Adrian Maulana, “Investasi Sesuai dengan Profil Diri”

Adrian Maulana

Bekerja di dunia entertainment dan industri media tidak selamanya menenangkan hati. Biarpun telah menjadi figur publik dan dikenal banyak orang, tetap ada masa-masa galau ketika memikirkan masa depan bidang yang ingar-bingar itu. Hal itu dikatakan Adrian Maulana, mantan pembawa acara di sebuah stasiun televisi sekaligus juga pekerja seni (pemain sinetron) kelahiran Jakarta, 29 Oktober 1977.

Meskipun sudah menikmati kebaikan dari aktivitasnya di dunia hiburan, sedari awal ia mengaku terus mencari-cari kompetensi lain yang disukai. “Kebetulan karena senang dengan investasi, saya memutuskan belajar investasi secara otodidak,” cerita finalis Abang None 1992 ini. “Setiap buku yang masuk dalam kategori investasi, saya beli,” ungkapnya. Ia ingin mengasah kemampuan. Selain membeli buku, Adrian juga getol mencari dan mengikuti seminar di dalam dan luar kota. Walaupun seminar tersebut harganya relatif mahal, baginya tidak ada yang rugi kalau untuk ilmu. “Saya pikir, selain baca buku, seminar juga merupakan cara paling cepat untuk belajar,” ungkap lulusan Teknik Mesin Universitas Trisakti ini.

Mula-mula Adrian berinvestasi di properti. Kemudian, mencoba reksa dana dan saham langsung. Dan, belakangan ia juga mulai mengoleksi emas batangan karena melihat emas lebih ke instrumen lindung-nilai untuk mempertahankan aset dari inflasi. “Emas itu komoditas yang diterima di seluruh dunia. Inilah satu bentuk diversifikasi,” ungkapnya fasih. Menurutnya, prinsip berinvestasi bukan hanya melihat return, tetapi juga harus memperhitungkan risiko. “Risiko itu selalu menyertai dalam kita berinvestasi. Kita tidak boleh meng-nol-kan risiko. Cara mengelola risiko adalah dengan diversifikasi, dengan kita menyebar pada beberapa portofolio,” katanya menjelaskan.

Memang, tidak ada yang kebetulan dalam hidup. Ketika sedang asyik-asyiknya mendalami bidang investasi, tiba-tiba Adrian menerima undangan dari Bursa Efek Indonesia untuk menghadiri presentasi Schroders. Selesai acara, ia mengungkapkan ketertarikannya kepada salah seorang pembicara, Michael Tjoajadi. “Saya ingat, beliau memberikan nasihat, agar saya belajar untuk mengambil lisensi-lisensi pasar modal,” katanya mengenang. Ia pun berangan-angan, siapa tahu suatu hari nanti dapat bekerja di dunia pasar modal.

Anjuran Michael ia lakukan. Adrian mengambil ujian-ujian pasar modal. Karena tekadnya besar, dengan mudah ia mendapatkan sertifikat berturut-turut, mulai dari menjadi broker dealer sampai akhirnya berhasil memiliki lisensi sebagai wakil manajer investasi/fund manager. “Itu adalah lisensi yang sangat sulit untuk didapatkan dan hanya beberapa orang Indonesia yang bisa memiliki lisensi itu,” kata Adrian bangga.

Setelah memiliki semua sertifikat, Adrian berniat banting setir, bergabung dengan Schroders. Namun, saat itu ternyata tidak memungkinkan. Barulah setelah beberapa tahun kemudian, ia mendapat kesempatan ikut proses seleksi. “Meskipun sebenarnya saya nothing to lose, keluarga sangat berharap,” ungkapnya. Ia bersyukur karena lolos seleksi dan mulai bergabung sebagai profesional di Schroders pada 20 Juni 2016.

Mendapat posisi sebagai Senior Vice President Intermediary Business PT Schroders Investment Management Indonesia, tugas Adrian cukup berat. Pertama, menjual produk investasi dan mencapai target penjualan yang ditentukan oleh manajemen. Kedua, mengenalkan produk investasi kepada masyarakat Indonesia. “Ini menjadi tantangan sekaligus kenikmatan karena ada lebih dari 260 juta penduduk Indonesia, tetapi kurang dari 1% yang sudah menjadi seorang investor reksa dana,” ungkapnya percaya diri. Ketiga, menjaga hubungan baik dengan konsumen. Keempat, mencari pasar yang baru atau membuka pasar yang baru. Dan kelima, menjaga reputasi dan nama baik perusahaan.

Adrian menyadari, latar belakang sebagai artis memang akan menjadi beban tersendiri. “Di sini, sekarang dalam diri saya sudah membawa image perusahaan besar sehingga setiap tindak-tanduk saya harus saya sesuaikan dengan budaya dan aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh perusahaan,” katanya tahu diri.

Menurut ayah dua putri ini, meski sudah menjelang tiga tahun bergabung dengan Schorders, ia tetap harus terus meningkatkan skill dan kompetensi dari hari ke hari. Pasalnya, teman-teman di lingkungannya adalah orang-orang yang sangat profesional dan rata-rata lulusan luar negeri yang memiliki lisensi Chartered Financial Analyst. “Saya harus terus belajar. Saya harus banyak bertanya, berdiskusi, untuk meningkatkan kemampuan saya dalam bidang investasi,” katanya.

Seperti diketahui, Schroders adalah perusahaan manajemen aset dan private banking group internasional yang independen, dengan pengalaman lebih dari 200 tahun di bidang jasa keuangan. Schroders mengelola investasi dalam berbagai kelas aset di negara maju dan negara berkembang: hedge funds, ekuitas dan surat utang, pasar uang, private equities, serta properti.

Schroders hadir di Indonesia sejak 1991 dan menjadi pengelola aset terbesar saat ini. Sampai akhir Juni 2019 telah mengelola Rp 83 triliun dana masyarakat. “Itu yang membuat sangat selektif orang-orang yang bisa bergabung di sini,” ungkap Adrian yang juga melalui proses seleksi ketat yang memakan waktu lebih dari dua bulan hingga benar-benar final. Beruntung, ia sangat berhasrat dan sudah menjadi pelaku investasi sejak 2007. “Pengalaman selama sembilan tahun ternyata menjadi nilai tambah, karena waktu itu saya tidak hanya di-interview di Indonesia, melainkan sampai ke tingkatan regional di Singapura. Bahkan, untuk mendapatkan approval-nya itu sampai ke kantor pusat yang ada di London,” cerita suami Dessy Ilsanti ini.

Tantangan Adrian tentu saja adalah membuktikan kepada banyak pihak bahwa ia mampu men-delivery apa yang sudah dicanangkan. Kepada perusahaan, ia harus bisa menyesuaikan dan beradaptasi dengan lingkungan kantor. “Sekarang saya harus bekerjasama dalam tim. Ada argumen-argumen di dalamnya, belum tentu pendapat saya yang paling benar. Saya harus mendengar pendapat orang dan harus mau menerima masukan, kritik, dan saran dengan lebih berbesar hati,” kata Adrian panjang lebar. Baginya, tidak ada ambisi untuk mendapatkan posisi tertinggi. “Saya sudah banyak lebih melihat ke arah yang sifatnya spiritual. Jadi, saya ingin menjalankan pekerjaan itu yang berkah,” lanjutnya.

Diakuinya, sebagai mantan pekerja seni, masih banyak hal yang harus diubah di lingkungan baru. Misalnya, bagaimana sekarang harus meredam sikap yang cenderung ekspresif. “Kalau dulu artis itu lebih apa adanya, kalau di sini sudah tidak bisa seperti itu,” ujarnya sambil tertawa. Yang pasti, tindak-tanduk harus disesuaikan sebagai keluarga Schroders.

Bagi Adrian, yang penting adalah ia menjalani pekerjaan ini dengan kesadaran penuh. “Saya menjalani pekerjaan ini juga bukan karena keadaan, bukan karena keterpaksaan, tapi karena passion,” katanya menegaskan. Dan setelah menjalaninya, ia pun menyadari bahwa ternyata ia tipe orang yang senang bekerja sesuai aturan. “Saya senang apabila ada aturan-aturan yang menjaga, yang mengatur, dan yang membuat saya baik, asal tinggal mengikuti saja apa yang sudah ditetapkan,” ungkap Adrian yang mengaku nyaman memulai babak baru sebagai seorang profesional.


Kepada mereka yang ingin mengikuti jejaknya, Adrian berbagi tip investasi. Pertama,
cashflow harus positif. Jangan lebih besar pasak daripada tiang, jangan lebih besar pengeluaran daripada pemasukan. Caranya? Sesuaikan gaya hidup dengan profil diri. Jangan memaksakan dan jangan termakan gengsi menyesuaikan dengan gaya hidup orang lain. Selain itu, dengan membatasi pengeluaran serta meningkatkan pendapatan, hasilnya akan lebih baik.

Kedua, harus siapkan terlebih dulu dana darurat. Artinya, dana yang bisa diambil sewaktu-waktu. “Jangan dulu mikirin investasi kalau belum ada sebagian dana yang sudah dicadangkan,” demikian sarannya. Ketiga, utang-utang harus dibereskan sebelum berinvestasi. Keempat, seperti pepatah sedia payung sebelum hujan, maka dalam hal ini harus memiliki proteksi sebelum berinvestasi.

Intinya, berinvestasi yang terbaik adalah berinvestasi yang sesuai dengan diri kita. Apakah cenderung konservatif, moderat, atau agresif, semua ada pilihan produknya, berpulang ke profil masing-masing. Mengapa? Karena, kita harus menyesuaikan risiko dengan profil risiko setiap orang. “Orang yang konservatif jangan dipaksa ambil reksa dana berbasis saham yang memang volatile,” Adrian mencontohkan. Sebaliknya, seseorang yang agresif jangan masuk ke pasar uang yang sangat konservatif yang imbal hasilnya seperti layaknya deposito, tidak akan optimal. Pendeknya, saran Adrian bagi para pemula, sebelum berinvestasi, harus membuat tujuan yang jelas. Sebab, banyak orang yang gagal berinvestasi karena tidak tahu apa tujuannya berinvestasi.

Kalaupun membutuhkan manajer investasi, carilah yang dapat dipercaya. Adrian menyarankan, sebelum turun ke lapangan, akan lebih baik belajar. “Jangan beli kucing dalam karung, belajar, banyak bertanya, banyak membaca,” ia menyarankan. Ia pun mengingatkan, sekarang zaman sudah canggih. Jangankan tatap muka, yang tidak tatap muka pun orang bisa tertarik, tergiur melalui pinjaman online atau investasi ke perusahaan online. “Jadi, kita tetap perlu menjaga kehati-hatian. Salah satu yang terbaik adalah kita bisa bertanya, kita bisa mengecek legalitasnya di OJK (Otoritas Jasa Keuangan),” katanya.

Apabila investasi sudah berjalan, Adrian mengingatkan agar mengevaluasi secara berkala. Sebab, belum tentu pihak tempat kita berinvestasi akan baik setiap saat. “Kita harus cepat tanggap dan dinamis untuk melihat perubahan-perubahan yang mungkin terjadi,” ujarnya tandas. Yang terakhir, ia menyarankan, kalau mau sukses berinvestasi, kuncinya adalah disiplin dengan perencanaan yang telah dibuat di awal. (*)

Dyah Hasto Palupi/Vina Anggita

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)