Santo Vibby, Andalkan Candle Stick ‘Ajaib’ untuk Trading

Jika ada orang yang hidup dari pasar modal, Santo Vibby adalah orangnya. Trading for living, itulah yang dijalankan oleh pria kelahiran Pekanbaru, 14 Juli 1974 ini. Prinsip dasar Santo dalam berinvestasi adalah memperlakukan trading atau investasi sebagai bisnis.

Sebagaimana berbisnis, ia menerapkan prinsip ‘pengeluaran sekecil mungkin, dan penghasilan sebesar mungkin’ dalam trading di pasar modal maupun forex. Hasil dari trading jangka pendek inilah yang ia alirkan ke investasi jangka menengah dan panjang lainnya seperti reksadana, emas, properti dan sektor riil.

Santo Vibby

Bagi ayah dua putri ini, dunia investasi adalah dunia yang tak terbatas. Tidak hanya tentang saham, obligasi maupun instrumen lain di dalamnya. Santo sendiri mulai mencoba berinvestasi pada tahun 2000. Pertama kali terjun ke pasar modal, ia masih berstatus karyawan di sebuah perusahaan. Tak tanggung-tanggung, ia langsung mencoba bertransaksi saham dengan modal sekitar Rp 50-100 juta. Menurutnya, saat itu ia layaknya orang yang tidak bisa berenang, tapi nekat terjun ke laut. “Hasilnya, ya benjol-benjol, merugi hingga 80 persen dari modal awal saya. Masih mending jika naik turun, saya baru sadar arti sebuah pepatah yang berbunyi 'Only fools test the depth of the water with both feet' dan sayalah si foolish tersebut pada saat itu,” ungkap penulis beberapa buku berjudul When to Buy and Sell Candlestick Can Tell”yang terbilang sangat laris ini diiringi tawa.

Namun, ia tak kapok. Ia terbilang 'ngeyel', terus mencoba dan mencoba hingga babak belur selama 4 tahun, sebelum akhirnya belajar 'berenang' dengan benar di pasar modal. Menurutnya, saat itu masih jarang sekali orang yang mengerti tentang dunia saham, sehingga hampir tidak ada yang bisa mengajarinya soal bagaimana cara yang efektif dalam bertransaksi di pasar modal. Hingga akhirnya tahun 2004, Santo bertemu dengan mentornya, yaitu Soeratman Doerachman yang mengajari tentang cara bertransaksi di pasar modal. Bahkan, Soeratman diakui Santo sebagai ‘ayah finansial’-nya.

Sejak itu. ia mulai bisa menguasai ritme pasar dan membalikkan kerugiannya menjadi keuntungan. Kemudian, ia juga mengatur strategi dan financial management dengan target minimal mengimbangi gajinya sebagai karyawan saat itu, dan ternyata berhasil. Ia lalu berusaha konsisten memperoleh penghasilan dari trading selama 3-6 bulan, dan setelah itu barulah ia berhenti menjadi karyawan dan memulai ‘trading for a living’.

Secara perlahan, hasil dari bisnis saham Santo ini pun berlipat, dan mencapai nilai maksimalnya saat terjadi rally di pasar pada 2007. Hasilnya, krisis ekonomi 2008 tidak begitu mempengaruhi investasi Santo. “Krisis itu predictablekok. Karena, jika kita mengerti tentang perputaran siklus ekonomi dan sejarah krisis ekonomi sebelumnya, maka kita dapat mengantisipasinya sebelum terjebak didalamnya,” ujarnya.

Di 2008, dengan bercermin pada siklus krisis, Santo pun pelan-pelan keluar dari pasar. “Meskipun tetap tergerus di awal, namun modal saya secara total masih positif. Penyusutannya tetap ada, kira-kira hingga 20 persen,” ungkapnya. Di 2008 itu pula ia mengalihkan dananya ke pasar forex. Diakuinya, saat itu hasil yang ia peroleh dari tradingforex terbilang ‘lumayan’, hingga ia mampu membelikan rumah untuk orang tua dan dirinya sendiri. Lalu, saat pasar mulai recovery di 2009, Santo pun kembali ke pasar saham dengan memanfaatkan momentum recovery tersebut untuk melakukan diversifikasi ke properti.

Santo mengaku, dirinya memang bukan ’penggemar’ analisa fundamental. Menurutnya, analisa teknikal adalah short cut dari analisa fundamental, karena dalam analisa teknikal semua tercermin dalam chart, termasuk aspek politik, ekonomi, dan bahkan pengaruh dari bencana. Namun yang perlu diingat adalah disiplin dalam trading saja tidak cukup. Seorang trader harus memiliki strategi.

Dalam hal strategi trading Santo menganut konsep 'trading is simple'. Baginya tidak perlu segala indikator aneh yang 'njelimet' untuk dapat sukses di pasar modal. Ia cukup menggunakan candlestick untuk menentukan entry (buy) dan exit (sell)-nya. “Tentunya ini sangat fleksibel karena nilai kenaikan dan penurunan suatu saham itu berbeda-beda. Sehingga, untuk take profit saya mengikuti sinyal exit dari candlestick yang terbentuk di level berapapun sinyal itu muncul. Demikian juga dengan level proteksi yang saya gunakan,” Santo menerangkan.

Namun, tidak berarti dalam hal trading jangka pendek, Santo ’asal’ saja memilih saham. Ia tetap menghindari saham gorengan, dan lebih memilih saham dengan kapitalisasi pasar yang besar atau setidaknya saham lapis kedua dengan pertimbangan saham-saham big caps itulah yang menjadi penggerak pasar utama. “Harga saham big caps naik, IHSG juga naik. Tapi kalau IHSG naik, saham gorengan belum tentu naik. Saya di saham gorengan, dari 10 attempt, 11 pasti loss,“ ujarnya berkelakar sambil tertawa.

Untuk menentukan target, dan stop loss, karena ini merupakan saham investasi, maka ia kembali ke prinsip bisnis lagi, bahwa aset idealnya tidak dijual. “Jadi, selama masih bergerak naik dan tidak membentuk tanda-tanda pembalikan yang nyata, saya belum akan menjualnya,” tuturnya.

Di forex pun demikian. Bagi Santo, baik di saham maupun forex atau instrumen apa pun yang utama adalah disiplin dan pengendalian risiko, dan tahu kapan untuk cukup dan berhenti. Ia bahkan menilai forex lebih menarik karena trader dapat memanfaatkan pergerakan pasar secara dua arah, naik maupun turun. Selain itu, baginya strategi di pasar forexmarket dapat lebih simpel karena platform-nya yang otomatis dan modal yang dibutuhkan pun sebenarnya tidak besar. “Dengan modal kecil, otomatis risiko kita akan sangat terbatas bukan?“ ujarnya. Ia selalu menerapkan prinsip membatasi risiko sekecil mungkin, dan membuka rewards sebesar-besarnya tanpa harus dibatasi.

Komposisi portofolio investasi Santo saat ini terbagi atas bisnis di sektor riil, saham, reksadana, properti, dan logam mulia, dengan komposisi 30 persen di saham, 30 persen properti, dan sisanya bisnis dan instrumen lain. Dan, untuk trading ia hanya menggunakan sekitar dua pertiga dari angka 30 persen yang dialokasikan di pasar modal tersebut, sisanya sebagai cadangan jika ada peluang bagus di pasar. Menurutnya, dirinya cenderung merupakan trader yang agresif, namun ia selalu menjaga keseimbangan dalam menajemen portofolionya.

Ia mengatakan, return dari seluruh portofolionya ini bervariasi, namun rata-rata berkisar antara 5-15 persen per bulan. ”Paling tidak mengalahkan return dari deposito secara konsisten dalam 1 bulannya. Jika menghitung portofolio investasi dalam jangka panjang atau minimal 1 tahun, mungkin sudah berlipat minimal 2 kali lipat saat ini. “Target saya dalam berinvestasi adalah mengembangkan kolam-kolam investasi saya dan membangun bendungan kesejahteraan yang mampu menciptakan cashflow yang terus berputar,” ungkapnya.

 Alokasi portofolio Santo Vibby

  • 30 % di pasar modal (20 % untuk trading saham dan 10 persen dsimpan sebagai cadangan dalam bentuk reksadana atau instrumen lain)

  • 30% di properti

  • 40 % di bisnis

Return : 5-15% per bulan

 

Strategi investasi:

  • Menjadikan trading sebagai bisnis dengan prinsip pengeluaran sekecil mungkin, dan penghasilan sebesar mungkin.
  • Tetap memilih saham berkapitalisasi pasar besar atau minimal second liner.
  • Disiplin dan mengendalian risiko dengan cara tahu kapan untuk cukup dan berhenti melalui indikator candlestick untuk tentukan saat entry (buy) dan exit(sell).
  • Menggunakan sekitar dua pertiga saja dari yang dialokasikan di pasar modal untuk trading.
  • Mengalokasikan keuntungan dari trading ke instrumen lain seperti properti, emas, reksadana dan bisnis.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)