Amir Sidharta: Investasi Juga Bisa di Karya Seni

Sejak tahun 2006 terjadi peningkatan pesat dalam dunia seni kontemporer global, terutama di pasar Asia. Seni tersebut menular tak terkecuali ke Indonesia. Contoh, salah satu lukisan Putu Sutawijaya mampu terjual Rp 600 juta, jauh dari estimasi awal yang hanya Rp 40 juta. Setahun berikutnya karya I Nyoman Masriadi “Sudah Biasa Ditelanjangi” terjual Rp 5 miliar!

Setelah krisis ekonomi tahun 2008, penjualan seni kontemporer sempat lesu. Namun, tahun 2010-2011 muncul suatu gerakan baru. Karya Affandi “Ayam Jago" terjual Rp 4 miliar, selanjutnya karya Hendra Gunawan laku Rp 7 miliar. Secara global, pasar seni juga kembali bergairah dengan munculnya lukisan termahal di dunia senilai Rp 1,1 triliun yakni karya Edward Munch berjudul “The Scream”.

Kondisi di atas menunjukkan bahwa investasi untuk mengelola keuangan ternyata tidak hanya terpatok pada investasi saham, properti maupun emas. Investasi pada seni ternyata cukup menjanjikan. Kepada Reporter SWA, Direktur Sidharta Auctioneer, Amir Sidharta, menjelaskan, tentang peluang investasi di bidang seni beserta risikonya.

Menurut Sidharta, peluang seni di indonesia masih sangat terbuka. Pemainnya hanya berkisar ribuan orang saja. Kebanyakan orang di sini hanya menumpuk lukisan di gudang, tanpa berpikir tentang investasi. “Padahal kalau dipajang, dipamerkan, dijual, financial gain-nya,” ujar Sidharta.

Yang lebih unik dari investasi ini adalah selain keuntungan peningkatan harga dari karya seni, ada tambahan lagi yaitu nilai tambah artistik. “Jadi ada keuntungan ganda,” kata pria yang telah menerbitkan beberapa buku tentang perupa Indonesia, di antaranya S. Sudjojono Visible Soul, Vibrant Arie Smit, Erica Art's Most Playful Child dan buku tentang arsitektur kontemporer Indonesia, 25 Tropical Houses in Indonesia.

Nilai artistik yang dimaksud Sidharta adalah karya seni yang baik selalu memiliki makna. Sebagai contoh, lukisan yang bisa menjadi motivasi hidup atau lukisan bunga yang bisa membahagiakan hati.

Risiko Investasi Barang Seni:
Ada peluang untung, tentu ada risiko yang terkandung. Apa saja risiko dalam berinvestasi di bidang seni? Sidharta mengatakan risiko yang paling sering terjadi adalah membeli lukisan palsu. Untuk itu, investor wajib menambah pengetahuannya tentang karya-karya seni.

Risiko yang kedua adalah membeli di saat yang salah, yaitu saat harga sudah mahal. “Untuk itu kita harus mengukur kemampuan. Saat ini banyak lukisan dengan harga-harga menengah yang berpotensi naik di kemudian hari. Jangan lupa untuk mengikuti perkembangan pasar supaya tahu naik turunnya harga.” Selain itu ada pula risiko yang datang dari faktor eksternal yakni naik turunnya harga karya seni dipengaruhi juga oleh kondisi perekonomian.

Sejauh ini fokus investor seni di Indonesia sebatas pada nama-nama tertentu seperti Affandi dan Basuki Abdullah. Namun harapan muncul ketika mulai terjadi peningkatan minat kelas menengah terhadap karya-karya seni. “Investor menengah sudah mulai tertarik, namun perlu ditingkatkan lagi," dia menambahkan.

Melihat pasar seni yang mulai bergeliat lagi, Sidharta berharap pemerintah memberikan dorongan lebih seperti pembangunan museum. Dukungan dari media melalui pemberitaan juga sangat dibutuhkan.

“Indonesia ini sangat miskin museum, sangat menyedihkan. Media-media di sini juga sudah tidak seperti dulu, pemberitaan seni dulu seperti life style. Saya juga tidak mengerti kenapa media saat ini malas menulis seni,” tutur pria lulusan arsitektur di University of Michigan, Ann Arbor, Michigan, dan lulusan Permuseuman di George Washington University, Washington, DC, Amerika Serikat itu. (Lila Intana/EVA)

Leave a Reply

1 thought on “Amir Sidharta: Investasi Juga Bisa di Karya Seni”

Kedapa yth :Bpk Amir Sidharta Bersama surat ekektronik ini saya simon Arends, ingin bertemu secara 4 mata dengan bapak Amir seraya ingin membicarakan karya lukis bapak mertua saya Noordono, Noordono lahir thn 1927, memulai karir sebagai seorang tentara tepatnya TNI AU, pada thn 1950 dengan pangkat sersan mayor dan pensiun pada tahun 1985 dengan pangkat letnan kolonel.orang tua saya ini adalah maestro lukis pesawat tempur maupun pesawat angkut militer karyanya sudah ratusan bahkan keluar negeri, karya lukis pesawat telah memenuhi tempat-tempat penting di TNI, mulai dari mabes ABRI, sampai museum satria mandala museum dirgantara Adisucipto,hampir sebagian mantan jenderal semua kenal Noordono,permasalahan yang ingin sy bicarakan dengan pa Amir menyangkut karya lukis biasa yang bukan pesawat, karena pa Amir berkecimpung pada dunia seni lukis maka tepatlah menurut saya berbicara dng Bapak.cita cita orang tua saya yang terahir Dia hanya ingin diakui sebagai pelukis Indonesia seperti,Afandi,Bazuki,tidak belebihan kalau kita melihat lukisannya saya rasa bisa disejajarkan dengan, Basuki, S. sudjojono, dan pa Amir lukisan dengan obyek selain pesawat tidaklah sebanyak pelukis lain sebab semasa hidupnya dia berbakti untuk nusa dan bangsa, besar sekali harapan saya agar bapak Amir bisa membantu kami atau paling sedikit memberi saran,bagaimana hingga lukisan karya orang tua saya ini bisa dikenal masyarakat Indonesia, khususnya para pecinta seni, dan saya juga berkeinginan sekali bertemu bapak secara langsung karena saya ingin bawa beberapa referensi, tentang orang tua saya ini, Dia adalah yang menciptakan lambang lambang skadron TNI AU maupun lambang Piaardiyagarini, sekian dan terima kasih.
by Simon Arends, 04 Aug 2012, 18:44

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)