Pentingnya Mengetahui Behavioral Finance Saat Berinvestasi

Investasi betul – betul gambaran roda yang berputar. Di satu masa, investasi bisa menghasilkan keuntungan berlipat – lipat. Namun, di lain waktu bisa mengakibatkan kerugian yang membuat kita meringis.

Investasi tertentu seperti saham memiliki pergerakan yang sangat dinamis. Sehingga tidak jarang kita menemui orang – orang yang panik saat nilai sahamnya melemah. Respon yang diberikan setiap orang pasti berbeda. Beberapa diantara mereka ada yang bergegas menjual sahamnya, namun ada juga yang melihat ini sebagai kesempatan untuk ‘menyerok’ saham sebanyak – banyaknya.

Pengambilan keputusan yang berlawanan ini ternyata dipengaruhi oleh kondisi psikologis sang investor. Perencana keuangan Finansialku, Laurensia Nathania, CFP®, menjelaskan bahwa tindakan tersebut merupakan contoh dari behavioral finance.

Behavioral finance adalah studi yang mempelajari bagaimana faktor psikologi mempengaruhi perilaku/keputusan keuangan. Itulah mengapa ada perilaku investor yang tidak rasional, kontrol diri yang kurang baik, bias serta bias kognitif dan bias emosi.

Bias kognitif adalah penyimpangan, prasangka, atau kecenderungan berpikir berat sebelah/tidak objektif yang dilandasi oleh kesalahan memproses informasi, asumsi umum yang belum tentu akurat, dan menimbulkan kesalahpahaman.

Sedangkan, bias emosi adalah penyimpangan, prasangka, atau kecenderungan berpikir berat sebelah/tidak objektif yang dilandasi oleh perasaan dan spontanitas.

Ketika terjadi bias kognitif maupun emosi disertai pengambilan keputusan yang tidak matang, investor berpotensi melakukan kesalahan dan berujung pada kerugian. Untuk meminimalisasi terjadinya bias saat berinvestasi, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, diantaranya investasi yang terencana,  analisa dan riset, lalu evaluasi portofolio.

Menurut Nia, bukan hanya arus kas yang harus direncanakan, tetapi investasi pun harus dirancang sedemikian rupa agar berjalan optimal. Investasi bukan hanya soal market timing atau sekadar mengikuti saham yang sedang di-pump. Tetapi, seorang investor harus memiliki strategi seperti jangka waktu investasi, kapan harus jual atau yang disebut juga exit strategy, stop loss atau batas kerugian yang bisa ditolerir, dan berbagai strategi lainnya. 

Tujuannya agar investor dapat berpikir rasional dan objektif serta tidak terpengaruh oleh bias-bias. Kemudian, sesuaikan investasi dengan tujuan keuangan. hal ini menjadi pondasi utama dalam merencanakan investasi. Sebab, berbeda tujuan keuangan akan berbeda pula jangka waktu pencapaiannya dan produk investasinya.

Cara yang kedua, melakukan analisa dan riset. Agar terhindar dari bias kognitif, investor harus memiliki pemikiran yang kritis. Mendalami isu terkini dan memantau kondisi pasar juga menjadi tindakan yang harus dilakukan. jangan lupa untuk cross check data dan informasi yang didapatkan agar terhindar dari misinformasi. Selain itu, dalam investasi pun dikenal istilah analisis fundamental dan analisis teknikal yang artinya setiap investor memiliki kewajiban untuk melakukan analisis sebelum membeli.

Terakhir, yang sering luput oleh para investor yaitu mengevaluasi portofolio. Investasi itu bergerak dinamis, maka perlu juga memantau relevansinya terhadap tujuan keuangan. Melalui evaluasi portofolio secara berkala, teman-teman dapat menilai kinerja portofolio apakah masih sesuai dengan target pencapaian tujuan keuangan. Apabila terdapat perubahan dan ketidaksesuaian dalam portofolio, investor dapat melakukan rebalancing portfolio, yaitu strategi mengatur kembali alokasi aset agar sesuai dengan tujuan keuangan. (Mutiara Ramadhanti)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)