter-up-to-date. Masih ada orang – orang yang memilih untuk hidup seperti biasanya. Sebenarnya tidak ada yang salah dari mengikuti tren, hanya saja bila dilakukan secara berlebihan dan tidak terkontrol maka akan membawa dampak buruk. Salah satunya, para milenial bisa terjebak dalam “Latte Factor”.

Latte Factor adalah faktor – faktor pengeluaran yang terlihat kecil namun ternyata memberikan efek besar. Efek besar yang dimaksud adalah karena kita terlalu mudah membeli sesuatu tanpa pikir panjang, di akhir bulan kita baru menyadari bahwa keuangan kita boncos.

Sebagian tren ini termasuk dalam Latte Factor, seperti kebiasaan minum kopi di kedai ternama, membeli camilan dessert kekinian dan semacamnya, rajin membeli “racun” influencer, sampai kemalasan kita untuk beli makan sampai harus menggunakan pesan antar. Biaya – biaya yang dikeluarkan untuk hal – hal di atas sebenarnya dapat dipangkas. Selain yang telah disebutkan tadi, masih banyak sekali macam Latte Factor yang tidak disadari.

Ditambah lagi, menjamurnya e-commerce yang membuat kita semakin kalap saat berbelanja. Tidak berhenti sampai disitu, kebiasaan belanja secara berlebihan ini dapat memicu penyakit Compulsive Buying Disorder (CBD) atau gangguan belanja kompulsif, yaitu hasrat tidak tertahankan untuk terus membeli barang. Hal ini tentu mendatangkan pengaruh negatif pada diri dan dan keuangan kita.

Dari penjelasan di atas kita dapat mengetahui bahwa mungkin kehidupan milenial yang terasa sulit bisa saja karena kebiasaan Latte Factor yang tidak disadari dan segera ditangani dengan bijak. Padahal di usia kaum Milenial sekarang ini sangat banyak kebutuhan pokok yang harus segera dipenuhi. Alangkah baiknya jika kita mulai mawas diri dan mulai mengatur keuangan sejak dini. Aplikasi Finansialku menjadi solusi bagi kita yang masih sering kewalahan dalam mengatur keuangan. Fitur pencatat keuangannya dapat kita manfaatkan guna terhindar dari Latte Factor. (Mutiara Ramadhanti)

Artikel ini diproduksi oleh tim finansialku.com untuk swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)